Page 509 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 509

Tuhannya dan mengenal dirinya yakni   dan wujud kami, dan kami diri-Nya dan   diciptakan, dan ia baharu, bukan qadim.   itu. Adapun kalam Allah yang dibawa
 diri, “kuntu kanzan makhfiyyan”, itu   wujud-Nya. Dan lagi pula kata mereka   Ia diciptakan Allah dari Nur Muhamad,   Jibril kepada Nabi Muhammad SAW
 dirinya, dan semesta sekalian alam dalam   itu bahwa alam itu Allah dan Allah itu   sebuah pandangan yang sama dengan   yang tersurat pada mashhaf itu dapat
 ilmu Allah.  alam.” 138  konsep yang diajarkan oleh Syams al-  dikatakan makhluq karena hukumnya

 Tamsil seperti biji dan pohon; pohonnya   Poin kedua yang menjadi objek   Din.  sudah bercerai dengan dzat pada ibarat. 142
 dalam biji itu lengkap serta dalam biji   kritikan al-Raniri terhadap ajaran   Al-Raniri juga menolak ajaran Hamzah   Di sini jelas bahwa bagi Hamzah kalam
 itu. Maka nyatalah dari perkataan   Hamzah adalah berkenaan dengan   yang menegaskan bahwa al-Qur’an   Allah merupakan sifat-Nya yang qadim.
 wujudiyyah itu bahwa seru semesta   nyawa manusia, yang dikatakan oleh   adalah makhluk. Dalam sebuah   Namun, kalam Allah SWT yang dibawa
 alam sekaliannya ada lengkap berwujud   Hamzah bukan khalik dan juga bukan   karyanya al-Raniri menulis sebagai   Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan
 dalam Haqq Ta‘ala. Maka keluarlah   makhluk. Ia mengklaim bahwa nyawa   berikut:  sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
 alam dari pada-Nya seperti pohon kayu   merupakan amr Allah, dan pandangan   manusia adalah baharu.
 keluar dari pada biji. Maka i‘tikad yang   ini, menurutnya, juga didukung oleh ahl   Dan setengah dari pada mereka itu
 demikian itu kufur. 136  al-suluk.  Al-Raniri menolak pandangan   [Qadariyyah Mu‘tazilah] i‘tikadnya   Al-Raniri menegaskan bahwa wahyu
 139
                                                    yang dibawa oleh Jibril merupakan kalam
 Pernyataan ini juga ia tulis lagi dalam   ini, dengan menegaskan bahwa nyawa   bahwa al-Qur’an itu makhluq. Maka   nafsi, dan ia azali. Sementara bahasa,
 bentuk yang lebih jelas lagi dalam   adalah makhluk dan diciptakan oleh   i‘tikad yang demikian itu kufur, seperti   yaitu bahasa Arab, yang digunakan
 karyanya Jawahir al- ‘Ulum fi Kasyf al-  Allah SWT dengan firman kun. Dalam   sabda Nabi SAW: man qala inna   untuk menerjemahkan kalam Ilahi
 Ma‘lum. Ia menulis:  karyanya Jawahir al-‘Ulum al-Raniri   al-Qur’an makhluq fahuwa kafir.   tersebut adalah baharu. Hamzah,
 menegaskan sebagai berikut:  Demikian lagi i‘tikad Hamzah Fansuri
 Sekali-kali tiada seperti kata   dalam kitab yang berjudul Asrar al-  menurut al-Raniri, mengajarkan “bahwa
 wujudiyyah yang mulhid, katanya   Sekali-kali tiada dikata mereka itu [ahl   ‘Arifin, katanya bahwa al-Qur’an   kalam Allah sebagai sifat telah bercerai
 bahwasanya adalah segala makhluqat itu   al-suluk] seperti yang demikian. Hanya   yang dibawa Jibril itu dapat dikatakan   dari zat, juga ia tidak mengakui kalam
 berwujud di dalam kandungan dzat Haqq   saja adalah sekalian ulama dari pada   makhluk. 141  nafsi yang dibawa oleh Jibril kepada
                                                                     143
 Ta‘ala. Maka tatkala dilahirkannya akan   mutakallimin dan ahl al-suluk ittifaq   Nabi Muhammad.”  Berangkat dari
 dia, maka jadilah Ia di dalamnya dan   sekalian mereka itu pada mengatakan   Berikut adalah ungkapan yang diberikan   pemahaman inilah akhirnya Hamzah
 bersatulah Ia dengannya, dan sekarang   bahwa nyawa itu makhluk, dijadikan   oleh Hamzah dalam karyanya Asrar al-  menyatakan bahwa al-Qur’an adalah
 Ia di dalam kandungan wujud segala   Haqq Ta‘ala akan dia dengan firman-Nya   ‘Arifin:  makhluk, sebuah pandangan yang
 makhluqat. 137  kun, dari pada tiada kepada ada. 140  Adapun kepada mazhab Mu‘tazilah dan   ditolak keras oleh al-Raniri.
 Selanjutnya, al-Raniri juga mendengar   Singkatnya, Hamzah menegaskan   Rafidhah dan Zindiq, kalam Allah itu   Poin terakhir yang ditolak keras oleh
 penegasan dari murid-murid Hamzah   bahwa nyawa itu adalah amr Allah,   makhluq. Pada hukum syari‘at, barang   al-Raniri adalah pandangan Hamzah
 mengenai hal ini ketika berlangsung   keberadaannya bukan dari firman   siapa mengatakan kalam Allah makhluq   bahwa nyawa manusia akan kembali
 perdebatan, di mana mereka   ciptaan kun; dan oleh karena itu ia qadim   ia itu kafir; na‘uzu billah minhu.   bersatu dengan Tuhan, yang ia ibaratkan
 menegaskan bahwa “i‘tikad kami   dan berbeda dengan alam ini. Di pihak   Kalam adalah peri zat, qadim sama-  bagaikan ombak yang berasal dari laut,
 bahwasanya Allah Ta‘ala itu diri kami   lain, al-Raniri menegaskan bahwa nyawa   sama dengan sekalian yang sedia ketujuh   juga akan kembali ke laut. Pandangan



 496  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   497
   504   505   506   507   508   509   510   511   512   513   514