Page 514 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 514
tidak mampu menyelami ilmu hakikat. terutama al-Qusyasyi dan al-Kurani. merupakan “bayangan al-Haqq” (zhill Maha Esa, maka alam bukan wujud yang
Oleh karena itu, al-Qur’an sebagai Dalam karyanya yang berjudul Ithaf al- al-Haqq) atau “bayangan dari bayangan- menyertaiNya, dan ia tidak memiliki
wahyu Allah SWT merupakan sumber Dzaki bi Syarh al-Tuhfat al-Mursalah ila al- Nya” (zhill zhillih). Bayangan itu sendiri wujud sendiri. Dengan kata lain,
157
kebenaran dan mampu menghindari Nabi Shall Allah ‘alayhi wa sallam, sebuah terdiri dari dua bentuk; yang pertama “meskipun alam bukan zat Allah secara
para pengkaji ilmu hakikat dari kesesatan. kitab yang ditulis khusus untuk umat adalah potensi yang tetap (al-a‘yan mutlak, namun ia juga tidak berbeda
Al-Singkili menulis mengenai hal ini Islam Nusantara (jama‘ah al-Jawiyin), al-tsabitah), yang dimaknai sebagai dengan-Nya secara mutlak pula, karena
sebagai berikut: al-Kurani menekankan keharusan bayangan yang langsung dari zat-Nya alam bukan wujud kedua yang benar-
menggunakan al-Qur’an dan al-sunnah dan bersifat azali dan muncul dari ilmu- benar terpisah dari-Nya.” Mengutip
159
Pahami dan berpegang teguhlah kepada sebagai landasan utama dalam mengkaji Nya; dan yang kedua adalah potensi luar
al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang mulia, ilmu hakikat. Kebenaran mutlak wahyu (al-a‘yan kharijiyyah), yang merupakan gurunya, al-Singkili menegaskan sebagai
niscaya engkau mendapat petunjuk tidak perlu diragukan. Ia menegaskan bayangan dari potensi yang tetap dan berikut:
dan tetap berada pada jalan yang lurus. bahwa wahyu tidak pernah keliru, berupa alam empiris. Ini memperkuat Alhasil, wujud alam ini tidak benar-
158
Nabi SAW –yang tidak pernah berkata karena kebenaran yang ia kandung argumentasi al-Singkili bahwa tidak benar berdiri sendiri, melainkan terjadi
berdasarkan hawa nafsunya—bersabda: adalah mutlak. Sementara orang yang ada wujud di luar wujud Allah yang melalui pancaran. Dan yang dimaksud
“aku tinggalkan dua perkara bagimu, berijtihad (dengan menggunakan akal) hakiki dan mutlak, karena semua berasal dengan memancar di sini adalah bagaikan
yaitu kitab Allah dan sunnahku, maka bisa benar dan juga bisa salah. Demikian dari-Nya. Namun, ini juga tidak berarti memancarnya pengetahuan dari Allah
jelaskanlah al-Qur’an dengan sunnahku, juga halnya dengan orang-orang yang bahwa alam (termasuk manusia di Ta‘ala. Seperti halnya alam ini bukan
karena matamu tidak akan buta, kakimu telah memperoleh kasyf. Bila perkataan dalamnya) tidak identik dengan wujud benar-benar dari zat al-Haq, karena ia
tidak akan terpeleset, dan tanganmu tidak mereka tidak benar, maka tidak perlu al-Haqq (Allah). Dalam hal ini muncul merupakan wujud yang baru, alam juga
akan putus selama kamu berpegang teguh diikuti, karena kasyf yang benar tidak pertanyaan yang mendasar tentang tidak benar-benar lain dari-Nya. Ia [alam]
pada keduanya.” 155 bertentangan dengan al-Qur’an dan al- bagaimana alam ini tidak terpisah dari bukan wujud kedua yang berdiri sendiri
Berangkat dari poin inilah, al-Singkili sunnah. 156 wujud-Nya, namun juga tidak identik di samping Allah. 160
banyak mengutip ayat-ayat al-Qur’an dengan-Nya? Penciptaan alam melalui pancaran tidak
dan hadits Nabi SAW dalam bahasannya. Bagi al-Singkili, mengkaji tasawuf harus
dimulai dari tauhid (mengesakan Tuhan) Persoalan penciptaan alam dan merubah wujud Allah yang esa, qadim
Kehati-hatian al-Singkili dalam sebagai landasan yang utama. Mengkaji hubungan antara Tuhan dan alam dan azali. Karena merupakan bayangan
melakukan kajian mengenai tasawuf ontologis dan hubungan Tuhan dengan merupakan isu sentral dalam tasawuf zat al-Haqq, alam tidak memiliki wujud
ini sangat beralasan. Banyak para alam dan manusia harus berangkat dari falsafi. Dalam penjelasannya mengenai sendiri; ia berubah dan baharu. Dari
pendahulunya yang telah mendalami perspektif tauhid. Hanya ada satu wujud masalah ini, al-Singkili menggunakan perspektif ini Transendensi Tuhan atas
ilmu hakikat dengan menggunakan akal yang hakiki, yaitu wujud Allah (al-Haqq), konsep pancaran (al-faydh). Ia ciptaan-Nya tetap terjaga. Inilah yang
(rasional) semata, sehingga ajaran-ajaran tidak yang lain. Alam (khalq) bukan menegaskan bahwa alam tercipta dipahami oleh al-Singkili dengan wahdat
mereka keluar dari akidah yang benar. entitas yang memiliki wujud sendiri, dari pancaran zat Allah, sebagaimana al-wujud (kesatuan wujud), di mana
Dalam hal ini Al-Singkili kelihatannya selain Allah. Ia bagaikan bayangan (ka pengetahuan keluar dari-Nya. Karena alam, yang merupakan pancaran dari
juga dipengaruhi oleh guru-gurunyanya, al-zhill) dari wujud al-Haqq; dan manusia merupakan pancaran dari zat Yang zat al-Haqq, bukan merupakan wujud
502 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 503

