Page 493 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 493

penganut paham wahdat al-wujud, bukan   berwujud. Segala sesuatu fana dalam   yang dikembangkan oleh Muhammad   ketidakbatasan. Hakikat-Nya tidak diketahui
 yang lain; dan inilah yang menjadi   zat Allah, [tapi] berwujud dengan   b. Fadhlillah al-Burhanpuri (wafat 1030   oleh selain Dia. Pengetahuan tentang wujud
 ciri khas yang membedakan mereka   Tuhan. Tuhan berwujud dengan zat-Nya   H/1620 M), yang dikenal denga teori   pada martabat ini paling sempit ruangnya,
 dengan kalangan sufi lainnya.  Syams   sendiri. Dengan Dia-lah tegaknya segala   martabat tujuh, yaitu ahadiyyah, wahdah,   paling sulit untuk dibicarakan, paling rumit
  68
 al-Din menegaskan bahwa makna ini   sesuatu, maka Dia adalah penegak segala   wahidiyyah, ‘alam arwah, ‘alam mitsal, ‘alam   untuk dipikirkan, dan paling sukar untuk
 merupakan tauhid hakiki (al-tawhid al-  sesuatu. 71  ajsam, dan ‘alam insan. Berikut adalah   disebut. Pengetahuan sang ‘arif tentang
 haqiqi) atau tauhid yang murni (al-tawhid   Berangkat dari ajaran ini, maka wujud   bahasan singkat mengenai hal ini.  martabat ini merujuk kepada penyucian dan
 al-khalish). 69                                    pengkudusan. 74
 alam merupakan mitsl-Nya (mirip   Martabat yang pertama adalah martabat
 Makna kalimah tauhid “tiada wujud selain   degan bentuk Tuhan), namun ia idak   ahadiyyah (keesaan). Mengenai martabat   Pernyataan Syams al-Din yang dikutip
 Allah” memberikan indikasi bahwa   dapat disetarakan dengan Tuhan. Di   ini Syams al-Din menegaskan dalam   di atas singkat dan jelas, dan sejalan
 wujud itu hanya satu (esa), tidak berbilang,   sinilah, sesuai dengan ajaran Ibn ‘Arabi,   untaian berikut:  dengan martabat ahadiyyah yang
 dan wujud hakiki itu hanyalah Tuhan,   kesatuan wujud Tuhan dengan alam   Pertama-tama [martabat] wujud itu   diajarkan oleh Ibn ‘Arabi, yaitu bahwa
 sementara yang lain adalah “bayangan”.   harus dipahami melalui konsep tanzih   bernama ahadiyyah,  dalam martabat ini, yang ia juga sebut
 Alam, menurutnya, adalah khayal (al-  dan tasybih secara bersamaan. Syams al-  dengan nama martabat dzatiyyah, wujud
 kawn khayal). Artinya, maujud alam ini   Din menulis:  di sanalah sakit sekalian ibarat,  Allah merupakan zat yang mutlak
 tidak hakiki, melainkan bayangan atau   Hendaklah ma‘rifah anda ma‘rifah   tiada tersebut di sana sifat dan   dan abstrak. Ia tidak bersifat dan tidak
 majazi. Yang hakiki hanya wujud Allah   yang sempurna, yakni memadu tanzih   asma’iyyah,  bernama, sehingga ia tidak dapat
 semata. Menurut Syams al-Din, “Tuhan…  dengan tasybih, kemudian tanzih tanpa   dipahami dan dikhayalkan.
 adalah wujud yang tiada suatu pun yang   meluputkan tasybih yang merupakan   itulah martabat hakikat dzat,
 persis seperti Dia, dan tiada suatu pun   ma‘rifah dari segi penampakan-Nya   ibarat dan isyarat pun tiada di sana,  Yang kedua adalah martabat wahdah.
 (yang berdiri sendiri) menyertai-Nya, tapi   melalui segala tubuh. Barang siapa yang   hanya munazzahah juga,  Syams al-Din menegaskan dalam
 segala sesuatu yang ada (yang dijadikan)   ma‘rifah tentang Tuhan hanya bersifat   untaian berikut:
 merupakan lawazim-Nya (akibat-akibat   tanzih, maka ia adalah ‘arif yang kurang,   semata adanya ithlaq,  Kedua, martabat wujud itu bernama
 yang mesti muncul kerena keberadaan-  siapa yang ma‘rifahnya bersifat tasybih   dan taqayyud sertanya,  wahdah,
 Nya) tanpa terjadi perubahan pada zat dan   semata, maka ia bodoh dan kafir, dan   73
 sifat-Nya.”  Mengenai hal ini Syams al-Din   siapa yang ma‘rifahnya menghimpun   hanya Ia juga.  itulah hakikat Muhammad,
 70
 menegaskan:  keduanya, kemudian bersifat tanzih   Pada tempat lain ia menegaskan sebagai   nyata yang pertama di dalam ‘ilmiyyah,

 Segala sesuatu tidaklah berwujud   semata, maka ia adalah ‘arif sempurna   berikut:  sekalian mawjudat pun di sana nyata,
 kecuali dengan Dia karena semuanya   yang disempurnakan. 72  Dan wujud itu pada martabat tanpa-  atas jalan ijmal,
 itu hanya berwujud dengan Allah; dan   Dalam pembahasan mengenai wujud   penampakan-diri, ketidakterbatasan, dan
 Allah Subhanahu wa Ta‘ala membuat   Tuhan dan alam dari perspektif wahdat   keesaan semata, suci dari relasi sifat dan dari   hendaklah kau ketahui hakikat kata,
 segala sesuatu itu berdiri tegak atau   al-wujud, Syams al-Din mengikuti ajaran   segala batasan, bahkan juga dari batasan   pikirkan di sini nyata-nyata. 75



 480  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   481
   488   489   490   491   492   493   494   495   496   497   498