Page 380 - Perdana Menteri RI Final
P. 380
partai ini hanya memiliki empat wakil di DPR. dari Barat, yang terbukti tidak sesuai dengan familie aan tafel: alle leden van de vamilie aan Samuel yang menjabat sebagai Panglima
Hanya saja, keluarnya IPKI dari koalisi menjadi iklim politik Indonesia. Oleh karenanya, de eettafel en aan de werktafel” (Semua adalah Teritorium VII mengumumkan keadaan
awal dari perpecahan di tubuh kabinet Ali- Sukarno memandang perlunya untuk kembali anggota keluarga di meja: semua adalah darurat perang untuk seluruh wilayah
Roem-Idham. pada bentuk demokrasi asli yang sesuai anggota keluarga di meja makan dan di meja kekuasaannya di Ujung Pandang (Makasar).
dengan karakter bangsa Indonesia, dimana kerja) tanpa pengecualian bagi siapapun. Bersamaan dengan itu, diumumkan pula
73
AKHIR KABINET ALI II DAN LAHIRNYA partai-partai dapat duduk bersama untuk Kedua, perlunya dibentuk Dewan Nasional Piagam Perjuangan Semesta (Permesta) untuk
DEMOKRASI TERPIMPIN menyelesaikan masalah, dan bukannya yang mewakili seluruh golongan fungsional wilayah Indonesia bagian timur. Secara teknis,
melakukan oposisi. Dalam suatu rapat umum yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini, gerakan ini mengambil alih otoritas sipil di
Perpecahan di tubuh kabinet tidak dapat
di Bandung yang dihelat pada awal 1957, Dewan Nasional adalah representasi dari Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Gerakan
diselamatkan lagi setelah Masyumi yang
Sukarno lebih tegas menyatakan bahwa ia rakyat, sedangkan kabinet adalah representasi Permesta kemudian menyatakan bergabung
melakukan konggres pada akhir Desember
akan mengintervensi pemerintahan untuk dengan PRRI yang pembentukannya telah
memutuskan untuk menarik seluruh menterinya dari parlemen.
71
dari kabinet. Saat M. Roem menyampaikan menghentikan segala kekacauan. Sukarno diumumkan terlebih dahulu pada 15 Februari.
beralasan tindakan ini diperlukan atas dasar Tanggapan atas konsepsi yang diajukan
keputusan Masyumi kepada Perdana Menteri, Bagi Ali Sastroamidjojo, kondisi politik
Ali Sastroamidjojo menyatakan kekecewaannya pertimbangan kondisi yang berkembang saat Sukarno tidaklah begitu baik terutama saat itu sudah tidak lagi memungkinkannya
dengan mengatakan bahwa keluarnya Masyumi itu dimana terjadi pepecahan dan kekacauan menyangkut gagasan yang pertama tentang
pembentukan kabinet yang mengikutsertakan untuk memimpin pemerintahan. Di samping
dari pemerintahan adalah suatu kesalahan politik, serta ia juga mengkhawatirkan
semua partai. Gagasan ini hanya memperoleh situasi semakin memburuk dengan munculnya
yang akan memuluskan langkah PKI, karena bahwa tentara akan mengambil alih jika kekuatan anti pemerintah di berbagai daerah,
yang mereka incar adalah pecahnya koalisi kegaduhan poitik tidak segera ditemukan dukungan dari PKI, PNI, Murba, Baperki,
PNI-Masyumi. Perpecahan ini menyebabkan penyelesaiannya. 72 dan Persatuan Pegawai-pegawai Kepolisian kabinetnya juga semakin lemah dengan
Negara, sedangkan sisanya dari keseluruhan keluarnya NU yang jengkel atas konsepsi
dukungan parlemen terhadap kabinet berkurang
Pada bulan Februari, keinginan Sukarno yang ada menolak. Salah satu poin penting presiden, dan partai Islam lainnya yakni PSII.
secara drastis mengingat Masyumi memiliki
semakin jelas. Presiden yang saat itu baru Pada 14 Maret, Ali Sastroamidjojo menghadap
57 suara dalam DPR. Ali Sastroamidjojoendiri dari penolakan tersebut adalah besarnya
saja pulang dari kunjungan ke Tiongkok, presiden untuk mengembalikan mandat. Hari
berpikir untuk meletakan jabatannya saat itu keengganan untuk bekerja sama dengan—
Soviet, dan sejumlah negara Eropa Timur terlebih lagi untuk mengikutsertakan—PKI itu menjadi hari terakhirnya sebagai perdana
juga, namun PNI dan NU mendesaknya untuk
lainnya mengemukakan gagasannya yang dalam kabinet. Selain muncul dari partai menteri untuk kali kedua, sekaligus hari
tetap mempertahankan kabinet. 70
dikenal dengan ‘konsepsi’—istilah yang politik, penolakan juga muncul dari kalangan ketika keadaan SOB (staat van oorlog en beleg)
Masalah baru kemudian muncul, kali ini sudah muncul, dan telah menjadi rumor sejak militer dan tokoh-tokoh daerah. Pada sisi yang menunjukan situasi darurat untuk negara
datang dari sikap politik Presiden Sukarno. akhir 1956. Pada dasarnya konsepsi Sukarno lain, Daniel S. Lev menyebutkan bahwa ditetapkan. Adapun, surat keputusan presiden
Sejak oktober 1956, Sukarno telah mengkritik berisi dua hal utama. Pertama, kabinet harus penolakan untuk memasukan PKI dalam tentang SOB yang dikeluarkan pada hari itu
habis praktek demokrasi dengan menimpakan dibentuk atas perwakilan semua partai, bukan kabinet adalah strategi yang salah bagi partai- adalah dokumen terakhir yang ditandatangani
kesalahan pada usulan pembentukan partai- seperti yang terjadi dalam pemerintahan saat partai anti-komunis karena dengan demikian Ali Sastroamidjojo selaku Perdana Menteri,
partai politik yang digagas Hatta pada awal itu yang diibaratkannya seperti kuda dengan sekaligus Menteri Pertahanan ad interim.
mereka mengizinkan presiden mengontrol
kemerdekaan, di tahun 1945. Lebih lanjut ia tiga kaki—merujuk pada koalisi tiga partai 74 Ali Sastroamidjojo yang membangun kabinet
pemerintahan.
menyebut bahwa partai-partai politik adalah utama pendukung Ali Sastroamidjojo. Bagi dengan rasa percaya diri karena didukung
sumber penyakit, yang menyebabkan bangsa Sukarno, kabinet yang tersusun nantinya Memasuki bulan Maret 1957, kondisi dalam oleh mayoritas anggota parlemen yang
Indonesia terpecah-pecah. Sukarno melihat akan bekerja secara gotong-royong, yang dalam negeri semakin gawat. Di berbagai tempat dipilih pilihan rakyat melalui pemilu yang
bahwa demokrasi yang sedang diterapkan di retorika indah khas Sukarno dikatakan dengan tentangan-tentangan terhadap pemerintah demokratis, terpaksa mengakhiri jabatannya
Indonesia merupakan sistem yang diimpor mengutip pribahasa Belanda“alle leden van de pusat semakin gencar disuarakan. Vintje karena paremen dianggap menjadi biang
368 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 369

