Page 384 - Perdana Menteri RI Final
P. 384
dunia, dan mewujudkan kemakmuran serta Tenggara yang baru merdeka untuk menjadi banyaknya masalah harus diatasi terlebih dahulu
kesejahteraan yang sedang berkembang. Dalam kekuatan efektif baru dalam urusan dunia. Karena untuk dapat melangsungkan konferensi semacam
hal ini, menurut Ali Sastroamidjojo, perdamaian terdorong oleh perkembangan situasi di Asia itu baik dari segi teknis, juga politis terutama
dunia hanya akan tercapai jika jurang pemisah Tenggara yang kian memanas dengan adanya yang berhubungan dengan besarnya keragaman
antara negara-negara industrialis dengan krisis Vietnam, Indonesia mengusulkan untuk sikap politik luar-negeri negara-negara yang
negara-negara yang sedang berkembang dapat memasukan masalah Vietnam dalam agenda akan diundang.
ditiadakan. 75 pembahasan. Indonesia juga mengusulkan untuk
Respon dari para delegasi lainnya tidak
melaksanakan konferensi yang akan dihadiri
Kesuksesan penyelenggaraan KAA, dan menyurutkan niat Ali Sastroamidjojo yang
kepala pemerintahan Mesir, Pakistan, India,
kemudian bagaimana konferensi ini memiliki tetap ingin melaksanakan gagasannya hingga
Burma, Srilanka untuk membicarakan situasi di
pengaruh besar bagi politik global menjadi pada akhirnya, ia berhasil meyakinkan para
Vietnam dan Afrika Utara. Empat hari sebelum
salah satu kontribusi dan legasi terpenting dari peserta lainnya. Bahkan kemudian pertemuan
konferensi dimulai, usulan untuk memasukan
Ali Sastroamidjojo. Menyitir keterangan Jürgen ini menyatakan menerima baik sebuah usul
krisis Vietnam sebagai agenda pembicaraan
Dinkel, KAA disebut oleh harian di Jerman 77 bahwa Perdana Menteri Indonesia akan Poster Konferensi Asia Afrika
diterima.
sebagai bukti yang meyakinkan ‘kemerdekaan menyelidiki kemungkinannya. Meskipun
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
negara-negara baru ketimbang semua dokumen Dalam prosesi keberangkatannya menghadiri demikian, tidak dapat dipungkiri kesepakatan
resmi, statuta, dan konstitusi yang telah Konferensi Colombo yang dihelat di lapangan ini masih menyisakan keraguan terutama
76
ditandatangani sejauh ini”. Lebih dari itu, terbang Kemayoran, Ali Sastroamidjojo menyangkut kemampuan Indonesia, yang KAA di Bandung hanyalah strategi politik
KAA menjadi “momen” penting bagi diplomasi menjelaskan di hadapan para pewarta bahwa salah saat itu berada dalam kondisi yang serba tidak pencitraan oleh pemerintah yang berbiaya mahal
internasional abad ke-20 yang sekaligus satu misinya adalah untuk menggalang dukungan stabil baik secara ekonomi maupun politik, untuk menutupi berbagai kelemahan maupun
menegaskan tampilnya negara-negara bekas untuk penyelenggaraan konferensi yang lebih untuk menyelenggarakan konferensi besar yang kegagalannya. Meskipun demikian, pemerintah
jajahan dalam kancah politik internasional pada luas yang menghadirkan negara-negara Asia dan mempertemukan negara-negara dari benua Asia berhasil meyakinkan parlemen akan arti penting
masa itu dengan mengusung gerakan-gerakan Afrika. Gagasan ini memperoleh kesempatan dan Afrika. penyelenggaraan KAA bagi Indonesia dan
antikolonial yang dampaknya bisa bertahan untuk diperdengarkan pada sesi keenam perdamaian dunia. Bahkan, dua partai oposisi
Konferensi Colombo. Ali Sastroamidjojo yang Sejumlah keraguan juga muncul dari dalam kemudian turut serta mengirimkan wakilnya
lama.
mewakili Indonesia menyodorkan ide mengenai negeri. Berbagai kalangan meragukan kesiapan yakni PSI dan Partai Katholik yang menunjuk
Gagasan penyelenggaraan KAA tercetus untuk Konferensi Asia-Afrika yang “sama hakekatnya pemerintah untuk menyediakan fasilitas dan Sudjatmoko dan Sutarto Hadisudibjo. 78
pertama kalinya dalam Konferensi Colombo yang dengan konferensi sekarang ini, tetapi lebih luas mencukupi seluruh kebutuhan KAA mengingat
dihelat atas inisiatif Perdana Menteri Sri Lanka jangkauannya dengan tidak hanya mencakup waktu itu fasilitas yang dimiliki Indonesia Kekhawatiran akan gangguan keamanan selama
John Kotelawala di Kandy, Sri Lanka pada 1954. negara-negara Asia tetapi juga negara-negara masih terbilang minim. Selain itu, banyak penyelenggaraan konferensi ini tidak pernah
Konferensi Colombo yang mempertemukan lima Afrika lainnya”. Bagi Ali Sastroamidjojo KAA pula pandangan yang juga mengkhawatirkan terbukti. Begitu juga dengan kekhawatiran
negara yang dikenal sebagai “Colombo Powers”, dapat diselenggarakan dengan sponsor dari kondisi keamanan dalam negeri yang kala itu lainnya. Nehru yang memperoleh laporan dari
yakni Burma, Indonesia, India, Sri Lanka, dan Colombo Powers, dan Indonesia akan siap masih belum stabil karena kerap memperoleh duta besarnya di Jakarta tentang sejumlah
Pakistan—di Colombo mulanya dirancang menjadi tuan rumahnya. Gagasannya tidak gangguan dari kelompok-kelompok bersenjata. kendala yang dihadapi penyelenggara KAA
sebagai pertemuan yang bersifat informal— langsung diterima oleh para peserta lainnya. Ada juga komentar-komentar tajam yang sempat meminta Mohamad Jusuf untuk
sebagaimana saran tuan rumah pertemuan ini— U Nu dan Moh. Ali tampak ragu-ragu tetapi menjadikan gagasan Perdana Menteri ini sebagai memberikan asistensi teknis kepada Indonesia.
dan tidak memiliki agenda pasti kecuali untuk tidak berani menolak secara terang-terangan. bahan kritik bagi pemerintah. Kelompok oposisi Salah satu usulannya ialah membangun
memperlihatkan sebuah blok negara-negara Asia Nehru merespon dengan lebih skeptis mengingat menuduh bahwa gagasan untuk menghelat perkemahan berukuran besar di alun-alun untuk
372 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 373

