Page 489 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 489

Namun, di pihak lain, dengan sifat Allah   dengan kepercayaan ahl al-sunnah wa al-  sering keluar ungkapan-ungkapan yang   meninggalkan sembahyang dan puasa
 yang tasybih, Hamzah mempersamakan   jama‘ah. 55  menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan;   dan makan haram, fasik dan ‘ashi
 Tuhan dengan makhluk (alam), seakan   dan hal ini adalah sah dan benar adanya,   [durhaka] mereka hukumnya. 58
 tidak ada perbedaan yang mendasar   Penyamaan Tuhan dengan alam   karena ia telah mencapai tingkat ma‘rifat   Terkait dengan nyawa, Hamzah melihat
 antara keduanya. Ia menegaskan: “Segala   bermakna Ia berada dalam diri manusia   yang sempurna, bukan orang biasa.   bahwa nyawa manusia bukan makhluk,
 rupa, rupa-Nya, segala warna, warna-  dan benda-benda alam lainnya. Namun,   Hamzah menegaskan:  tapi juga bukan khaliq. Ia menulis
 Nya, segala bunyi, bunyi-Nya; karena Ia   ini tidak berarti bahwa manusia dengan   Banyak lagi masya’ikh yang berkata   sebagai berikut:
 wahdahu la syarika lahu. Jikalau dikatakan   serta merta dapat melihat Tuhan dalam   demikian tiada tersebut. Adapun
 ada yang lain daripada-Nya, syirk dengan   dirinya. Masih ada “hijab” tebal yang   mereka itu sekalian berkata demikian   Adapun barang yang jadi di bawah
 zhulm hukumnya.” 53  menghalangi, yaitu “Wujud diri” yang   kun fayakun makhluq pada ibarat,
 penuh dengan hasrat dan hawa nafsu.   karena makrifah mereka itu sempurna.   dan barang yang di atas kun fayakun,
 Konsep ini sama dengan pemikiran yang   Oleh karena itu, dibutuhkan upaya   Jangan kita yang tiada bermakrifah   syu’un zati dinamai ahlussuluk…
 dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi, di mana   latihan keras dalam bentuk hidup suluk   berkata demikian, jangan kita turut-  Kata ahlussuluk nyawa amr Allah itu
 terkait dengan hubungan Tuhan dengan   untuk meraih ma‘rifat yang hakiki, yang   turutan, maka dikufurkan pandita yang   belum datang ke bawah kun fayakun.
 alam ia juga menganut konsep tanzih   pada akhirnya mampu membawanya   menghukumkan demikian supaya jangan   Kata ahlussuluk, titah di atas ‘jadi kau’,
 dan tasybih. Hal ini diberikan tamsilan   kepada kondisi “melebur” (fana); dan   segala yang jahil, yang tiada bermakrifah   menjadi! Apabila di atas “jadi kau”!
 bagaikan sebuah bola kaca yang   ketika wujud diri telah meraih fana,   mengatakan demikian, karena makrifah   menjadi khaliq pun tiada, makhluq pun
 diletakkan di tengah lapangan. Cahaya   maka ia pun menjadi Esa dengan   itu terlalu musykil. Barang siapa belum   tiada… Karena itu kata ahlussuluk:
 matahari dapat masuk menembus ke   Tuhannya. Mengenai hal ini, Hamzah   sempurna bermakrifah dan berani seperti   khaliq pun tiada, makhluq pun tiada,
 dalam bola tersebut, sementara ia berada   menegaskan sebagai berikut:  mereka itu, jika ia berkata seperti mereka   karena ia titah Allah Subhanahu wa
 di luarnya. Cahaya tersebut ditamsilkan   itu, kafir hukumnya. 57  Ta‘ala. 59
 sebagai Tuhan, sementara bola adalah   Ada pun fana itu, pada ibarat, ialah   Dari perspektif ini juga Hamzah
 alam. Dalam hal ini, “Tuhan yang berada   melenyapkan segala ghayr Allah. Jika   membenarkan orang-orang yang   Pemikiran Hamzah yang lain yang
 dalam bola itu disebut tasybih dengan   orang fana lagi tahu akan fananya, belum   telah meraih tingkat fana untuk tidak   dianggap telah keluar dari tradisi
 segala sifat-Nya yang terbatas dan juga   ia fana karena fana itu pada ibarat, hapus   melaksanakan shalat, tapi bukan bagi   pemikiran ortodoksi adalah bahwa al-
 ia berada di luar bola itu yang disebut   dari pada ghayr Allah. Apabila belum   orang-orang awam. Ia menyatakan   Qur’an adalah makhluq. Pandangan ini
 tanzih dengan segala sifat-Nya yang   hapus dari pada ghayr Allah, belum   sebagai berikut:  sejalan dengan kepercayaan Mu‘tazilah.
 tidak terbatas.”  Ibn ‘Arabi menekankan   fana hukumnya. Apabila hapus dari pada   Hamzah mengakui adanya “kalam”
 54
 bahwa paham Tauhid harus meliputi   ghayr Allah niscaya yang menyembah   Jangan kita meninggalkan sembahyang   Allah yang merupakan salah satu sifat-
 dua sifat ini sekaligus, yaitu tasybih   pun lenyap, yang disembah pun lenyap   dan jangan kita meninggalkan syari‘at   Nya yang qadim. Namun, kalam Allah
 dan tanzih. Di sinilah kita mencermati   dari pada rasanya, yakni menjadi esa,   karena syari‘at dan hakikat esa jua.   yang telah diturunkan kepada Nabi
 56
 bahwa dari perspektif tasybih, pemikiran   yaitu tiada, lenyap sekali-kali.  Barang siapa belum mabuk atau mahwu   Muhammad SAW melalui malaikat Jibril
 Ibn ‘Arabi adalah bentuk panteisme,   Ketika seseorang telah fana dari dirinya   [hilang sadar] atau belum junun   yang telah diterjemahkan ke dalam
 sementara dari sudut tanzih sesuai   dan baqa dalam Tuhannya, maka   [gila] datang dari pada Allah, jikalau   bahasa manusia dalam bentuk al-Qur’an



 476  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   477
   484   485   486   487   488   489   490   491   492   493   494