Page 481 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 481

iradah (kemampuan untuk berkehendak).   (3) kehidupan akhirat yang kekal dan   segala kewajiban agama lainnya. Hal   seseorang kepada empat tingkatan, yaitu
 Kemampuan inilah yang ia gunakan   tak berakhir; dan (4) mengenai kematian   ini tidak hanya didasarkan atas konsep   (1) para Nabi Allah, yang menempati
 untuk memilih apa yang diinginkan,   yang tengah dialami di dunia ini. 25  kesatuan manusia dengan Tuhan   tingkat yang tertinggi sebagai penerima
 termasuk dalam memilih bersama   (manunggaling kaulo-Gusti atau wahdatul   menerima wahyu; (2) para wali, yakni
 Tuhan. Bila kebersamaan dengan Tuhan   Kehidupan di dunia ini, bagi Jenar,   wujud), akan tetapi juga dilandasi atas   para ahli sufi yang telah mencapai
 yang ia pilih, maka secara otomatis   merupakan sebuah “kematian.” Artinya,   konsep bahwa segala aturan syari‘at   tingkat ma‘rifat dan berada satu tingkat
 ia berperilaku sebagaimana yang   dunia ini sesungguhnya merupakan   dalam Islam dibebankan kepada   di bawah kelas Nabi; (3) para ulama,
 dikehendaki oleh Tuhan, yaitu berbuat   alam kematian; dan ini bermakna bahwa   manusia yang hidup, bukan kepada   yang mendapatkan ilmu dengan cara
 baik dan membersihkan diri dari   manusia yang hidup di dunia ini adalah   mereka yang telah mati. Tentu, konsep   belajar; dan (4) orang-orang awam,
 kehidupan hawa nafsu duniawi yang   “mayit”. Karena kehidupan di dunia   yang kedua ini kelihatannya tidak   yang memperoleh ilmu hanya dengan
 kotor. 23  ini merupakan “kematian”, maka ia   berbeda dengan ajaran dasar Islam   mengikuti pendapat para imam atau
 bukan sebuah kehidupan yang sejati.   bahwa aturan syari‘at dibebankan hanya   ulama (taqlid). Klasifikasi ini sejalan
 Terkait dengan kehidupan di dunia   Kematian merupakan awal dari sebuah   kepada orang-orang yang masih hidup,   dengan tingkatan dalam ibadah dari
 ini, konsep yang ditawarkan sangat   kehidupan yang abadi.  Makna hidup   bukan kepada mereka yang telah mati.   perspektif tasawuf, yaitu dari syari‘at
 26
 rumit dan tidak mudah untuk   di dunia sebagai “kematian” adalah   Namun, ia sangat berbeda dengan   pada tingkat yang terendah, dan
 dipahami. Persoalan ini sesungguhnya   kematian yang singgah sebentar dalam   kepercayaan yang dianut oleh Siti Jenar.   meningkat kepada tingkatan-tingkatan
 terkait dengan kebenaran “intuitif”   jasad manusia. Manusia cenderung   Perbedaan terletak pada “makna” yang   berikutnya, yaitu dengan tarikat, hakikat
 yang merupakan dasar dari setiap   tidak menyadari bahwa kehidupan   diberikan terhadap “hidup” dan “mati”   dan ma‘rifat. Bila syari‘at dibutuhkan
 perilaku manusia, yang diraih hanya   ini merupakan sebuah kematian,   itu sendiri. Karena, menurut Siti Jenar,   oleh orang awam, tarikat diperlukan oleh
 ketika manusia mampu mewujudkan   sehingga ia cenderung terperangkap   kehidupan di dunia ini merupakan   kalangan ulama; sementara hakikat dan
 “kesadaran” diri. Bagaimana pandangan   dalam godaan duniawi. Oleh karena   kematian, maka tidak ada kewajiban   ma‘rifat merupakan capaian kelas para
 ini dijelaskan kelihatannya perlu   itu yang diharapkan, menurut Jenar,   dalam melaksanakan aturan syari‘at   wali dan Nabi. Dari perspektif inilah
 pengkajian filosofis yang mendalam.   adalah mengkahiri kematian yang   di dunia yang mati ini. Kewajiban   Siti Jenar menegaskan bahwa kalangan
 Ajaran Jenar yang sarat dengan   dialami di dunia ini dan menempuh   menjalankan aturan syari‘at berlaku   awam hanya berada pada tataran syari‘at,
 pengalaman kerohanian yang subjektif   jalan kehidupan yang abadi;  dan hal   setelah manusia menemui ajal.  Poin   yaitu dengan menjalankan semua ajaran
 27
                                        28
 menyisakan banyak pertanyaan,   ini terjadi ketika roh telah berpisah dari   ini perlu mendapat perhatian untuk   Islam; sementara dirinya telah mencapai
 karena tergolong ke dalam pengalaman   jasad.  dikaji lebih lanjut dan mendalam, karena   tingkat wali, nabi dan bahkan bersatu
 ketuhanan yang abstrak, non-empiris   terlihat adanya paradoks dengan konsep   dengan Tuhan (manunggaling kawulo-
 dan bahkan non-akali.  Memang, ajaran   Konsep ini juga memiliki dampak   kewajiban syari‘at bagi masyarakat   Gusti), yang menjadi alasan baginya
 24
 Jenar lebih fokus pada dimensi “bathini,”   terhadap kewajiban dalam   awam.  untuk tidak perlu menjalankan syari‘at. 29
 bukan lahiri. Kepada para sahabatnya   melaksanakan aturan syari‘at. Siti
 Jenar memberikan beberapa petuah,   Jenar menegaskan bahwa ia tidak   Syekh Siti Jenar kelihatannya   Syekh Siti Jenar juga mengajarkan
 termasuk (1) penguasaan hidup; (2)   berkewajiban melaksanakan ajaran   mengadopsi pemikiran Imam al-Ghazali   ajaran rahasia yang digunakan sebagai
 pengetahuan mengenai pintu kehidupan;   syari‘at, termasuk shalat, puasa dan   dalam melihat peringkat keimanan   cara menuju Allah SWT secara cepat



 468  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   469
   476   477   478   479   480   481   482   483   484   485   486