Page 503 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 503
wujud. Dengan demikian, keesaan mazhar tajalli Allah, namun dengan Sifat itu yaitu lain zat pada suatu wajah al-Qadir (Yang Maha Berkuasa), al-Murid
Tuhan dalam wujud terpelihara. Di tafsiran tersebut ia terlepas dari jerat dan lain dari pada zat pada suatu wajah, (Yang Maha Berkehendak), al-Sami‘u
sinilah terlihat upaya kompromis panteisme Ibn ‘Arabi seperti yang kita dari karena bahwasanya segala sifat (Yang Maha Mendengar), al-Bashir
yang dilakukan oleh al-Raniri, yaitu jumpai dalam mistik Hamzah Fansuri. 115 itu yaitu beberapa makna dan iktibar (Yang Maha Melihat), dan al-Mutakallim
dengan “mengalihkan makna syirk dari Terkait dengan bentuk hubungan dan nisbah dan idhafah. Maka dari (Yang Maha Berbicara). Dari sifat-sifat
pengertian teologis, seperti yang umum antara sifat Allah dan zat-Nya, al- wajah ini, sifat itu lain zat, dari karena ma‘nawiyyah ini lahir sifat-sifat fi‘il, yaitu
dianut oleh dalam kalangan mutakallimin, Raniri juga cenderung melakukan bahwasanya tiada ada di sana mawjud sifat-sifat yang berhubugan langsung
kepada pengertian ontologis seperti kompromi antara dua kutub yang melainkan zat Haqq. Apa pun wajah yang dengan alam makhluk. Sifat-sifat fi‘il ini
yang umum dianut dalam kalangan para berbeda, yaitu pandangan Mu‘tazilah sifat itu lain dari pada zat, dari karena termasuk al-Khaliq (Yang Maha Pencipta),
sufi.” 114 (termasuk Ibn ‘Arabi) dan Asy‘ariyyah. bahwasanya segala mafhumnya tertentu al-Raziq (Yang Maha Pemberi Rezeki),
Mengenai kemungkinan kerancuan Kelompok pertama meyakini bahwa berlain-lainan. 116 al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk),
al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan),
pemikiran mengenai wujud Allah dan sifat identik dengan zat; sementara Akan tetapi, al-Raniri juga memberikan dan al-Mumit (Yang Maha Mematikan). 118
alam adalah esa sehingga dapat terseret Asy‘ariyyah berpandangan bahwa penekanan bahwa perbedaan makna
ke dalam pandangan Ibn ‘Arabi yang sifat sesungguhnya bukan zat, antara keduanya tidak hakiki, karena Tidak diragukan lagi bahwa konsep
panteistik, Daudy menulis sebagai namun ia tidak dapat dipisahkan “pada hakikatnya yang ada hanyalah zat tajalli merupakan dimensi tasawwuf
berikut: dari zat itu sendiri. Dalam upaya Allah semata.” 117 falsafi yang menonjol di Aceh ketika
mengkompromikan pandangan itu. Dalam hal ini, al-Raniri secara jelas
Akan tetapi apa yang dikatakan oleh yang bertolak belakang ini, al-Raniri `Al-Raniri memberikan kategorisasi mengikuti ajaran Ibn ‘Arabi, termasuk
Syekh Nuruddin bahwa wujud Allah berpendapat bahwa harus dilihat sifat-sifat Allah ke dalam dua jenis, dalam menjadikan sebuah hadits Qudsi
dan alam esa tidaklah dimaksudkan dari dua dimensi, yaitu (1) dimensi yaitu sifat “zat” dan sifat “ma‘ani”. Sifat sebagai sebuah pembenaran. Hadits
bahwa alam ini suatu sisi lahiriah dari wujud dan (2) makna (pengertian). zat terbagi ke dalam enam, yaitu Qidam dimaksd berbunyi: “Aku (Allah) adalah
hakikatnya yang batin, yakni Allah, Dilihat dari dimensi wujud, sifat tidak (dahulu), Baqa (kekal), Mukhalafatuhu li perbendaharaan yang terpendam (kanzan
seperti yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabi. berbeda dengan zat (‘ayn dzat), karena al-Hawadits (berbeda dengan makhluk), makhfiyyan). Aku ingin supaya dikenal,
Yang dimaksud dari pernyataan tersebut, zat Allah itu sendiri merupakan wujud Qiyamuhu bi nafsih (berdiri sendiri), dan maka aku ciptakan alam ini sehingga
bahwa alam ini pada hakikatnya tidak hakiki. Oleh karena itu, sifat tidak Wahdaniyyah (keesaan). Sifat-sifat ma‘ani, dengan itu mereka mengenalku.” Tajalli,
ada; yang ada hanyalah wujud Allah dapat dipisahkan dari dzat. Perbedaan menurut al-Raniri, terdiri dari tujuh, menurut al-Raniri, terjadi dalam tiga
yang esa. Kenyataan bahwa alam ini ada keduanya terletak pada dimensi yaitu al-Hayah (hidup), al-‘Ilmu (ilmu), martabat. Mengenai hal ini, cukup kita
hanyalah sebagai sebutan waham saja. makna, karena makna (pengertian) al-Qudrah (kuasa), al-Iradah (kehendak), kutip penjelasannya sebagai berikut:
Karena pada hakikatnya ia tidak ada, sifat dan zat berbeda. Untuk al-Sam‘u (mendengar), al-Bashar (melihat),
maka tidak dapat dikatakan ia berbeda memperkuat pandangannya ini, al- dan al-Kalam (berbicara). Sifat-sifat Bahwasanya adalah ta‘ayyun itu tiga
atau bersatu dengan Allah. Oleh karena Raniri mengutip Sa‘d al-Din Hamawi ma‘ani ini akhirnya melahirkan sifat- perkara. Pertama, ta‘ayyun awwal, yaitu
itu, walaupun Syekh Nuruddin dan juga (wafat 1253) yang menegaskan sebagai sifat ma‘nawiyyah, yaitu al-Hayy (Yang martabat wahidah; kedua ta‘ayyun
Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa alam ini berikut: Hidup), al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui, tsani, yaitu martabat wahidiyyah.
490 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 491

