Page 474 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 474

Meskipun penguasa di Melaka, Aceh,      ditafsirkan isinya oleh seorang ulama                       juga terlibat dalam perdebatan hangat   dalam diskursus keislaman. Barangkali,
            dan Mataram sama-sama menggunakan       Pasai, yang bernama Makhdum Patakan.                        mengenai topik teologis ini.  Paman    yang lebih menonjol dalam hal ini adalah
                                                                                                                                        10
            gelar khalifah Allah, namun makna dan   Sultan Melaka berikutnya, Mahmud                            al-Raniri, Syaikh Muhammad Jilani      diskursus hubungan antara tasawuf dan
            peran masing-masing mereka bervariasi   Syah (wafat 1528), juga mengirim sebuah                     b. Hasan b. Muhammad, yang bukan       syari‘ah. Meskipun ia merupakan ajaran
            antara satu dengan yang lainnya.        misi ke Pasai di bawah pimpinan Tun                         ahli ilmu tasawuf, harus bertolak ke   mendasar dalam Islam, kelihatannya,
                                                    Muhammad untuk mencari jawaban                              Mekah untuk mendalami ilmu tasawuf     diskursus fiqh dan ushul al-fiqh dimaksud
            Diskursus pemikiran Islam di kawasan    beberapa pertanyaan ilmu kalam                              karena adanya tuntutan yang besar      hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar
            ini lebih didominasi oleh isu tasawuf   (teologi). 9                                                di Aceh agar ia juga mengajar ilmu     peribadatan dan mu‘amalah umat Islam.
            falsafi, baik itu heterodoks maupun                                                                 tasawuf. Setelah beberapa tahun berada   Kita juga belum menemukan diskursus
            ortodoks (ahl al-sunnah wa al-jama‘ah),   Diskursus ilmu kalam terus                                di Mekah, ulama ini kembali ke Aceh    mengenai “adat” versus “hukum Islam”
            ilmu kalam (teologi), dan politik Islam.   menggelinding memasuki kawasan                           pada masa pemerintahan Sultan ‘Ala’    ketika itu, meskipun praktik keterkaitan,
            Hal ini ditunjukkan oleh realitas       kerajaan Aceh Dar al-Salam pada                             al-Din Ri‘ayat Syah (berkuasa 1586-1589)   dan bahkan komporomi, antara “adat”
            historis masyarakat Islam di kawasan    abad ke-16. Nur al-Din al-Raniri                            untuk mengajar ilmu tasawuf. Menurut   dan “hukum Islam” dapat dicermati di
            ini. Ketertarikan penguasa terhadap     menginformasikan di dalam karyanya,                         al-Raniri, pamannya inilah yang berhasil   berbagai kerajaan ketika itu, namun ia
            diskursus keislaman telah disaksikan    Bustan al-Salathin, bahwa di antara para                    menyelesaikan perdebatan mengenai al-  belum muncul sebagai sebuah diskursus
            oleh Ibn Battutah di kerajaan Pasai     ulama dari Timur Tengah, dan termasuk                       a‘yan al-tsabitah, sebuah topik perdebatan   pemikiran yang utuh dan sistematis.
            pada tahun 746 H (1345 M) dan 747       dari India, yang berkarir di Aceh pada                      teologis yang kontroversial yang tidak   Karya fiqh al-Raniri, yang berjudul
            H (1346 M) di mana ia menemukan         abad ke-16 adalah seorang ulama dari                        dapat diselesaikan sebelumnya. 11      al-Shirat al-Mustaqim, merupakan
            bahwa penguasanya, al-Malik al-Zhahir,   Mekah yang bernama Syaikh Abu al-                                                                 sebuah karya yang sederhana sebagai
            adalah seorang muslim yang taat dan     Khayr b. Syaikh b. Hajr. Ia datang ke                       Apa yang dapat dipahami dari realitas   tuntunan (manual) bagi umat Islam
            rutin melakukan kajian keislaman        kerajaan ini pada masa pemerintahan                         sejarah ini adalah bahwa topik ilmu    dalam peribadatan; sementara karya fiqh
            di istana dan masjid. Bahkan, pada      Sultan ‘Ala’ al-Din (berkuasa 1579-1586)                    tasawuf dan ilmu kalam lebih populer   ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili, yang berjudul
            masanya kerajaan ini didatangi dua      di mana ia mengajar materi-materi                           di kawasan ini, baik di Pasai, Melaka,   Mir’at al-Thullab fi Tashil Ma‘rifat al-
            ulama ahli ilmu kalam dari Persia, yaitu   keislaman, terutama hukum Islam                          Aceh, dan terlebih lagi di kalangan    Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahhab,
            Qadhi Syarif Amir Sayyid dari Syiraz    (fiqh). Namun, ia juga merupakan                            masyarakat Islam di Jawa. Dengan       merupakan karya yang berorientasi pada
            dan Taj al-Din dari Isfahan. Sultan     penulis sebuah karya ilmu kalam yang                        kata lain, diskursus dan kontroversi   bidang mu‘amalah dan menjadi panduan
            ini juga dikatakan oleh Ibn Battutah    berjudul Sayf al-Qathi‘. Dalam karyanya                     mengenai topik tasawuf falsafi dan     bagi para parktisi hukum Islam ketika itu.
            berpartisipasi dalam kajian keislaman.    ini ia mengangkat perdebatan teologis                     ilmu kalam sangat terlihat di Asia
                                               8
            Sejarah juga menunjukkan bahwa          mengenai al-a‘yan al-tsabitah, yang                         Tenggara. Meskipun fiqh dan ushul al-fiqh   Aspek pemikiran keagamaan (Islam)
            Melaka, pada masa pemerintahan Sultan   nantinya menjadi topik perdebatan                           merupakan materi keislaman yang juga   lain yang patut diangkat di sini adalah
            Mansur Syah (wafat 1477), pernah        hangat di kalangan ulama di kawasan                         diajarkan oleh para ulama, termasuk    dimensi politik. Meskipun “pemikiran
            mengirim sebuah kitab ilmu kalam        ini. Pada waktu yang sama, kerajaan ini                     mereka yang datang dari Timur Tengah   politik” dibahas dalam bagian
            yang berbahasa Arab yang berjudul       juga dikunjungi oleh seorang ulama dari                     dan India, namun kelihatannya tidak ada   tersendiri dalam buku ini, namun
            al-Durr al-Manzum ke Pasai agar dapat   Yaman, yaitu Muhammad Yamani, yang                          pemikiran hukum Islam yang muncul      pemikiran politik yang dikaitkan



         462    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   463
   469   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479