Page 491 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 491

adalah baharu; oleh karena itu ia adalah   Tuhan kamu radhi akan Dia dan radhi Ia   (berkuasa 1607-1636). Ia dikenal sangat   bahasa Arab, di mana ia memaparkan
 makhluq. Dalam karyanya Asrar al-‘Arifin   akan kamu. Maka masuk surga-Ku, hai   dekat dengan penguasa terkuat Aceh ini,   pemikiran tasawuf falsafinya di bawah
 Hamzah menegaskan sebagai berikut:  hamba-hamba-Ku.  dan bahkan dikatakan ia menjadi mentor   pengaruh tradisi pemikiran Ibn ‘Arabi.

 Adapun kepada mazhab Mu‘tazilah dan   Artinya, datangnya pun dari pada laut,   sufi (mursyid) bagi Iskandar Muda;   Namun, struktur karya Syams al-Din
                                                    ini mengikuti skema yang disajikan oleh
            dan ia juga membawa penguasa ini ke
 Rafidhah dan Zindiq, kalam Allah itu   pulangnya pun kepada laut jua…karena   dalam tarikat Naqsyabandiyah. Kedekatan   tokoh sufi dari India, yaitu Muhammad
 makhluq. Pada hukum syari‘at, barang   pada orang berahi yang wasl, jannah   ini membawa Shams al-Din kepada   b. Fadhl Allah al-Burhanpuri (wafat 1590),
 siapa mengatakan kalam Allah makhluq   itulah yang dikatakan dalam ayat:   beberapa posisi penting di kerajaan,   dalam karyanya yang berjudul al-Tuhfah
 ia itu kafir, na‘uzu billahi minhu.   fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli fi jannati.   termasuk sebagai pemegang otoritas   al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Karya ini
 Kalam adalah peri zat, qadim sama-  Pulanglah ia kepada tempat kuntu   agama tertinggi, yaitu sebagai Syaikh   melengkapi pemikiran tasawuf falsafi Ibn
 sama dengan sekalian yang sedia ketujuh   kanzan makhfiyyan. 61  al-Islam, penasihat Sultan, ketua dewan   ‘Arabi dengan teori martabat tujuh. Adalah
 itu. Adapun kalam Allah yang dibawa   Di sini terlihat dengan jelas konsistensi   kerajaan (chief councillor), dan bahkan   Syams al-Din yang memperkenalkan
 Jibril kepada Nabi Muhammad SAW   Hamzah dalam menganut panteisme,   sebagai wakil Sultan ketika melakukan   teori ini di Sumatra, Jawa, dan kawasan
 yang tesurat dalam Mashhaf itu dapat   karena Tuhan imanen dalam alam   pembicaraan dengan berbagai utusan   Nusantara secara umum. 66
 dikatakan makhluq karena hukumnya   empiris, maka kematian manusia   asing. Inilah yang membuatnya unik bila
 sudah bercerai dengan zat pada ibarat. 60  bermakna bersatu dengan Tuhan.  dibandingkan dengan para tokoh agama   Pandangan dasar wujudiyyah tokoh ini
                                                    dapat dicermati dari pandangannya
 Ajaran Hamzah, yang juga mendapat   Pemikiran Hamzah ini diadopsi dan   yang lain dalam sejarah kerajaan ini. 64  mengenai makna yang diberikan
 kritik keras dari para ulama ahl al-sunnah   dikembangkan oleh Syaikh Syams al-Din   Namun, yang lebih terpenting dari itu   terhadap kalimah tauhid (la ilaha illa
 wa al-jama‘ah, terutama al-Raniri, adalah   Sumatrani. Ia adalah tokoh pemikir, sufi,   semua adalah perannya sebagai seorang   Allah). Menurutnya, pemahaman kalimah
 persoalan nyawa yang menurutnya akan   dan petinggi di kerajaan Aceh ketika   “sufi” dan pemikir Islam. Johns menulis   ini tergantung pada tingkatan salik
 kembali bersatu dengan Tuhan. Dalam   itu. Berasal dari Samudra-Pasai, yang   bahwa Syams al-Din adalah seorang   (penempuh jalan tasawuf). Bagi pemula
 hal ini, ia membuat perumpamaan   menjadi nisbah di belakang namanya,   “sarjana [ulama] yang luar biasa”. Ia   (al-mubtadi’) kalimah ini dipahami sebagai
 bagaikan ombak yang akhirnya kembali   Syams al-Din diperkirakan lahir   menguasai bahasa Arab dan Melayu   “tidak ada ma‘bud (yang disembah)
 dan bersatu ke laut. Dalam karyanya   sebelum tahun 1575,  dan wafat pada   dengan sangat baik, yang membawanya   kecuali Allah.” Bagi yang berada pada
 62
 yang berjudul al-Muntahi, Hamzah   tahun 1630.  Ia adalah seorang ulama   menjadi “orang Djawi [Melayu] pertama   tingkat menengah (al-mutawassith) kalimah
 63
 menulis sebagai berikut:  yang juga dikenal sebagai pengikut,   yang diketahui telah meninggalkan   tauhid ini bermakna: “tidak ada maqshud
 dan bahkan tokoh, aliran wujudiyyah di   karya-karya penting dalam bahasa Arab   (yang dikehendaki) kecuali Allah”.
 Ya ayyatuha al-nafs al-                       65
 muthma’innah, irji‘i ila rabbiki   Aceh setelah Hamzah Fansuri wafat. Ia   dan sejumlah karya berbahasa Melayu.”    Namun, bagi yang telah mencapai
            Di antara karyanya yang terkenal
                                                    tingkat akhir (al-muntahi) kalimah ini
 bahkan diklaim sebagai murid Hamzah.
 radhiyatan mardhiyyah, fadkhuli fi   Yang menarik dari tokoh ini adalah   berkenaan dengan tasawuf falsafi adalah   bermakna: “tidak ada mawjud (wujud)
 ‘ibadi wadkhuli jannati…
 peran penting yang ia lakoni di kerajaan   Mir’at al-Mu’minin. Namun, karyanya   kecuali Allah”.  Makna yang diberikan
                                                                 67
 Hai segala kamu yang bernyawa   Aceh ketika itu, terutama pada masa   yang juga tidak kalah penting berjudul   atas kalimah tauhid ini (“tidak ada wujud
 muthma’innah! Pulanglah kamu kepada   pemerintahan Sultan Iskandar Muda   Jawhar al-Haqa’iq. Kitab ini ia tulis dalam   selain Allah”) hanya diberikan oleh


 478  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   479
   486   487   488   489   490   491   492   493   494   495   496