Page 498 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 498

terlihat [oleh] mata kepala dan terdengar   manusia dalam mencapai ma‘rifah Allah,                  martabat alam insan ini dibandingkan   yaitu Nur al-Din al-Raniri (wafat 1658),
            [oleh] telinga dan terasa [oleh] perasa   sebagai tujuan tertinggi yang diraih                      dengan martabat-martabat lainnya. Oleh   yang berhasil menarik simpati Sultan
            tubuh; maka itulah yang bernama alam    oleh seorang sufi; dan pencapaian ini                       karena itu, martabat ketujuh disebut   Aceh yang berkuasa saat itu, yaitu Sultan
            mulk.”  Di sini terlihat jelas bahwa    tidak akan terwujud tanpa manusia                           juga dengan syai’un jami‘, yakni sesuatu   Iskandar Thani (berkuasa 1636-1641).
                  91
            yang dimaksud dengan mulk di sini       itu mengenal dirinya. Syams al-Din                          yang menghimpun semua martabat         Adalah di bawah patron penguasa ini al-
            adalah realitas “empiris”. Penggunaan   menegaskan sebagai berikut:                                 tajalli sebelumnya, dan nama Tuhan yang   Raniri mampu melakukan perlawanan
            alam ajsam dengan alam syahadah                                                                     ber-tajalli melalui alam insan ini adalah   intelektual, bahkan politik, terhadap
            diungkapkan oleh Syams al-Din sebagai   Maka segala ‘arif rabbani berkata,                          al-Jami‘ (Yang Maha Menghimpun). 96    aliran wujudiyyah di Aceh ketika itu.
            berikut:                                jikalau tiada ia mengenal ruh al-insan                                                             Gerakan ortodoksi ini terus berlanjut
                                                    dan tiada ia mengenal ruh al-qudus,                         Anjuran agar manusia mengenal dirinya   pada masa ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili
            Fasal kelima tentang alam syahadah…     artinya nyawa-nyawanya, niscaya tiada                       (ruh) didasari atas ajaran bahwa Tuhan,   (wafat 1693), namun dalam bentuk yang
            bahwa Allah SWT tatkala menghendaki     [ia] mengenal Allah Ta‘ala karena yang                      dengan segala sifat-Nya, tersembunyi   lebih lembut dan bersahabat. Tokoh lain
            ber-tajalli pada bukan diri-Nya dengan   tempat tajalli Allah Ta‘ala itu tiada                      di dalam sifat-sifat manusia (ruh).    di Nusantara ketika itu yang terkenal
            tajalli yang nyata, maka Ia menciptakan   dikenalnya, maka betapa [dirinya] dapat                   Sementara ruh manusia menjalankan      dengan pemikiran ortodoksi menentang
            tubuh yang bersifat gelap; ia merupakan   mengenal Allah Ta‘ala. 93                                 fungsi sebagai “cermin” di mana bayang-  ajaran wujudiyyah adalah Muhammad
            sesuatu yang tersusun, tebal, dapat     Manusia, menurut Syams al-Din,                              bayang segala sifat Tuhan dapat terlihat.   Yusuf al-Maqassari (wafat 1699), seorang
            dibagi, dapat dipisah-pisah, dan dapat   merupakan realisasi dari kehendak                          Syams al-Din menegaskan bahwa          ulama yang berpetualang dari Sulawesi,
            dipadukan; maka ia dinamakan tubuh      (iradah) Tuhan untuk ber-tajalli pada                       “karena diri kita umpama cermin yang   Banten, Timur Tengah, Turki, hingga
            materi dan alam syahadah. Wujud         bukan dirinya dengan bentuk tajalli                         terang, maka apabila kita menilik [ke]   Afrika Selatan. Era ini dikenal dengan
            yang mutlak menampakkan diri dengan     yang paling jelas.  Dengan kata lain,                       dalamnya, niscaya [kita] melihat segala   periode muncul dan maraknya format
                                                                   94
            semua nama dan sifat melalui Tubuh      tajalli Tuhan melalui setiap bagian dari                    sifat Tuhan itu, yakni nyata Tuhan itu   intelektual keagamaan yang baru, yang
                                                                                                                                  97
            materi yang bersifat gelap itu merupakan   alam tidak sama tingkat kejelasannya.                    dalam diri kita juga.”  Argumentasi ini   dikenal dengan neo-sufisme.
            selubung Allah SWT dalam alam           Dalam hal ini, tajalli melalui “manusia”                    ia perkuat dengan ajaran dari, apa yang
            syahadah. Wujud mutlak dengan nama      merupakan bentuk yang paling jelas,                         ia percayai, hadits yang menegaskan
            al-Zhahir muncul dalam tajalli ini; maka   karena “alam manusia berpotensi untuk                    bahwa “hati mukmin itu umpama          Neo-Sufisme
            jadilah tubuh sebagai bentuk dan hamba   dapat membayangkan lebih terang                            cermin, apabila ditilik, di dalamnya   Neo-sufisme, yang diperkenalkan oleh
            nama itu, sedang nama al-Zhahir tersebut   atau lebih banyak sifat-sifat ketuhanan                  nyatalah Tuhanmu.” 98                  Fazlur Rahman, mengacu kepada trend
            sebagai Tuhan. 92                       melalui dirinya.”  Syams al-Din dalam                       Pandangan tasawuf falsafi yang         pemikiran yang berupaya mendekatkan
                                                                   95
            Martabat yang ketujuh adalah alam       hal ini mengutip sebuah hadits yang ia                      berkembang di Nusantara, khususnya di   antara dua kutub, tasawuf dan syari’at.
            manusia (insan). Martabat ini merupakan   katakan sebagai qudsi yang berbunyi:                      Aceh ini, akhirnya memicu kontroversi   Ini merupakan pembaharuan (reform)
            topik bahasan yang paling penting       “Aku tidak menampakkan diri pada                            di kalangan ulama ortodoks (ahl al-    dalam bidang tasawuf, di mana elemen
            dalam diskursus mengenai alam. Ini      sesuatu seperti penampakan-Ku melalui                       sunnah wa al-jama‘ah). Reaksi yang keras   ekstatik dan metafisiknya dihilangkan
            dapat dipahami karena peran penting     manusia.” Ini menunjukan keistimewaan                       diberikan oleh seorang ulama asal India,   dan diganti dengan kandungan ajaran



         486    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   487
   493   494   495   496   497   498   499   500   501   502   503