Page 521 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 521
sesuatu, kecuali saya melihat Tuhan.” dalam konsep al-‘ahathah dan ma‘iyyah al-Af‘al itu wujud al-Zahir dan zahir itu sendiri dan itu hanya Tuhan. Maka
Inilah yang ia sebut dengan keberadaan manusia dapat meraih tingkat yang wujud al-Bathin, bathin itu wujud yang barang-barang yang saya lihat itu pada
Allah ada di mana-mana (al-ma‘iyyah) tinggi (taraqqi) mendekati Tuhan, dan tidak diketahui kecuali oleh Allah… Sirr hakikatnya bayangan Haqq Ta‘ala dan
dan meliputi segalanya (al-‘ahathah). Ia Tuhan dapat turun (tanazzul), namun itu bayangan wujud, ruh itu bayangan manifestasi dari wujud mutlak. Barang-
dalam hal ini mengutip firman Allah hal ini tidak mengandung makna zat, hati itu bayangan sifat badan dan barang itu manifestasi tajalli-Nya.” 188
SWT: “Allah meliputi segala sesuatu”; “kesatuan” manusia (makhluk) dengan bayangan asma, gerak dan diam itu Kutipan di atas memperlihatkan ajaran
dan “Ia bersamamu di mana [pun] Tuhannya. Ia menegaskan: “percayalah, bayangan af‘al. Seperti firman Tuhan: manifestasi (tajalli) dan bayangan
kamu berada.” Selanjutnya ia mengutip bahwa ‘abd tetap ‘abd, meskipun ia naik, “Apakah engkau tidak melihat, bagaimana (mazhhar atau zhill) Tuhan, sebagaimana
hadits Nabi SAW yang menegaskan dan Rabb tetap Rabb meskipun Ia turun. luasnya bayangan.” 187 yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi
bahwa “kalau engkau bertiga maka Alam itu mawjud, tetapi tidak berdiri tentang Tuhan, alam dan manusia.
dengan Tuhan menjadi berempat, kalau sendiri. Alam itu tidak merdeka dalam Dalam menjelaskan konsep ini lebih Namun, sebagaimana al-Raniri dan
berlima, jadi berenam dengan-Nya.” wujudnya. Adapun Esa itu jauh dari rinci, al-Maqassari menulis sebagai
182
Ini, tegasnya, juga diperkuat oleh firman- dua. Maha Tinggi Allah dari itu. Allah berikut: al-Singkili, al-Maqassari juga tidak
mengadopsi ajaran panteismenya, akan
Nya: kana bi kulli syai’in muhith dan wa Ta‘ala itu merdeka zat, sifat Asma dan Berkata Syekh Muhammad Fadl Allah tetapi mempertahankan akidah ahl al-
ahatha bi kulli syai’in ‘ilman.” Namun, Af‘alnya.” Dalam menjelaskan konsep al-Burhanpuri…: “barang itu dari sudut sunnah wa al-jama’ah, yaitu wujud Allah
183
185
kehatian-hatian ulama ini terhadap ini al-Maqassari senantiasa mengutip wujudnya ‘Ayn al-Haqq.” Mereka adalah Esa lagi hakiki, sedangkan alam
kesalahpahaman dalam mencerna ajaran al-Qur’an, terutama surah al-Ikhlas dan berkata: “Dari mana didapatnya yang ini adalah “bayangan” Allah. Hanya
ini sangat terlihat, agar umat tidak surah al-Syura, ayat 11, yang berbunyi: lain.” Karena orang-orang arif berkata:
terjerumus ke dalam kesesatan syirik Laysa kamitslihi syai’un, wa huwa al-sami‘ “La ilaha illallah,” dengan arti, tidak ada ada satu wujud (esa), yaitu wujud Tuhan
dalam bentuk menyatukan manusia al-bashir, dan ayat-ayat sejenisnya. 186 yang mawjud kecuali Allah, dengan arti (al-Haqq). Alam adalah “bayangan”,
dengan Tuhan secara mutlak dan hakiki. karena yang ada itu hanya satu, tidak yang tidak memiliki wujud. Ia membagi
Dalam membahas tentang Tuhan, alam bayangan kedalam dua jenis, yaitu (1)
Dalam karyanya Mathalib al-Salikin, al- dan manusia, al-Maqassari kelihatannya ada yang lain. Maka tidak tepat kata potensi tetap (al-a‘yan al-tsabitah), yaitu
Maqassari menggunakan istilah Wahdat sejalan dengan konsep yang diajarkan al-ghayr, kecuali jika di luar ada wujud bayangan langsung dari zat-Nya dan
al-Wujud yang wajib disembah (ibadah) oleh al-Raniri dan al-Singkili bahwa fi al-kharij. Padahal, di luar yang azali dan muncul dari ilmu-Nya, dan
oleh manusia. Terma Wahdat al-Wujud wujud yang hakiki adalah wujud Allah mawjud hanya Allah, yang dinamakan (2) potensi luar (al-a‘yan kharijiyyah),
184
bermakna Allah adalah satu-satunya (al-Haqq) yang mutlak, sementara alam al-mawjud fi al-kharij, pada istilah yaitu bayangan dari potensi yang tetap
Wujud Mutlak dan Hakiki, semua ciptaan- merupakan “bayangan” dan “tajalli- orang arif itu yang berdiri sendiri. Jika yang berwujud alam nyata (empiris). Ini
Nya merupakan mahadhir dan bayangan. Nya.” Mengenai hal ini, ia menulis engkau berkata: “Jika yang ada itu hanya memperkuat argumentasi al-Singkili
Oleh karena itu Tuhan dan citptaan-Nya sebagai berikut: satu, yaitu yang berdiri sendiri, yaitu bahwa tidak ada wujud di luar wujud
(alam) bukan entitas yang sama dan Haqq Ta‘ala, maka barang-barang yang Allah yang hakiki dan mutlak, karena
setingkat. Meskipun dapat melebur (fana) …wujud-Nya itu wujud al-Zat dan kita lihat dan macam-macam bentuknya semua berasal dari-Nya. Alam, termasuk
dalam Tuhannya, namun manusia tidak zat itu wujud al-Sifat, sifat itu wujud itu apakah?” Kujawab: “Yang ada pada manusia, tidak identik dengan wujud
bersatu dengan-Nya. Dengan kata lain, al-Asma dan asma itu wujud al-Af‘al, hakikatnya itu yang wujud, yang berdiri al-Haqq (Allah).
508 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 509

