Page 379 - Perdana Menteri RI Final
P. 379

kemudian, tepatnya pada 16 November, Lubis   provinsi-provinisi  otonomi  meliputi  Aceh,   mereka merasa terancam dengan program ‘tour   pembangunan di daerah. Dewan ini dipimpin
 mencoba melakukan upayanya yang kedua   Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan   of duty’ Nasution, seperti dalam kasus Simbolon   oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein yang

 dengan menggerakan satuan-satuan Divisi   Kalimantan Timur.   yang dilaporkan menerima uang sekitar 50 juta   berhasil melakukan pengambilalihan kekuasaan
 Siliwangi dibawah komando Mayor Djaelani.   dari kegiatan illegal—dimana ia sendiri juga   sipil dari Gubernur Ruslan Muljohardjo. Karena
 Pada 1 Desember, Moh. Hatta secara resmi
                            65
 Rencananya pasukan ini akan bergabung dengan   mengakuinya.  Terkait dengan praktek-praktek   masalah ini memiliki banyak kaitan yang pelik—
 mengundurkan diri setelah sebelumnya pada
 satuan-satuan AD dari Komando Jakarta Raya   illegal itu, pihak oposisi tidak bersuara keras   termasuk juga kuatnya pengaruh Masyumi di
 pertengahan Juli, ia bersurat ke DPR untuk
 pimpinan Mayor Djuhro Sumitradilaga untuk   melainkan  mengalihkan isu tersebut  untuk   Sumatra Tengah, pemerintah mengambil sikap
 meminta berhenti dari jabatannya sebagai
 menangkap para menteri dan tokoh-tokoh   menyerang pemeritah dengan mengatakan   berbeda dengan yang diterapkan kepada Kolonel
 Wakil Presiden. Terkait dengan sikapnya ini,
 lainnya.  Hanya saja, karena  kegagalan Djuhro   bahwa banyaknya penyelundupan disebabkan   Simbolon.  Untuk mengatasi persoalan ini, Ali
                                                                        67
 Hatta, sebagaimana dituliskan dalam suratnya,
 menggerakan pasukannnya, usaha kudeta yang   oleh kegagalan pemerintah dalam memeratakan   Sastroamidjojo menekankan ‘pendekatan yang
 menyatakan bahwa setelah DPR dan dewan
 dikenal dengan peristiwa ‘16 November’ tersebut   pembangunan, dan pusat menganaktirikan   bijaksana’.
 konstituante hasil pemilu terbentuk, maka jabatan
 gagal dilaksanakan. Sejumlah perwira yang   daerah.
 61
 terlibat dalam aksi ini kemudian ditangkap dan   wakil presiden tidak lagi diperlukan.  Spekulasi   Sebelum persoalan Dewan Banteng rampung,
 dipecat. 59  atas pengunduran diri ini bermunculan, sejumlah   Pada 22 Desember, Kolonel Simbolon yang   pemerintah juga dihadapkan pada munculnya
 pihak mentafsirkan peristiwa ini adalah puncak   mengambil kembali komando Territorium I   kasus serupa di Sumatera Selatan. Tokoh penting
 Tidak berhenti sampai di situ saja, persoalan   ketidakcocokan  Dwi-tunggal.  Akan tetapi,   Bukit  Barisan mengumumkan situasi wilayah   dalam gerakan ini adalah Letkol Barlian panglima
 62
 pergereran perwira ini melebar pada persoalan   banyak pula kalangan, terutama penentang   kekuasaannya dalam keadaan perang dan   setempat yang memiliki kaitan dengan Simbolon
 lain yakni menyangkut hubungan pusat-daerah.   pemerintah, yang mengkaitkan pengunduran   bahaya. Simbolon juga menyatakan bahwa untuk   dan Ahmad Husain mengambil langkah politik

 Berkembang pula desas-desus spekulatif yang   diri Hatta sebagai bentuk dari semakin buruknya   sementara  waktu  wilayahnya  putus  hubungan   serupa dengan keduanya untuk menentang
 mengkaitkan persoalan pergesieran perwira ini   hubungan  pusat-daerah,  bahkan  tuduhan  yang   dengan pemerintah pusat, dan tidak lagi mengakui   pemerintah. Hanya saja Barlian menempuh
 dengan ketidaksenangan Ali-Nasution (Jawa-  lebih jauh lagi: Jawa dan non-Jawa . 63  pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo. Hanya   cara yang lebih halus dengan mempergunakan
 pusat) kepada Simbolon-Lubis (Sumatera-
               saja, Djamin Ginting yang saat itu merupakan    pengaruhnya  atas  Gubernur  Winarno  untuk
 daerah). Sentimen primordial yang didasarkan   Sejak Desember 1956, situasi politik menjadi
               wakil Simbolon tidak sepakat dengan manuver     melawan pusat, misalnya dengan melarang bank
 pada  asal  etnis-kultural semacam ini dengan   semakin buruk yang ditandai oleh munculnya   politik yang mempertentangkan pusat-daerah.   untuk mencairkan uang tanpa izin gubernur, dan
 mudah menyebar, terutama dengan memperoleh   dewan daerah di sejumlah tempat dan   Dalam waktu singkat, pasukan Djamin Ginting   melarang orang keluar daerah dengan membawa
 dukungan dari oposisi yang kerap mengangkat   perpecahan di dalam tubuh kabinet. Selain   dapat memaksa Simbolon dan pasukannya   uang melebihi Rp.5000,- untuk satu keluarga.
 60
 sentiment anti-Jawa.  Pada saat bersamaan di   menurunnya kepercayaan para elit daerah
               melarikan diri ke Tapanuli.                     Tindakan  ini  disebut  oleh  Ali  Sastroamidjojo
 tahun 1956, ikatan-ikatan etnis memang kembali   terhadap pemerintah pusat pasca pengunduran      68
                                                               sebagai ‘menguasi daerah dari belakang’.
 64
 menguat dengan dibentuknya organisasi-  diri Hatta,  persoalan hubungan pusat-daerah   Berbagai tentangan dari daerah tidak hanya
 organisasi kedaerahan  yang dibarengi dengan   yang memburuk ini juga terkait erat dengan   melibatkan perwira militer namun juga menyeret   Persoalan-persoalan yang muncul di daerah
 semakin banyaknya tututan daerah untuk   distribusi kesejahteraan dimana daerah telah   penguasa sipil seperti yang terjadi di Sumatera   dengan melibatkan perwira dan penguasa sipil
 berbagai bidang kepentingan. Pada sisi lain,   banyak  menyumbangkan  devisa namun  tidak   Tengah dan Sumatra Selatan. Pada 20 Desember,   berimbas langsung terhadap kabinet. IPKI yang
 alasan yang mempertentangkan pusat dan daerah   memperoleh timbal balik yang pantas. Ali   mantan Panglima Divisi IX Banteng, Kolonel   memiliki satu dalam kabinet memilih menarik
                                                         66
 ini menarik karena pada waktu itu kabinet Ali-  Sastroamidjojo sendiri melihat faktor lain yang   Ismail Lengah, memprakarasi ‘Dewan Banteng’.    wakilnya, Dahlan Ibrahim—mantan komandan
 Roem-Idham juga berhasil menciptakan langkah   turut berperan dalam memperumit masalah itu   Pembentukan dewan ini dipicu oleh adanya   Divisi Banteng—yang saat itu menjabat sebagai
                                                                                              69
 penting yang mengatur hubungan pusat-daerah   yakni adanya keterlibatan para pemimpin tentara   penciutan divisi Banteng, masalah keuangan   Menteri  Negara  Urusan  Veteran.   Keluarnya
 melalui rancangan undang-undang otonomi.   di daerah dalam aktivitas penyelundupan yang   yang menyangkut buruknya kesejahteraan   IPKI dari kabinet pada 26 Desember tidak
 Bahkan pemerintah juga berhasil membentuk   memang marak waktu itu. Oleh karenanya,   prajurit;  dan  tidak  adanya  pemerataan  terlalu  berpengaruh  bagi  pemerintah  karena





 366  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  367
   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384