Page 487 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 487

ini tajalli sesungguhnya merupakan   menjadi objek ‘ilmu, adalah hakikat alam   Hakikat alam yang ditamsilkan oleh   tetapi asalnya sebiji itu jua.”  Dengan
                                                                            49
 suatu proses yang terjadi di dalam zat   semesta, yang dikenal dengan al-a‘yan   Hamzah bagaikan pohon kayu yang ada   mengutip ungkapan al-Hallaj, Hamzah
 itu sendiri. Zat bersifat azali dan abadi,   al-tsabitah. Dengan demikian, al-a‘yan al-  dalam biji membutuhkan firman ciptaan,   menegaskan: “seperti biji dalam pohon
 demikian pula halnya dengan proses   tsabitah merupakan hasil tajalli ‘ilmu, yang   yaitu Kun, untuk dapat beralih dari   kayu, sungguh pun lahirnya tiada
 itu sendiri, yakni azali dan abadi.   membuat al-a‘yan al-tsabitah itu diketahui,   potensi kepada aktual. Firman ini sendiri   kelihatan, hakikatnya esa jua. Sebab
 Hamzah menegaskan bahwa sifat ilmu   meskipun masih dalam bentuk potensial,   bersifat qadim, kekal, dan tidak dengan   inilah Mansur al-Hallaj mengatakan:
 merupakan di antara sifat-sifat penting   belum aktual. Dengan demikian, dalam   lidah atau suara, melainkan dengan kata   ‘Ana al-Haqq,’ setengah setengahnya
 dalam tajalli; dan dengan sifat ilmu ini   wujud hakikat, alam semesta ini berada   isyarat. Hamzah menegaskan: “…kata   mengatakan: ‘Ana Allah,’ karena adanya
                                                                         50
 maka lahir sifat-sifat yang lain. Berikut   dalam ‘ilmu Allah. Artinya, ia berada   qadim dengan kata isyarat juga, bukan   itu tiadalah dilihat lagi.”  Di sini dapat
 dikutip penegasan Hamzah Fansuri:  dalam zat Allah, karena sifat itu adalah   dengan lidah, denga suara. Jikalau dengan   disimpulkan bahwa Hamzah adalah
 ‘ayn zat. Hamzah menegaskan: “Adapun   lidah dan suara dapat dikatakan makhluq.   seorang penganut ajaran panteisme dalam
 Adapun maka dikatakan ilmu pertama   kata ahlussuluk, sungguhpun ia [ma‘lumat   Karena Allah SWT Mahasuci, kalam-  arti sesungguhnya. Menurutnya, “Tuhan
 nyata dari pada segala nyata karena   atau hakikat alam] tiada mawjud pada   Nya pun Mahasuci dari pada lidah dan   dan alam merupakan suatu hakikat yang
 tatkala Allah Subhanahu wa Ta‘ala   lahirnya, tetapi pada bathinnya ia   suara.” 48  tidak dapat dipisahkan, bukan saja dalam
 menilik dirinya dengan ilmu-Nya, maka   mawjud; ada seperti pohon kayu itu juga;   martabat Ilahi (kanzan makhfiyyan), tetapi
 jadi tiga, bergelarnya: ‘alim, ‘ilmu,   sesungguh pun belum keluar dari dalam   Martabat yang ketiga adalah yang   juga dalam dunia empiris.” 51
 ma‘lum. Yang menilik bernama ‘alim,   biji itu hukumnya adalah biji itu, tiada   dikenal dengan martabat tajalli di luar
 yang ditilik bernama ma‘lum, tilik   syak lagi.” 46  zat. Tajalli ini bermakna bahwa melalui   Sebagaimana konsep yang kembangkan
 menilik bernama ‘ilmu. Ketiganya esa   firman Kun hakikat alam (al-a‘yan al-  oleh Ibn ‘Arabi, Hamzah menegaskan
 juga, namanya berlain-lainan… Zat   Lebih jauh Hamzah membuat tamsil   tsabitah) yang terpendam dalam Zat   bahwa dalam kaitannya dengan alam,
 terbumi di dalam ‘alim dan ma‘lum, dan   seperti pohon kayu dalam biji. Ia   yang Mutlak mendapat limpahan   Tuhan memiliki dua sifat, yaitu tanzih
 ‘ilmu. Maka bergelar Awwal dan Akhir   menulis:  wujud, yang berakibat pada munculnya   dan tasybih. Sifat tanzih ditegaskan
 dan Zhahir dan Bathin. Yang menilik   Adapun tamsil perbendaharaan itu   wujud empiris. Hal ini ditamsilkan oleh   adanya perbedaan yang esensial antara
 bernama Awwal, yang ditilik bernama   seperti pohon kayu sepohon dalam   Hamzah seperti sebatang pohon kayu   Tuhan dengan alam. Mengenai hal ini
 Akhir yang ditilik bernama Zhahir,   bijinya. Biji itu perbendaharaan.   yang dulu terpendam dalam sebuah biji,   Hamzah menulis:
 yang menilik bernama Bathin. 45  melalui firman Kun, menjadi tumbuh
 Pohon kayu yang dalamnya itu   aktual, sementara biji terserap ke dalam   Firman Allah Ta‘ala: SWT:
 Dengan tajalli ini, zat yang Mutlak   isi perbendaharaan tersembunyi   seluruh bagian pohon tersebut. Hamzah   “Subhanallah ‘amma yashifun.” Yakni
 menyadari adanya daya-daya potensial   dengan lengkapnya, akarnya, dengan   menegaskan: “tamsil seperti biji sebiji,   Mahasuci Allah tiada dapat diperikan.
 yang terdapat dalam dirinya. Zat Mutlak   batangnya, dengan cabangnya, dengan   dalamnya pohon kayu sepohon dengan   Lagi Firman Allah Ta‘ala: “laysa
 yang kini bernama Allah mengetahui   dahannya, dengan rantingnya, dengan   selengkapnya. Asalnya biji itu juga,   kamislihi syaiun,” Yakni tiada suatu
 (‘alim) segala sesuatu (ma‘lum), karena Ia   daunnya, dengan bunganya, dengan   setelah menjadi kayu, biji tersebut itu   pun barang yang kita bicarakan dengan
 sesungguhnya bersifat ‘ilmu (tilik-menilik   buahnya, sekalian lengkap dalam biji   ghayb, kayu juga kelihatan. Warnanya   hati kita atau dengan makrifat kita sudah-
 subjek dengan objek). Ma‘lum, yang   sebiji itu. 47  berbagai-bagai, rasanya berbagai-bagai,   sudah, yaitu sama-sama.” 52



 474  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   475
   482   483   484   485   486   487   488   489   490   491   492