Page 465 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 465

al-Chairiyyah al-Talabijjah al-Djawijjah”   jauh. Abaza (1993) ketika menyinggung   mereka dalam bidang pendidikan dan   mengandung gagasan yang sekularistik
 pada 14 September 1923, yang kemudian   tentang alumni Kairo pada masa-masa   dakwah.  yang, karena itu, tidak kompatibel
 juga menerbitkan jurnal Seruan Azhar.   ini hanya menyebut keterlibatan Kahar   dengan Islam. Dan wacana terakhir ini,
 Pengasuh jurnal ini adalah Fath al-  Muzakir dalam perumusan “Piagam   pada gilirannya, menimbulkan respon
 Rahman Kafrawi (pemimpin umum);   Jakarta”. Sedikitnya pembahasan tentang   Pluralisme Wacana Kontemporer  mengkristalnya wacana tandingan yang
 Janan Thayib (pemimpin redaksi);   hal ini dapat mendorong orang untuk   Peranan alumni Timur Tengah secara   secara sedehana dapat disebut sebagai
 sedangkan redaksi terdiri dari Ilyas   mengasumsikan, bahwa mereka tidak   keseluruhan sejak 1960-an dan masa-  “wacana Islamis” yang cenderung ketat
 Ya`kub, Muhammad Idris al-Marbawi,   berperan banyak dalam aktivisme politik   masa kontemporer, hemat saya,   dan tidak kompromi, yang pada tingkat
 `Abd al-Wahhab `Abd Allah dan   menjelang kemerdekaan.  sedikit banyak mengalami perubahan-  gerakan atau praksis diwujudkan dalam
 Mahmud Yunus. Tema pokok Seruan   perubahan tertentu. Peran mereka dalam   harakah Islamiyyah.
 Azhar tentang upaya memajukan   Sebaliknya, yang justru menonjol dalam   bidang pendidikan dan dakwah masih
 Islam dan mencapai kesatuan kaum   kancah perjuangan politik menjelang   tetapi penting; namun dengan semakin   Pada level politik, perubahan-
 Muslimin. Tema ini terlihat dalam   kemerdekaan adalah alumni Haramayn,   meluas dan beragamnya sumber-sumber   perubahan yang terjadi di Timur
 pernyataan Mahmud Yunus pada   atau tepatnya Makkah. Hal ini bisa   intelektualisme Islam Indonesia pada   Tengah juga mempengaruhi dunia
 editorial Seruan Azhar: “Seluruh rakyat   dilihat dari keterkenalan tokoh-tokoh   gilirannya juga membuat peranan   keilmuan dan intelektual. Kajian
 kita.. apakah di Jawa, atau Sumatra, atau   alumni Makkah seperti Hasyim Asy`ari   alumni Timur Tengah juga sedikit   Abaza (1993) menunjukkan, terdapat
 di Borneo, atau Semenanjung Malaya,   (1871-1947), Wahab Chasbullah (1888-  banyak semakin tersaingi.  kecenderungan meningkatnya
 harus bersatu dan mempunyai tujuan   1971), As`ad Syamsul Arifin (1897-1990),   “fundamentalisme” di kalangan
 bersama dan bersepakat untuk mencapai   Wahid Hasyim (1913-1953) dan sejumlah   Sementara perkembangan-  mahasiswa di Timur Tengah
 kemajuan; mencari cara-cara terbaik   ulama alumni Makkah lainnya yang   perkembangan di Timur Tengah sendiri   umumnya—termasuk juga di
 untuk mencapai hal ini, dan tidak   aktif tidak hanya di dalam NU, tetapi   juga mempengaruhi kecenderungan   lingkungan mahasiswa Indonesia—
 membiarkan kita dengan alasan apapun   juga dalam pergerakan kemerdekaan   wacana intelektual dan orientasi   sejak akhir 1970-an. Hal ini berkaitan
 terpecahbelah menjadi kelompok-  (Azra 199c:207). Memang, generasi   gerakan alumni Timur Tengah. Pada   dengan masih berlanjutnya kekuasan-
 kelompok terpisah” (dikutip dalam   mahasiswa Kairo menjelang dan saat-  tingkat wacana, berbagai aliran   kekuasan politik yang represif di
 Roof 1970:78; Azra 1999c:201; Cf Laffan   saat awal kemerdekaan, seperti Harun   pemikiran dan intelektualisme juga   Timur Tengah, sementara pada
 2000:260-6).  Nasution dan Fuad Fakhruddin ketika   berkembang, tidak lagi didominasi   saat yang sama rejim-rejim sekuler
 di Kairo juga menunjukkan aktivisme   wacana intelektual tradisionalisme   ini gagal mewujudkan janji-janji
 Meski peran alumni Kairo cukup sentral   politik yang cukup tinggi. Tetapi   atau modernisme Islam. Pada saat yang   modernitasnya. Kegagalan rejim-rejim
 dalam mendorong dan menyebarkan   kedua tokoh ini tidak membawa dan   sama wacana intelektualisme yang   sekuler ini memberikan daya dorong
 gagasan-gagasan modernisme Islam   mengembangkan aktivisme politik   diwarnai pemikiran Barat juga mulai   tambahan bagi harakah Islamiyyah
 dan nasionalisme Melayu, peran mereka   mereka ketika kembali ke tanahair.   muncul secara signifikan, tidak hanya   untuk meningkatkan aktivisme
 yang lebih jelas dalam aktivisme   Sebaliknya, keduanya—dan saya kira   dalam bidang filsafat yang cenderung   mereka menumbangkan rejim-rejim
 politik menjelang Perang Dunia II dan   juga banyak alumni Kairo lainnya—lebih   antropormistik, tetapi juga wacana   tersebut dan selanjutnya menegakkan
 kemerdekaan masih perlu diteliti lebih   memusatkan perhatian dan kegiatan   ideologis-politis yang bukan tidak sering   hakimiyyah Allah, kedaulatan Tuhan.



 452  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   453
   460   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470