Page 378 - Perdana Menteri RI Final
P. 378

kemudian, tepatnya pada 16 November, Lubis     provinsi-provinisi  otonomi  meliputi  Aceh,                            mereka merasa terancam dengan program ‘tour    pembangunan di daerah. Dewan ini dipimpin
                           mencoba melakukan upayanya yang kedua          Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan                               of duty’ Nasution, seperti dalam kasus Simbolon   oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein yang

                           dengan menggerakan satuan-satuan Divisi        Kalimantan Timur.                                                       yang dilaporkan menerima uang sekitar 50 juta   berhasil melakukan pengambilalihan kekuasaan
                           Siliwangi dibawah komando Mayor Djaelani.                                                                              dari kegiatan illegal—dimana ia sendiri juga   sipil dari Gubernur Ruslan Muljohardjo. Karena
                                                                          Pada 1 Desember, Moh. Hatta secara resmi
                                                                                                                                                              65
                           Rencananya pasukan ini akan bergabung dengan                                                                           mengakuinya.  Terkait dengan praktek-praktek   masalah ini memiliki banyak kaitan yang pelik—
                                                                          mengundurkan diri setelah sebelumnya pada
                           satuan-satuan AD dari Komando Jakarta Raya                                                                             illegal itu, pihak oposisi tidak bersuara keras   termasuk juga kuatnya pengaruh Masyumi di
                                                                          pertengahan Juli, ia bersurat ke DPR untuk
                           pimpinan Mayor Djuhro Sumitradilaga untuk                                                                              melainkan  mengalihkan isu tersebut  untuk     Sumatra Tengah, pemerintah mengambil sikap
                                                                          meminta berhenti dari jabatannya sebagai
                           menangkap para menteri dan tokoh-tokoh                                                                                 menyerang pemeritah dengan mengatakan          berbeda dengan yang diterapkan kepada Kolonel
                                                                          Wakil Presiden. Terkait dengan sikapnya ini,
                           lainnya.  Hanya saja, karena  kegagalan Djuhro                                                                         bahwa banyaknya penyelundupan disebabkan       Simbolon.  Untuk mengatasi persoalan ini, Ali
                                                                                                                                                                                                          67
                                                                          Hatta, sebagaimana dituliskan dalam suratnya,
                           menggerakan pasukannnya, usaha kudeta yang                                                                             oleh kegagalan pemerintah dalam memeratakan    Sastroamidjojo menekankan ‘pendekatan yang
                                                                          menyatakan bahwa setelah DPR dan dewan
                           dikenal dengan peristiwa ‘16 November’ tersebut                                                                        pembangunan, dan pusat menganaktirikan         bijaksana’.
                                                                          konstituante hasil pemilu terbentuk, maka jabatan
                           gagal dilaksanakan. Sejumlah perwira yang                                                                              daerah.
                                                                                                           61
                           terlibat dalam aksi ini kemudian ditangkap dan   wakil presiden tidak lagi diperlukan.  Spekulasi                                                                     Sebelum persoalan Dewan Banteng rampung,
                           dipecat. 59                                    atas pengunduran diri ini bermunculan, sejumlah                         Pada 22 Desember, Kolonel Simbolon yang        pemerintah juga dihadapkan pada munculnya
                                                                          pihak mentafsirkan peristiwa ini adalah puncak                          mengambil kembali komando Territorium I        kasus serupa di Sumatera Selatan. Tokoh penting
                           Tidak berhenti sampai di situ saja, persoalan   ketidakcocokan  Dwi-tunggal.  Akan tetapi,                             Bukit  Barisan mengumumkan situasi wilayah     dalam gerakan ini adalah Letkol Barlian panglima
                                                                                                      62
                           pergereran perwira ini melebar pada persoalan   banyak pula kalangan, terutama penentang                               kekuasaannya dalam keadaan perang dan          setempat yang memiliki kaitan dengan Simbolon
                           lain yakni menyangkut hubungan pusat-daerah.   pemerintah, yang mengkaitkan pengunduran                                bahaya. Simbolon juga menyatakan bahwa untuk   dan Ahmad Husain mengambil langkah politik

                           Berkembang pula desas-desus spekulatif yang    diri Hatta sebagai bentuk dari semakin buruknya                         sementara  waktu  wilayahnya  putus  hubungan   serupa dengan keduanya untuk menentang
                           mengkaitkan persoalan pergesieran perwira ini   hubungan  pusat-daerah,  bahkan  tuduhan  yang                         dengan pemerintah pusat, dan tidak lagi mengakui   pemerintah. Hanya saja Barlian menempuh
                           dengan ketidaksenangan Ali-Nasution (Jawa-     lebih jauh lagi: Jawa dan non-Jawa . 63                                 pemerintahan kabinet Ali Sastroamidjojo. Hanya   cara yang lebih halus dengan mempergunakan
                           pusat) kepada Simbolon-Lubis (Sumatera-
                                                                                                                                                  saja, Djamin Ginting yang saat itu merupakan   pengaruhnya  atas  Gubernur  Winarno  untuk
                           daerah). Sentimen primordial yang didasarkan   Sejak Desember 1956, situasi politik menjadi
                                                                                                                                                  wakil Simbolon tidak sepakat dengan manuver    melawan pusat, misalnya dengan melarang bank
                           pada  asal  etnis-kultural semacam ini dengan   semakin buruk yang ditandai oleh munculnya                             politik yang mempertentangkan pusat-daerah.    untuk mencairkan uang tanpa izin gubernur, dan
                           mudah menyebar, terutama dengan memperoleh     dewan daerah di sejumlah tempat dan                                     Dalam waktu singkat, pasukan Djamin Ginting    melarang orang keluar daerah dengan membawa
                           dukungan dari oposisi yang kerap mengangkat    perpecahan di dalam tubuh kabinet. Selain                               dapat memaksa Simbolon dan pasukannya          uang melebihi Rp.5000,- untuk satu keluarga.
                                             60
                           sentiment anti-Jawa.  Pada saat bersamaan di   menurunnya kepercayaan para elit daerah
                                                                                                                                                  melarikan diri ke Tapanuli.                    Tindakan  ini  disebut  oleh  Ali  Sastroamidjojo
                           tahun 1956, ikatan-ikatan etnis memang kembali   terhadap pemerintah pusat pasca pengunduran                                                                                                              68
                                                                                                                                                                                                 sebagai ‘menguasi daerah dari belakang’.
                                                                                    64
                           menguat dengan dibentuknya organisasi-         diri Hatta,  persoalan hubungan pusat-daerah                            Berbagai tentangan dari daerah tidak hanya
                           organisasi kedaerahan  yang dibarengi dengan   yang memburuk ini juga terkait erat dengan                              melibatkan perwira militer namun juga menyeret   Persoalan-persoalan yang muncul di daerah
                           semakin banyaknya tututan daerah untuk         distribusi kesejahteraan dimana daerah telah                            penguasa sipil seperti yang terjadi di Sumatera   dengan melibatkan perwira dan penguasa sipil
                           berbagai bidang kepentingan. Pada sisi lain,   banyak  menyumbangkan  devisa namun  tidak                              Tengah dan Sumatra Selatan. Pada 20 Desember,   berimbas langsung terhadap kabinet. IPKI yang
                           alasan yang mempertentangkan pusat dan daerah   memperoleh timbal balik yang pantas. Ali                               mantan Panglima Divisi IX Banteng, Kolonel     memiliki satu dalam kabinet memilih menarik
                                                                                                                                                                                           66
                           ini menarik karena pada waktu itu kabinet Ali-  Sastroamidjojo sendiri melihat faktor lain yang                        Ismail Lengah, memprakarasi ‘Dewan Banteng’.    wakilnya, Dahlan Ibrahim—mantan komandan
                           Roem-Idham juga berhasil menciptakan langkah   turut berperan dalam memperumit masalah itu                             Pembentukan dewan ini dipicu oleh adanya       Divisi Banteng—yang saat itu menjabat sebagai
                                                                                                                                                                                                                                 69
                           penting yang mengatur hubungan pusat-daerah    yakni adanya keterlibatan para pemimpin tentara                         penciutan divisi Banteng, masalah keuangan     Menteri  Negara  Urusan  Veteran.   Keluarnya
                           melalui rancangan undang-undang otonomi.       di daerah dalam aktivitas penyelundupan yang                            yang menyangkut buruknya kesejahteraan         IPKI dari kabinet pada 26 Desember tidak
                           Bahkan pemerintah juga berhasil membentuk      memang marak waktu itu. Oleh karenanya,                                 prajurit;  dan  tidak  adanya   pemerataan     terlalu  berpengaruh  bagi  pemerintah  karena





                           366   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  367
   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383