Page 492 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 492
penganut paham wahdat al-wujud, bukan berwujud. Segala sesuatu fana dalam yang dikembangkan oleh Muhammad ketidakbatasan. Hakikat-Nya tidak diketahui
yang lain; dan inilah yang menjadi zat Allah, [tapi] berwujud dengan b. Fadhlillah al-Burhanpuri (wafat 1030 oleh selain Dia. Pengetahuan tentang wujud
ciri khas yang membedakan mereka Tuhan. Tuhan berwujud dengan zat-Nya H/1620 M), yang dikenal denga teori pada martabat ini paling sempit ruangnya,
dengan kalangan sufi lainnya. Syams sendiri. Dengan Dia-lah tegaknya segala martabat tujuh, yaitu ahadiyyah, wahdah, paling sulit untuk dibicarakan, paling rumit
68
al-Din menegaskan bahwa makna ini sesuatu, maka Dia adalah penegak segala wahidiyyah, ‘alam arwah, ‘alam mitsal, ‘alam untuk dipikirkan, dan paling sukar untuk
merupakan tauhid hakiki (al-tawhid al- sesuatu. 71 ajsam, dan ‘alam insan. Berikut adalah disebut. Pengetahuan sang ‘arif tentang
haqiqi) atau tauhid yang murni (al-tawhid Berangkat dari ajaran ini, maka wujud bahasan singkat mengenai hal ini. martabat ini merujuk kepada penyucian dan
al-khalish). 69 pengkudusan. 74
alam merupakan mitsl-Nya (mirip Martabat yang pertama adalah martabat
Makna kalimah tauhid “tiada wujud selain degan bentuk Tuhan), namun ia idak ahadiyyah (keesaan). Mengenai martabat Pernyataan Syams al-Din yang dikutip
Allah” memberikan indikasi bahwa dapat disetarakan dengan Tuhan. Di ini Syams al-Din menegaskan dalam di atas singkat dan jelas, dan sejalan
wujud itu hanya satu (esa), tidak berbilang, sinilah, sesuai dengan ajaran Ibn ‘Arabi, untaian berikut: dengan martabat ahadiyyah yang
dan wujud hakiki itu hanyalah Tuhan, kesatuan wujud Tuhan dengan alam Pertama-tama [martabat] wujud itu diajarkan oleh Ibn ‘Arabi, yaitu bahwa
sementara yang lain adalah “bayangan”. harus dipahami melalui konsep tanzih bernama ahadiyyah, dalam martabat ini, yang ia juga sebut
Alam, menurutnya, adalah khayal (al- dan tasybih secara bersamaan. Syams al- dengan nama martabat dzatiyyah, wujud
kawn khayal). Artinya, maujud alam ini Din menulis: di sanalah sakit sekalian ibarat, Allah merupakan zat yang mutlak
tidak hakiki, melainkan bayangan atau Hendaklah ma‘rifah anda ma‘rifah tiada tersebut di sana sifat dan dan abstrak. Ia tidak bersifat dan tidak
majazi. Yang hakiki hanya wujud Allah yang sempurna, yakni memadu tanzih asma’iyyah, bernama, sehingga ia tidak dapat
semata. Menurut Syams al-Din, “Tuhan… dengan tasybih, kemudian tanzih tanpa dipahami dan dikhayalkan.
adalah wujud yang tiada suatu pun yang meluputkan tasybih yang merupakan itulah martabat hakikat dzat,
persis seperti Dia, dan tiada suatu pun ma‘rifah dari segi penampakan-Nya ibarat dan isyarat pun tiada di sana, Yang kedua adalah martabat wahdah.
(yang berdiri sendiri) menyertai-Nya, tapi melalui segala tubuh. Barang siapa yang hanya munazzahah juga, Syams al-Din menegaskan dalam
segala sesuatu yang ada (yang dijadikan) ma‘rifah tentang Tuhan hanya bersifat untaian berikut:
merupakan lawazim-Nya (akibat-akibat tanzih, maka ia adalah ‘arif yang kurang, semata adanya ithlaq, Kedua, martabat wujud itu bernama
yang mesti muncul kerena keberadaan- siapa yang ma‘rifahnya bersifat tasybih dan taqayyud sertanya, wahdah,
Nya) tanpa terjadi perubahan pada zat dan semata, maka ia bodoh dan kafir, dan 73
sifat-Nya.” Mengenai hal ini Syams al-Din siapa yang ma‘rifahnya menghimpun hanya Ia juga. itulah hakikat Muhammad,
70
menegaskan: keduanya, kemudian bersifat tanzih Pada tempat lain ia menegaskan sebagai nyata yang pertama di dalam ‘ilmiyyah,
Segala sesuatu tidaklah berwujud semata, maka ia adalah ‘arif sempurna berikut: sekalian mawjudat pun di sana nyata,
kecuali dengan Dia karena semuanya yang disempurnakan. 72 Dan wujud itu pada martabat tanpa- atas jalan ijmal,
itu hanya berwujud dengan Allah; dan Dalam pembahasan mengenai wujud penampakan-diri, ketidakterbatasan, dan
Allah Subhanahu wa Ta‘ala membuat Tuhan dan alam dari perspektif wahdat keesaan semata, suci dari relasi sifat dan dari hendaklah kau ketahui hakikat kata,
segala sesuatu itu berdiri tegak atau al-wujud, Syams al-Din mengikuti ajaran segala batasan, bahkan juga dari batasan pikirkan di sini nyata-nyata. 75
480 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 481

