Page 490 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 490

adalah baharu; oleh karena itu ia adalah   Tuhan kamu radhi akan Dia dan radhi Ia                   (berkuasa 1607-1636). Ia dikenal sangat   bahasa Arab, di mana ia memaparkan
            makhluq. Dalam karyanya Asrar al-‘Arifin   akan kamu. Maka masuk surga-Ku, hai                      dekat dengan penguasa terkuat Aceh ini,   pemikiran tasawuf falsafinya di bawah
            Hamzah menegaskan sebagai berikut:      hamba-hamba-Ku.                                             dan bahkan dikatakan ia menjadi mentor   pengaruh tradisi pemikiran Ibn ‘Arabi.

            Adapun kepada mazhab Mu‘tazilah dan     Artinya, datangnya pun dari pada laut,                      sufi (mursyid) bagi Iskandar Muda;     Namun, struktur karya Syams al-Din
                                                                                                                                                       ini mengikuti skema yang disajikan oleh
                                                                                                                dan ia juga membawa penguasa ini ke
            Rafidhah dan Zindiq, kalam Allah itu    pulangnya pun kepada laut jua…karena                        dalam tarikat Naqsyabandiyah. Kedekatan   tokoh sufi dari India, yaitu Muhammad
            makhluq. Pada hukum syari‘at, barang    pada orang berahi yang wasl, jannah                         ini membawa Shams al-Din kepada        b. Fadhl Allah al-Burhanpuri (wafat 1590),
            siapa mengatakan kalam Allah makhluq    itulah yang dikatakan dalam ayat:                           beberapa posisi penting di kerajaan,   dalam karyanya yang berjudul al-Tuhfah
            ia itu kafir, na‘uzu billahi minhu.     fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli fi jannati.                     termasuk sebagai pemegang otoritas     al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Karya ini
            Kalam adalah peri zat, qadim sama-      Pulanglah ia kepada tempat kuntu                            agama tertinggi, yaitu sebagai Syaikh   melengkapi pemikiran tasawuf falsafi Ibn
            sama dengan sekalian yang sedia ketujuh   kanzan makhfiyyan. 61                                     al-Islam, penasihat Sultan, ketua dewan   ‘Arabi dengan teori martabat tujuh. Adalah
            itu. Adapun kalam Allah yang dibawa     Di sini terlihat dengan jelas konsistensi                   kerajaan (chief councillor), dan bahkan   Syams al-Din yang memperkenalkan
            Jibril kepada Nabi Muhammad SAW         Hamzah dalam menganut panteisme,                            sebagai wakil Sultan ketika melakukan   teori ini di Sumatra, Jawa, dan kawasan
            yang tesurat dalam Mashhaf itu dapat    karena Tuhan imanen dalam alam                              pembicaraan dengan berbagai utusan     Nusantara secara umum. 66
            dikatakan makhluq karena hukumnya       empiris, maka kematian manusia                              asing. Inilah yang membuatnya unik bila
            sudah bercerai dengan zat pada ibarat. 60  bermakna bersatu dengan Tuhan.                           dibandingkan dengan para tokoh agama   Pandangan dasar wujudiyyah tokoh ini
                                                                                                                                                       dapat dicermati dari pandangannya
            Ajaran Hamzah, yang juga mendapat       Pemikiran Hamzah ini diadopsi dan                           yang lain dalam sejarah kerajaan ini. 64  mengenai makna yang diberikan
            kritik keras dari para ulama ahl al-sunnah   dikembangkan oleh Syaikh Syams al-Din                  Namun, yang lebih terpenting dari itu   terhadap kalimah tauhid (la ilaha illa
            wa al-jama‘ah, terutama al-Raniri, adalah   Sumatrani. Ia adalah tokoh pemikir, sufi,               semua adalah perannya sebagai seorang   Allah). Menurutnya, pemahaman kalimah
            persoalan nyawa yang menurutnya akan    dan petinggi di kerajaan Aceh ketika                        “sufi” dan pemikir Islam. Johns menulis   ini tergantung pada tingkatan salik
            kembali bersatu dengan Tuhan. Dalam     itu. Berasal dari Samudra-Pasai, yang                       bahwa Syams al-Din adalah seorang      (penempuh jalan tasawuf). Bagi pemula
            hal ini, ia membuat perumpamaan         menjadi nisbah di belakang namanya,                         “sarjana [ulama] yang luar biasa”. Ia   (al-mubtadi’) kalimah ini dipahami sebagai
            bagaikan ombak yang akhirnya kembali    Syams al-Din diperkirakan lahir                             menguasai bahasa Arab dan Melayu       “tidak ada ma‘bud (yang disembah)
            dan bersatu ke laut. Dalam karyanya     sebelum tahun 1575,  dan wafat pada                         dengan sangat baik, yang membawanya    kecuali Allah.” Bagi yang berada pada
                                                                      62
            yang berjudul al-Muntahi, Hamzah        tahun 1630.  Ia adalah seorang ulama                        menjadi “orang Djawi [Melayu] pertama   tingkat menengah (al-mutawassith) kalimah
                                                              63
            menulis sebagai berikut:                yang juga dikenal sebagai pengikut,                         yang diketahui telah meninggalkan      tauhid ini bermakna: “tidak ada maqshud
                                                    dan bahkan tokoh, aliran wujudiyyah di                      karya-karya penting dalam bahasa Arab   (yang dikehendaki) kecuali Allah”.
            Ya ayyatuha al-nafs al-                                                                                                                65
            muthma’innah, irji‘i ila rabbiki        Aceh setelah Hamzah Fansuri wafat. Ia                       dan sejumlah karya berbahasa Melayu.”    Namun, bagi yang telah mencapai
                                                                                                                Di antara karyanya yang terkenal
                                                                                                                                                       tingkat akhir (al-muntahi) kalimah ini
                                                    bahkan diklaim sebagai murid Hamzah.
            radhiyatan mardhiyyah, fadkhuli fi      Yang menarik dari tokoh ini adalah                          berkenaan dengan tasawuf falsafi adalah   bermakna: “tidak ada mawjud (wujud)
            ‘ibadi wadkhuli jannati…
                                                    peran penting yang ia lakoni di kerajaan                    Mir’at al-Mu’minin. Namun, karyanya    kecuali Allah”.  Makna yang diberikan
                                                                                                                                                                    67
            Hai segala kamu yang bernyawa           Aceh ketika itu, terutama pada masa                         yang juga tidak kalah penting berjudul   atas kalimah tauhid ini (“tidak ada wujud
            muthma’innah! Pulanglah kamu kepada     pemerintahan Sultan Iskandar Muda                           Jawhar al-Haqa’iq. Kitab ini ia tulis dalam   selain Allah”) hanya diberikan oleh


         478    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   479
   485   486   487   488   489   490   491   492   493   494   495