Page 495 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 495

Pada tempat lain, Syams al-Din   tahap awal ini merupakan “akibat   Ketiga, martabat wujud itu bernama   Kutipan di atas memberikan tekanan
 menegaskan sebagai berikut:  dari adanya kehendak (iradah) Tuhan   wahidiyyah,  pada konsep bahwa martabat ketiga
 untuk menampakkan diri-Nya dalam                   (wahidiyyah) sesungguhnya masih
 Maka ketahuilah bahwa Tuhan (al-Haqq)   diri-Nya sendiri dengan pengetahuan   itulah racana wahdah, hakikat   berbentuk penampakan (tajalli) dalam
 Subhanahu wa Ta‘ala tatkala ingin   yang mutlak (umum/ijmali) atau   insaniyyah,  diri Tuhan. Bila martabat kedua
 melahirkan kehendak “Aku adalah harta   sebagai akibat adanya kehendak-  di sanalah nyata ma‘lum di dalam   merupakan hasil tajalli dengan satu
 terpendam, maka Aku ingin agar dikenal,   ‘ilmiyyah,  nama, yaitu Allah, maka martabat yang
 maka Aku ciptakan makhluk, melalui   Nya untuk merealisasikan kecintaan   ketiga (wahidiyyah) ini merupakan hasil
 mana mereka mengenal-Ku,” maka   (kerinduannya)-Nya untuk dikenal   atas jalan bernama tafshiliyyah. 81  tajalli wujud Tuhan dengan dua nama,
 muncullah kecantikan-Nya pada cermin   oleh alam atau manusia melalui   Pada tempat lain Syams al-Din   yaitu al-Raman dan al-Rahim. Dari tajalli
 78
 nama-nama dan sifat-sifat. 76  alam.”  Shams al-Din selanjutnya   menegaskan:  Tuhan dengan nama al-Rahman, muncul
 menegaskan bahwa “penampakan
 Syams al-Din juga menegaskan bahwa:  wujud mutlak Tuhan dalam tajalli ini   Bahwa Tuhan Subhanahu wa Ta‘ala   pengetahuan yang detail dalam diri
 adalah dengan nama Allah. Maka   tatkala berkehendak untuk ber-tajalli pada   Tuhan mengenai sifat-sifat dan asma-
 Tuhan (al-Haqq) Subhanahu wa Ta‘ala   diri-Nya sendiri dengan pengetahuan   Nya sendiri. Selanjutnya, tajalli wujud-
 tatkala ingin ber-tajalli dalam diri-  ta‘ayyun awal menjadi bentuk (shurah)   Nya denga nama al-Rahim memunculkan
 Nya sendiri dengan pengetahuan yang   dan hamba (ma’luhah); dan Ia [subjek   yang terperinci, maka muncullah dalam   pengetahuan-Nya yang terperinci
 79
 mutlak, maka muncullah wujud-Nya   yang ber-tajalli) disebut Tuhan (Ilah).”    pengetahuan yang terperinci itu wujud-  mengenai hakikat-hakikat alam (a‘yan
            Nya yang mutlak dengan semua nama-
 yang mutlak dalamnya dengan semua   Pada martabat kedua ini juga disebut   tsabitah).
 syu’un ketuhanan dan kemakhlukan   nama atau sebutan hakikat Muhammad.   nama dan sifat-sifat ketuhanan dan
            kealaman dengan perbedaan nyata antara
 tanpa pembedaan bagian dengan bagian,   Dalam hal ini, hakikat Muhammad,   bagian dengan bagian. Maka dinamakan   Dalam pandangan Syams al-Din, al-
 maka dinamakan wahdah dan hakikat   dalam pandangan Syams al-Din,   ia dengan wahidiyyah hakikat   a‘yan al-tsabitah tidak memiliki wujud
 Muhammadiyyah dan ahadiyyah   mengacu kepada wujud ‘ilmu dalam   insaniyyah, dan keesaan kemajemukan,   aktual, dan bahkan ia tidak mencium
                                                                83
 himpunan. 77  diri Tuhan yang bersifat umum, bukan   aroma wujud.  Namun, sebagai ide-ide
 wujud aktual. Singkatnya, martabat   dan ia adalah semua yang bersifat   ia selamanya berada dalam ilmu Tuhan.
 Kutipan di atas menunjukkan bahwa   kedua ini mengandung sifat-sifat   rahmaniyyah. Dengan munculnya   Al-a‘yan al-tsabitah masih dalam bentuk
 pada martabat wahdah ini zat yang   Tuhan, di mana realitas adalah hakikat   wujud mutlak dengan nama al-Rahman,   bayang-bayang yang dimulai dari nama-
 mutlak (Tuhan) ber-tajalli melalui sifat-  Muhammad dengan karakteristik   yang menghasilkan kemunculan nama-  nama (asma) Tuhan. Berikutnya, nama-
 sifat dan asma, yang menampakkan   belum ada ciptaan dan keberagaman   nama dan sifat-sifat, dan dengan   nama-Nya adalah bayang-bayangan
 diri di dalam zat-Nya, yakni wujud-  yang eternal (kekal) dalam kesatuan   nama al-Rahim, yang menghasilkan   dari sifat-sifat-Nya; sementara sifat-
 wujud ‘ilmi dan kecantikan-Nya yang   (unity). 80  kemunculan a‘yan tsabitah, maka jadilah   sifat-Nya sesungguhnya merupakan
 berbentuk ijmali (umum). Dengan kata   penampakan tahap kedua sebagai bentuk   bayang-bayangan dari dzat-Nya yang
 lain, penampakan (tajalli/ta‘ayyun)   Berikutnya adalah martabat   (shurah) dan hamba bagi kedua nama   esa. Dari siklus ini dapat dipahami
 yang muncul dalam diri Tuhan atau   wahidiyyah. Mengenai martabat ini   itu dan kedua nama itu sebagai rabb   bahwa al-a‘yan al-tsabitah merupakan
 ilmu-Nya bersifat umum (ijmali). Tajalli   Syams al-Din menulis sebagai berikut:  (Tuhan). 82  “pola-pola rancangan tetap dan lengkap



 482  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   483
   490   491   492   493   494   495   496   497   498   499   500