Page 488 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 488
Namun, di pihak lain, dengan sifat Allah dengan kepercayaan ahl al-sunnah wa al- sering keluar ungkapan-ungkapan yang meninggalkan sembahyang dan puasa
yang tasybih, Hamzah mempersamakan jama‘ah. 55 menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan; dan makan haram, fasik dan ‘ashi
Tuhan dengan makhluk (alam), seakan dan hal ini adalah sah dan benar adanya, [durhaka] mereka hukumnya. 58
tidak ada perbedaan yang mendasar Penyamaan Tuhan dengan alam karena ia telah mencapai tingkat ma‘rifat Terkait dengan nyawa, Hamzah melihat
antara keduanya. Ia menegaskan: “Segala bermakna Ia berada dalam diri manusia yang sempurna, bukan orang biasa. bahwa nyawa manusia bukan makhluk,
rupa, rupa-Nya, segala warna, warna- dan benda-benda alam lainnya. Namun, Hamzah menegaskan: tapi juga bukan khaliq. Ia menulis
Nya, segala bunyi, bunyi-Nya; karena Ia ini tidak berarti bahwa manusia dengan Banyak lagi masya’ikh yang berkata sebagai berikut:
wahdahu la syarika lahu. Jikalau dikatakan serta merta dapat melihat Tuhan dalam demikian tiada tersebut. Adapun
ada yang lain daripada-Nya, syirk dengan dirinya. Masih ada “hijab” tebal yang mereka itu sekalian berkata demikian Adapun barang yang jadi di bawah
zhulm hukumnya.” 53 menghalangi, yaitu “Wujud diri” yang kun fayakun makhluq pada ibarat,
penuh dengan hasrat dan hawa nafsu. karena makrifah mereka itu sempurna. dan barang yang di atas kun fayakun,
Konsep ini sama dengan pemikiran yang Oleh karena itu, dibutuhkan upaya Jangan kita yang tiada bermakrifah syu’un zati dinamai ahlussuluk…
dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi, di mana latihan keras dalam bentuk hidup suluk berkata demikian, jangan kita turut- Kata ahlussuluk nyawa amr Allah itu
terkait dengan hubungan Tuhan dengan untuk meraih ma‘rifat yang hakiki, yang turutan, maka dikufurkan pandita yang belum datang ke bawah kun fayakun.
alam ia juga menganut konsep tanzih pada akhirnya mampu membawanya menghukumkan demikian supaya jangan Kata ahlussuluk, titah di atas ‘jadi kau’,
dan tasybih. Hal ini diberikan tamsilan kepada kondisi “melebur” (fana); dan segala yang jahil, yang tiada bermakrifah menjadi! Apabila di atas “jadi kau”!
bagaikan sebuah bola kaca yang ketika wujud diri telah meraih fana, mengatakan demikian, karena makrifah menjadi khaliq pun tiada, makhluq pun
diletakkan di tengah lapangan. Cahaya maka ia pun menjadi Esa dengan itu terlalu musykil. Barang siapa belum tiada… Karena itu kata ahlussuluk:
matahari dapat masuk menembus ke Tuhannya. Mengenai hal ini, Hamzah sempurna bermakrifah dan berani seperti khaliq pun tiada, makhluq pun tiada,
dalam bola tersebut, sementara ia berada menegaskan sebagai berikut: mereka itu, jika ia berkata seperti mereka karena ia titah Allah Subhanahu wa
di luarnya. Cahaya tersebut ditamsilkan itu, kafir hukumnya. 57 Ta‘ala. 59
sebagai Tuhan, sementara bola adalah Ada pun fana itu, pada ibarat, ialah Dari perspektif ini juga Hamzah
alam. Dalam hal ini, “Tuhan yang berada melenyapkan segala ghayr Allah. Jika membenarkan orang-orang yang Pemikiran Hamzah yang lain yang
dalam bola itu disebut tasybih dengan orang fana lagi tahu akan fananya, belum telah meraih tingkat fana untuk tidak dianggap telah keluar dari tradisi
segala sifat-Nya yang terbatas dan juga ia fana karena fana itu pada ibarat, hapus melaksanakan shalat, tapi bukan bagi pemikiran ortodoksi adalah bahwa al-
ia berada di luar bola itu yang disebut dari pada ghayr Allah. Apabila belum orang-orang awam. Ia menyatakan Qur’an adalah makhluq. Pandangan ini
tanzih dengan segala sifat-Nya yang hapus dari pada ghayr Allah, belum sebagai berikut: sejalan dengan kepercayaan Mu‘tazilah.
tidak terbatas.” Ibn ‘Arabi menekankan fana hukumnya. Apabila hapus dari pada Hamzah mengakui adanya “kalam”
54
bahwa paham Tauhid harus meliputi ghayr Allah niscaya yang menyembah Jangan kita meninggalkan sembahyang Allah yang merupakan salah satu sifat-
dua sifat ini sekaligus, yaitu tasybih pun lenyap, yang disembah pun lenyap dan jangan kita meninggalkan syari‘at Nya yang qadim. Namun, kalam Allah
dan tanzih. Di sinilah kita mencermati dari pada rasanya, yakni menjadi esa, karena syari‘at dan hakikat esa jua. yang telah diturunkan kepada Nabi
56
bahwa dari perspektif tasybih, pemikiran yaitu tiada, lenyap sekali-kali. Barang siapa belum mabuk atau mahwu Muhammad SAW melalui malaikat Jibril
Ibn ‘Arabi adalah bentuk panteisme, Ketika seseorang telah fana dari dirinya [hilang sadar] atau belum junun yang telah diterjemahkan ke dalam
sementara dari sudut tanzih sesuai dan baqa dalam Tuhannya, maka [gila] datang dari pada Allah, jikalau bahasa manusia dalam bentuk al-Qur’an
476 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 477

