Page 478 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 478

dengan Tuhan (manunggaling kawulo-      jelmaan dari Zat Tuhan, sementara raga                      meskipun manusia terdiri dari unsur    hanya dapat muncul berasamaan dengan
            Gusti). Bagi Jenar, Tuhan (Hyang Widi)   merupakan wujud luar dari jiwa yang                        ketuhanan (jiwa yang merupakan         munculnya kesadaran subjek terhadap
            merupakan Wujud yang tidak dapat        dilengkapi dengan pancaindera dan                           jelmaan Tuhan) namun ia harus berjuang   objek itu sendiri. Oleh karena itu, Jenar
            dilihat dengan kasat mata. Ia memiliki   unsur fisik lainnya. Sebagai jelmaan                       dalam melakukan perlawanan terhadap    percaya bahwa pengetahuan tentang
            dua puluh sifat, termasuk di antaranya   Tuhan, jiwa merupakan suara hati yang                      nafsu rendah badani yang bersemayam    kebenaran ketuhanan akan muncul
            sifat wujud (ada), tidak bermula dan tidak   harus diikuti dan dituruti perintahnya.                dalam dirinya. Upaya sungguh-          secara bersamaan dengan munculnya
            berakhir, tidak serupa dengan hal-hal   Ia merupakan ungkapan dari kehendak                         sungguh inilah yang ia sebut dengan    kesadaran tersebut pada diri manusia.
                                                                                                                                                                                         20
            yang baharu. Kedua puluh sifat tersebut   Tuhan itu sendiri. Di sinilah, menurut                    jihad akbar. Dalam hal ini peran akal   Kebenaran sejati bukan berada di
            terhimpun menjadi satu wujud mutlak     Jenar, terletak perbedaan jiwa dengan                       sangat penting, meskipun menurutnya    alam ini, akan tetapi ia berada sangat
            yang disebut dengan Zat (Allah).        akal. Bila kebenaran jiwa dapat dipercaya                   akal ini tidak dapat dipercaya penuh   dekat, yaitu lebih dekat dari urat leher
                                         16
            Jenar menegaskan bahwa di samping       sehingga harus ditaati, maka kehendak                       karena karakternya yang senantiasa     manusia. Untuk itu ia menganjurkan
            tidak dapat dilihat, Wujud Zat (Allah)   akal tidak sepenuhnya dapat diakui                         berubah. Akal, menurut Jenar, dapat    manusia untuk mencari kebenaran
            merupakan sebuah nama yang asing dan    kebenarannya, karena ia merupakan                           bermakna budi eling, namun di pihak lain   sejati di tengah-tengah kehidupan; dan
            sulit untuk dipahami. Hanya tanda-      kehendak, angan-angan dan ingatan                           ia bermakna kehendak, angan-angan      hanya melalui ilmu hikmah dan ‘irfan
            tanda dari Wujud-Nya yang dapat dilihat   yang sifatnya senantiasa berubah. Jiwa,                   dan ingatan. Akal dalam makna yang     kebenaran sejati dapat diraih. 21
            di alam nyata, yang dimanifestasikan    yang berasal dari Tuhan ini, bersifat                       pertama dapat dipercaya; sementara
            dalam wujud alam dan manusia. Dalam     kekal (abadi). Tidak demikian halnya                        akal dalam makna yang kedua perlu      Dalam memahami peran sebagai khalifah
            hal ini kelihatannya pemikiran Jenar    dengan akal, yang hancur setelah                            dicurigai, karena ia selalu berubah dan   Allah fi al-ardh (wakil Allah di muka
            memiliki kemiripan dengan konsep        kematian. Dengan kematian, jiwa                             cenderung mendorong manusia untuk      bumi), manusia memiliki kebebasan
            tajalli, di mana segala mawjud di alam ini   melepaskan diri dari kehidupan duniawi                 melakukan tindakan kejahatan.  Makna   dalam berkehendak (iradah); dan dengan
                                                                                                                                            19
            merupakan penampakan dari Zat Allah;    dan belenggu badan manusia.  Pada saat                      akal dari perspektif yang pertamalah   demikian ia bertanggungjawab terhadap
                                                                               18
            dan manusia merupakan jelmaan dan       itulah jiwa kembali bersatu dengan Zat                      yang senantiasa dapat diperankan.      segala tindakan dan perilakunya.
            perwujudan dari Hyang Widi (Tuhan)      Tuhan (manunggaling) dalam keabadian.                                                              Namun, ketika Allah telah bersama
            yang Maha Sempurna. 17                                                                              Ketika berbicara mengenai peran akal,   manusia, maka segala tindakan
                                                    Dalam melihat manusia sebagai makhluk                       Jenar juga memberikan tekanan pada     manusia senantiasa berada di bawah
            Manusia, dalam pandangan Jenar,         yang sempurna (kamil), Jenar cenderung                      “kesadaran” diri manusia itu sendiri   kendali Tuhan, dan juga cenderung
            merupakan makhluk Allah yang            realistis, di mana ia menekankan peran                      untuk memperoleh pengetahuan.          berbuat baik dan mensucikan diri dari
            sempurna, yang merupakan jelmaan        manusia sebagai wakil Allah di muka                         Menurutnya, penyadaran diri berakibat   kehidupan hawa nafsu duniawi yang
            Tuhan dan memiliki ruh Ilahiyah. Dengan   bumi (khalifah Allah fi al-ardh) dengan                   pada munculnya pengetahuan. Ia         kotor.  Di sini terlihat peran manusia
                                                                                                                                                            22
            demikian, manusia juga memiliki         tugas untuk memakmurkannya. Dalam                           menegaskan bahwa kebenaran yang        sebagai khalifah Allah yang diberi akal
            sifat-sifat ketuhanan. Inilah kehebatan   hal ini, manusia harus menyadari betul                    diperoleh melalui pancaindera, akal    dalam berperilaku yang baik menurut
            manusia. Jenar percaya bahwa manusia    akan kewajibannya untuk berpegang                           dan intuisi adalah sama dengan proses   dirinya dan sikap bertanggungjawab.
            memiliki dua unsur utama, yaitu         kepada syari‘at Ilahiyah melalui Sabda                      mengetahui wahyu yang berbentuk        Artinya, manusia diberi qudrah
            “jiwa” dan “tubuh” (raga). Jiwa adalah   Nabi Muhammad SAW. Untuk itu,                              intuitif; dan pengetahuan intuitif ini   (kemampuan untuk bertindak) dan



         466    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   467
   473   474   475   476   477   478   479   480   481   482   483