Page 518 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 518

adalah bathinku.” Bila dirunut dari     produktif, aktifis politik dan pergerakan                   Tidak berbeda dengan al-Singkili,      Sebagaimana halnya pemikiran tokoh-
            perannya masing-masing, maka syari‘at   (perang) melawan kolonialis, sufi yang                      al-Maqassari menekankan “akidah”       tokoh neo-sufisme, al-Maqassari sangat
            berada pada tempat paling dasar,        pembaharu (neo-sufisme), dan memiliki                       (tawhid) sebagai landasan utama dalam   menekankan tawhid dan transendensi
            sebagai landasan bagi pelaksanaan       mobilitas yang tinggi. Pengembaraan                         melaksanakan ajaran Islam, termasuk    Tuhan atas ciptaan-Nya. Ia menegaskan
            tarekat; dan tarekat yang benar dan     dan perjuangan telah membawanya                             dalam tasawuf. Ia menegaskan bahwa     bahwa satu-satunya wujud yang ada
            sungguh-sungguh dapat menghantar        ke banyak penjuru dunia, yaitu dari                         tawhid merupakan awal dari segalanya   adalah wujud Allah; dan “jika engkau
            pelakunya ke dalam kesempurnaan         Sulawesi Selatan, Banten, Jazirah Arabia,                   dalam Islam. Dalam karyanya yang       menganggap ada wujud selain wujud
            bathin (hakikat).  Bila ketiga fase     Yaman, Damaskus, India, Istanbul,                           berjudul Mathalib al-Salikin (Yang     Allah maka engkau syirik dan syirik itu
                          169
            ini dapat dilakukan dengan sangat       hingga Srilanka dan berakhir di Afrika                      Dicari oleh Para Salik), al-Maqassari   zalim yang besar.”  Ia juga mengutip
                                                                                                                                                                        177
            baik, maka seorang sufi (salik) akan    Selatan. Ia juga telah menunjukkan                          menggarisbawahi bahwa seorang          ajaran ahl al-sunnah wa al-jama‘ah yang
            mampu meraih tingkat tertinggi dari     bahwa status sebagai seorang sufi bukan                     Muslim harus melakukan tiga hal, yaitu   menegaskan bahwa bahwa Tuhan adalah
            pengalaman bathini (kejiwaan) dalam     penghalang baginya untuk berperan                           tawhid, ma‘rifat dan ibadah. Menurutnya,   mawjud yang mutlak, “qadim, azali,
            menuju Tuhan, yaitu ma‘rifat. Pada      aktif dalam urusan duniawi.  Azra                           tawhid bagaikan pohon, ma‘rifat bagaikan   abadi, berdiri sendiri,...”  Ia dengan
                                                                                                                                                                             178
                                                                             172
            tingkat ini, seorang salik mendapat     mencermati bahwa al-Maqassari telah                         dahan dan daunnya, sementara ibadah    demikian menolak ajaran imanensi
            anugerah berupa pengetahuan yang        melalangbuana dalam mempelajari                             adalah buah. Ia kemudian melanjutkan   Tuhan dalam alam.
            hakiki tentang Allah dan mengenal-Nya   Islam yang telah lakukan sekitar 20-                        sebagai berikut:
            melalui penyingkapan (kasyf). Seorang   an (antara 20-28 tahun),  waktu yang                                                               Setelah menegaskan Allah sebagai
                                                                        173
            sufi (salik) yang telah mencapai tingkat   cukup memberikannya kesempatan                           Jika engkau menemukan sebatang         mawjud mutlak dan hakiki, al-Maqassari
            ma‘rifat ini dikenal dengan ‘arif. Inilah   mendalami ilmu ke-islaman. Namun,                       pohon, tentu engkau akan mendapatkan   mengajarkan bahwa alam ini, termasuk
            yang didambakan oleh seorang sufi yang   al-Maqassari lebih dikenal sebagai                         juga dahan dan daunnya; dan jika       di dalamnya manusia sebagai “hamba
            akhirnya mampu meraih pengalaman        seorang sufi; dan hal ini ditunjukkan oleh                  menemui dahan dan daunnya,             Allah”, merupakan “bayangan” Allah.
            ruhani tertinggi dalam bentuk melebur   karya-karyanya yang didominasi oleh                         tentu engkau akan mengharap            Bayangan, menurutnya, “tidak ada
            (fana) dalam Allah. 170                                                                             menemukan buahnya. Jika engkau tidak   wujudnya. Seperti bayangan orang itu
                                                    topik tentang tasawuf. Dalam kajiannya                                                             tidak mawjud dengan sendirinya, tetapi
            Dalam mengkaji pemikiran neo-sufime     mengenai tokoh ini, Tudjimah merekam                        mendapatkan dahan dan daunnya,         pada hakikat lainnya, wujudnya orang;
                                                                       174
            di Nusantara abad ke-17, peran tokoh    21 karya al-Maqassari.  Al-Maqassari                        tentu tidak ada buahnya. Jika engkau   yang ada sebenarnya orang itu.”
                                                                                                                                                                                    179
            pemikir, ulama dan sufi asal Makasar    dikaitkan dengan tarekat Khalwatiyah,                       sampai kepada tawhid, tentu engkau     Selanjutnya, ia menyatakan bahwa
            (Sulawesi) tidak dapat dikesampingkan.   dan ia diberikan gelar oleh gurunya di                     akan sampai pada tempat ma‘arifat.     semua makhluk merupakan “mahadhir
            Ia adalah Muhammad Yusuf al-Maqassari   Damaskus, Ayyub al-Khalwati, al-Taj                         Jika engkau sampai ke tempat ma‘rifat,   nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya”
                                                                                                                                                                                         180
                                                                                175
            (1627-1699). Azra menyebutnya sebagai   al-Khalwati (Mahkota Khalwati).  Ini                        engkau akan sampai ke tempat ibadah.   Oleh karena itu, “Allah mawjud dalam
            seorang “ulama yang luar biasa.”        menunjukkan kepercayaan tinggi yang                         Siapa yang tidak tawhid ia kafir.      setiap benda, maka kalau tidak ada Allah
                                         171
            Ungkapan penghargaan ini tidak          diberikan kepadanya oleh gurunya ini.                       Siapa yang tidak tahu akan ma‘rifat    dalam benda-benda, tidak ada benda.”
                                                                                                                                                                                         181
            berlebihan dan juga bukan tanpa alasan.   Namun, ia juga dikaitkan dengan tarekat                   ia jahil. Siapa yang tidak beribadat, ia   Ia mengutip pernyataan Sayyiduna
            Ia adalah sosok ulama yang cerdas,      Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.                               fasiq. 176                             ‘Ali b. Abi Thalib: “saya tidak melihat



         506    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   507
   513   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523