Page 486 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 486

ini tajalli sesungguhnya merupakan      menjadi objek ‘ilmu, adalah hakikat alam                    Hakikat alam yang ditamsilkan oleh     tetapi asalnya sebiji itu jua.”  Dengan
                                                                                                                                                                               49
            suatu proses yang terjadi di dalam zat   semesta, yang dikenal dengan al-a‘yan                      Hamzah bagaikan pohon kayu yang ada    mengutip ungkapan al-Hallaj, Hamzah
            itu sendiri. Zat bersifat azali dan abadi,   al-tsabitah. Dengan demikian, al-a‘yan al-             dalam biji membutuhkan firman ciptaan,   menegaskan: “seperti biji dalam pohon
            demikian pula halnya dengan proses      tsabitah merupakan hasil tajalli ‘ilmu, yang                yaitu Kun, untuk dapat beralih dari    kayu, sungguh pun lahirnya tiada
            itu sendiri, yakni azali dan abadi.     membuat al-a‘yan al-tsabitah itu diketahui,                 potensi kepada aktual. Firman ini sendiri   kelihatan, hakikatnya esa jua. Sebab
            Hamzah menegaskan bahwa sifat ilmu      meskipun masih dalam bentuk potensial,                      bersifat qadim, kekal, dan tidak dengan   inilah Mansur al-Hallaj mengatakan:
            merupakan di antara sifat-sifat penting   belum aktual. Dengan demikian, dalam                      lidah atau suara, melainkan dengan kata   ‘Ana al-Haqq,’ setengah setengahnya
            dalam tajalli; dan dengan sifat ilmu ini   wujud hakikat, alam semesta ini berada                   isyarat. Hamzah menegaskan: “…kata     mengatakan: ‘Ana Allah,’ karena adanya
                                                                                                                                                                            50
            maka lahir sifat-sifat yang lain. Berikut   dalam ‘ilmu Allah. Artinya, ia berada                   qadim dengan kata isyarat juga, bukan   itu tiadalah dilihat lagi.”  Di sini dapat
            dikutip penegasan Hamzah Fansuri:       dalam zat Allah, karena sifat itu adalah                    dengan lidah, denga suara. Jikalau dengan   disimpulkan bahwa Hamzah adalah
                                                    ‘ayn zat. Hamzah menegaskan: “Adapun                        lidah dan suara dapat dikatakan makhluq.   seorang penganut ajaran panteisme dalam
            Adapun maka dikatakan ilmu pertama      kata ahlussuluk, sungguhpun ia [ma‘lumat                    Karena Allah SWT Mahasuci, kalam-      arti sesungguhnya. Menurutnya, “Tuhan
            nyata dari pada segala nyata karena     atau hakikat alam] tiada mawjud pada                        Nya pun Mahasuci dari pada lidah dan   dan alam merupakan suatu hakikat yang
            tatkala Allah Subhanahu wa Ta‘ala       lahirnya, tetapi pada bathinnya ia                          suara.” 48                             tidak dapat dipisahkan, bukan saja dalam
            menilik dirinya dengan ilmu-Nya, maka   mawjud; ada seperti pohon kayu itu juga;                                                           martabat Ilahi (kanzan makhfiyyan), tetapi
            jadi tiga, bergelarnya: ‘alim, ‘ilmu,   sesungguh pun belum keluar dari dalam                       Martabat yang ketiga adalah yang       juga dalam dunia empiris.” 51
            ma‘lum. Yang menilik bernama ‘alim,     biji itu hukumnya adalah biji itu, tiada                    dikenal dengan martabat tajalli di luar
            yang ditilik bernama ma‘lum, tilik      syak lagi.” 46                                              zat. Tajalli ini bermakna bahwa melalui   Sebagaimana konsep yang kembangkan
            menilik bernama ‘ilmu. Ketiganya esa                                                                firman Kun hakikat alam (al-a‘yan al-  oleh Ibn ‘Arabi, Hamzah menegaskan
            juga, namanya berlain-lainan… Zat       Lebih jauh Hamzah membuat tamsil                            tsabitah) yang terpendam dalam Zat     bahwa dalam kaitannya dengan alam,
            terbumi di dalam ‘alim dan ma‘lum, dan   seperti pohon kayu dalam biji. Ia                          yang Mutlak mendapat limpahan          Tuhan memiliki dua sifat, yaitu tanzih
            ‘ilmu. Maka bergelar Awwal dan Akhir    menulis:                                                    wujud, yang berakibat pada munculnya   dan tasybih. Sifat tanzih ditegaskan
            dan Zhahir dan Bathin. Yang menilik     Adapun tamsil perbendaharaan itu                            wujud empiris. Hal ini ditamsilkan oleh   adanya perbedaan yang esensial antara
            bernama Awwal, yang ditilik bernama     seperti pohon kayu sepohon dalam                            Hamzah seperti sebatang pohon kayu     Tuhan dengan alam. Mengenai hal ini
            Akhir yang ditilik bernama Zhahir,      bijinya. Biji itu perbendaharaan.                           yang dulu terpendam dalam sebuah biji,   Hamzah menulis:
            yang menilik bernama Bathin. 45                                                                     melalui firman Kun, menjadi tumbuh
                                                    Pohon kayu yang dalamnya itu                                aktual, sementara biji terserap ke dalam   Firman Allah Ta‘ala: SWT:
            Dengan tajalli ini, zat yang Mutlak     isi perbendaharaan tersembunyi                              seluruh bagian pohon tersebut. Hamzah   “Subhanallah ‘amma yashifun.” Yakni
            menyadari adanya daya-daya potensial    dengan lengkapnya, akarnya, dengan                          menegaskan: “tamsil seperti biji sebiji,   Mahasuci Allah tiada dapat diperikan.
            yang terdapat dalam dirinya. Zat Mutlak   batangnya, dengan cabangnya, dengan                       dalamnya pohon kayu sepohon dengan     Lagi Firman Allah Ta‘ala: “laysa
            yang kini bernama Allah mengetahui      dahannya, dengan rantingnya, dengan                         selengkapnya. Asalnya biji itu juga,   kamislihi syaiun,” Yakni tiada suatu
            (‘alim) segala sesuatu (ma‘lum), karena Ia   daunnya, dengan bunganya, dengan                       setelah menjadi kayu, biji tersebut itu   pun barang yang kita bicarakan dengan
            sesungguhnya bersifat ‘ilmu (tilik-menilik   buahnya, sekalian lengkap dalam biji                   ghayb, kayu juga kelihatan. Warnanya   hati kita atau dengan makrifat kita sudah-
            subjek dengan objek). Ma‘lum, yang      sebiji itu. 47                                              berbagai-bagai, rasanya berbagai-bagai,   sudah, yaitu sama-sama.” 52



         474    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   475
   481   482   483   484   485   486   487   488   489   490   491