Page 516 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 516

yang terpisah (berdiri sendiri). Ia adalah   Maka, pahamilah ketetapan ini, dan                     Sebagaimana halnya dengan              syari‘at. Hal ini dapat dilihat dari karya-
            bayangan dan bahkan bayangan dari       janganlah mencampuradukkan sesuatu,                         pandangan para tokoh sufi yang lain,   karyanya yang juga mencakup syari‘at
            bayangan-Nya. Al-Singkili mengambil     karena pencampuradukkan persoalan                           termasuk Hamzah Fansuri, al-Singkili   dan ilmu hakikat (tasawuf). Gurunya,
            sikap yang sangat hati-hati dalam       itu termasuk kebiasaan orang-orang                          berpendapat bahwa alam ini bukan       al-Kurani, menekankan pentingnya
            memahami konsep wahdat al-wujud.        yang tidak mengenal Allah. Katakan                          diciptakan dari tiada, akan tetapi     syari‘at bagi para sufi. Ia menegaskan
            Ia melakukan reinterpretasi terhadap    dan yakinkan bahwa hamba tetap hamba                        ia diciptakan dari “rahmat” Allah.     bahwa “tidak ada kontradiksi antara
            makna dan konsep wahdat al-wujud        meskipun ia naik pada tingkat yang                          Dari rahmat ini Allah menciptakan      kesatuan wujud (tawhid al-wujud) dengan
            itu sendiri, yang disesuaikan dengan    tinggi (taraqqi), dan Tuhan tetap Tuhan                     alam “berdasarkan pengetahuan-         syari‘at dan tuntutan untuk mematuhi
                                                                                                                                             164
            pemahaman sunni. Bila Hamzah Fansuri    meskipun Ia turun (tanazzul). Dan                           Nya di zaman azali secara tertib”,     perintah (berbuat baik) dan larangan
                                                                                                                                                                       167
            menekankan pada imanensi Allah dalam    hakikat itu tidak akan berubah, artinya                     dan yang pertama kali diciptakan       (berbuat buruk).”  Oleh karena itu,
            alam secara mutlak, maka al-Singkili    hakikat hamba tidak akan berubah                            adalah Nur Muhammad. Pandangan         ia menegaskan bahwa tasawuf tidak
            membantahnya. Menurutnya, kesatuan      menjadi hakikat Tuhan, demikian pula                        ini didasarkan pada hadits Nabi SAW    membuat kewajiban syari‘at menjadi
            Allah dan alam tidak mutlak, melainkan   sebaliknya, walau pada zaman azali                         yang terkenal yang merupakan jawaban   gugur; dan mengingatkan bahwa banyak
            sebagai kesatuan dalam konsep           sekalipun. 162                                              atas pertanyaan seorang sahabat, yaitu   dari kalangan sufi yang berpendapat
                                                                                                                    165
            pancaran (al-faydh) dan bayangan (al-   Selanjutnya al-Singkili mengakui bahwa                      Jabir.  Nabi Muhammad SAW diyakini     bahwa bagi mereka yang telah
            zhill). Hamzah mengajarkan persamaan    ada sekelompok orang yang memahami                          sebagai makhluk yang paling mulia      memperoleh kasyf kewajiban syari‘at
                                                                                                                                                       gugur. Ini, tegas al-Kurani, merupakan
            dan penyatuan antara bayangan           hadits Nabi SAW: “man ‘arafa nafsahu                        dan pemimpin jagad ini. Oleh karena    sebuah “kesesatan” dan “keluar dari
            dengan aslinya, sementara al-Singkili   ‘arafa rabbahu” dengan makna bersatunya                     itu, al-Singkili senantiasa menekankan   ketentuan Islam.” 168
            membantahnya dengan menekankan          hamba dengan Tuhannya secara mutlak,                        pada murid-muridnya untuk mengikuti
            bahwa alam adalah bayangan Tuhan        dan ini merupakan seubuah kesalahan                         syari‘at Nabi Muhammad SAW. Ia         Pentingnya peran syari‘at bagi sufi
            semata, bukan zat-Nya.  161             besar. Ia menegaskan sebagai berikut:                       menegaskan:                            tidak dapat dikesampingkan. Untuk

            Persoalan Transendensi Tuhan inilah     Dan janganlah engkau terperdaya oleh                        Wahai murid! Tidak ada pilihan lain    dapat meraih hakikat, yang bermakna
                                                                                                                                                       kebenaran Ilahi (al-haqiqah al-ilahiyah),
            yang selalu ditekankan oleh al-         orang yang berdalih atas penyatuan                          bagimu selain harus mengikuti ajaran   maka syari‘at harus ada di sana
            Singkili, meskipun ia juga mengajarkan   wujud hamba dari secara mutlak melalui                     Nabi. Maka, berpegang teguhlah pada    menyertainya. Dengan kata lain, terdapat
            imanensi Tuhan dalam alam dalam         hadits “barang siapa mengenal dirinya,                      perkataan dan perbuatannya lahir       keterkaitan yang erat antara syari‘at
            bentuk bayangan. Oleh karena itu,       niscaya ia mengenal Tuhannya.” Lalu,                        dan batin niscaya engkau selamat dan   (zahir) dan hakikat (bathin). Bahkan,
            manusia yang mampu meraih martabat      dalam kebodohannya kepada Allah, ia                         termasuk ke dalam golongan orang-orang   Nabi SAW pernah mengungkapkan
            mendekati Tuhan (taraqqi) ia tetap      menafsirkan hadits tersebut dengan                          saleh. 166                             bagaimana eratnya keterkaitan antara
            manusia; demikian juga Tuhan dapat      mengatakan bahwa diri manusia itu                           Poin ini membawa kita pada aspek       tiga elemen, yaitu syari‘at, tarekat
            turun ke alam penampakan (tanazzul),    adalah zat Tuhannya secara mutlak, tidak                    syari‘at dari ajaran tasawuf al-Singkili.   dan hakikat dalam sebuah sabdanya:
            mamun Ia tetap Tuhan, Sang Khaliq.      lain dari itu. Kami berlindung kepada                       Ia sangat peduli terhadap rekonsiliasi   “Syari‘at adalah perkataanku, tarekat
            Mengenai hal ini al-Singkili menulis:   Allah dari keyakinan demikian. 163                          dan perpaduan antara tasawuf dan       adalah perbuatanku dan hakikat



         504    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   505
   511   512   513   514   515   516   517   518   519   520   521