Page 504 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 504
Maka kedua ta‘ayyun itu qadim. Ketiga, Sesuai dengan ajaran mistik yang ia yang dipahami dari al-Raniri ketika Sebagaimana yang telah mentradisi
ta‘ayyun jami‘, yaitu a‘yan kharijiyyah anut, al-Raniri melihat manusia sebagai ia menegaskan “bahwa insan itu yaitu dalam pemikiran tasawuf pada
yaitu hadits [baharu]. Dan demikian lagi makhluk Allah yang paling sempurna. ruh dan jasad jua, dari karena Allah umumnya, al-Raniri juga melihat
tajalli pun tiga bagian, jikalau ia banyak Manusia bukan saja merupakan khalifat Ta‘ala menyerahkan badan kepada ruh insan kamil sebagai suatu capaian
sekali pun, seperti yang ter-madzkur di Allah di bumi, akan tetapi ia juga dan diserahkannya ruh pada badan.” yang sempurna yang dapat diraih. Ini
123
dalam kitab mereka itu. Pertama tajalli merupakan mazhar (fenomena) asma Meskipun ruh merupakan hakikat dari mengacu kepada manusia yang memiliki
awwal, yaitu tajalli dzat Haqq Ta‘ala dan sifat Allah yang paling sempurna. manusia dan ia kekal, sementara jasad dalam dirinya hakikat Muhammad, atau
bagi dzat-Nya pada martabat wahidah, Pandangan ini sejalan dengan ajaran bersifat fana, namun ruh membutuhkan yang juga dikenal dengan nur Muhammad
yaitu segala sifat dinamai akan tajalli itu Ibn ‘Arabi. Manusia, menurut al-Raniri, jasad agar ia dapat mengalami atau ruh Muhammad. Nur Muhammad ini
syu’un dzat. Kedua tajalli tsani, yaitu terdiri dari dua unsur utama, yaitu kenyataan hidup di dunia yang empiris. adalah makhluk yang pertama yang
tajalli dzat-Nya bagi dzat-Nya pada “jasad” dan “ruh”. Namun, sebagaimana Dengan kata lain, tanpa jasad ruh tidak diciptakan, bahkan ia mendahului
martabat yang kedua, yaitu wahidiyyah, pandangan para sufi yang lain, hakikat dapat mengalami dan mengetahui penciptaan alam ini. Dalam pandangan
yaitulah segala asma dinamai akan dia manusia itu sendiri adalah ruh, bukan apa-apa. Ruh merasakan senang, sakit, Ibn ‘Arabi, sebagaimana juga al-Raniri,
tajalli itu a‘yan tsabitah. Ketiga tajalli tubuh (jasad). Jasad berfungsi sebagai menangis, tertawa dan lainnya karena nur Muhammad merupakan wadah
syuhudi, yaitu zhuhur Haqq Ta‘ala sarana (alat) bagi ruh dalam melakukan ia muttashil (berhubungan) dengan jasad. tajalli Tuhan yang paling sempurna,
121
dengan shuwar asma-Nya pada akwan segala aktifitasnya di dunia ini. Oleh Ketika “muttashil ia dengan sesuatu, dan ia adalah “satu-satunya wadah
[alam], yaitulah a‘yan kharijiyyah. 119 karena itu, dalam bahasannya mengenai sama ada keadaan sesuatu itu tulang tajalli bagi ism al-jalalah, yakni Allah,
manusia, al-Raniri lebih banyak yang dipandang sebagai pengikat atau
Kutipan di atas menunjukkan bahwa berbicara mengenai ruh dari pada atau daging atau tanah, maka adalah pengumpul semua nama dan sifat.”
126
124
bagi al-Raniri terdapat tiga martabat dimensi jasad; dan ia membahas topik ia mengetahui dan berkata-kata.” Insan kamil ini jugalah yang berperan
tajalli, yaitu martabat wahidah, martabat ini secara panjang lebar dan rumit, di Demikian juga halnya dengan jasad, sebagai “cermin” bagi Allah untuk
wahidiyyah, dan martabat alam arwah. mana substansi ruh, al-nafs, al-‘aql, dan al- ia membutuhkan ruh untuk dapat melihat kesempurnaan diri-Nya. Bagi
127
Sebagaimana halnya pandangan Ibn qalb dan fungsinya masing-masing juga melakukan akitifitas dengan segala al-Raniri, insan kamil muncul dalam
‘Arabi, al-Raniri juga berpendapat bahwa dibahas. 122 organnya dengan baik. Konsekuensinya bentuk para nabi dan wali; ia tidak
“alam ini dijadikan Allah dengan tajalli. adalah ketika bercerai ruh dari jasad, mengalami kefanaan dan kematian; dan
Hakikat alam yang disebut a‘yan tsabitah Sebagaimana pandangan para pemikir maka ruh itu kekal dan jasad fana. ia juga merupakan sumber ilmu rahasia,
adalah merupakan daya potensial… Islam, al-Raniri juga memahami Namun, bagaimana sifat hubungan yang setiap sufi harus mendapatkannya,
Dengan firman ciptaan Kun, ia beralih bahwa hubungan ruh dan jasad bersifat antara keduanya ini, yang berasal dari yang dikenal dengan ilmu kasyf,
menjadi wujud aktual dalam berbagai aksidental (ardhiyyah). Ini erat kaitannya dua alam yang berbeda, merupakan sebagai pertanda bahwa penghayatan
wujud kenyataan empiris. Segala dengan keabadian ruh, sementara topik yang sulit diketahui. Sebelumnya, keagamaan seorang sufi telah mencapai
fenomena dan peristiwa yang terjadi di jasad tidak abadi. Namun, ruh dan al-Ghazali juga menegaskan hal yang haqq al-yaqin. 128
alam ini disebabkan oleh tajalli Allah jasad saling membutuhkan, karena sama, sehingga ia cenderung tidak
yang senantiasa terjadi pada setiap saat hanya dengan adanya kedua unsur ini menjelaskan persoalan ini dalam Sebagaimana yang telah disebut di
dan waktu…” 120 maka terwujudlah manusia. Hal inilah karyanya. 125 muka, al-Raniri datang ke Aceh dengan
492 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 493

