Page 520 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 520

sesuatu, kecuali saya melihat Tuhan.”   dalam konsep al-‘ahathah dan ma‘iyyah                       al-Af‘al itu wujud al-Zahir dan zahir itu   sendiri dan itu hanya Tuhan. Maka
            Inilah yang ia sebut dengan keberadaan   manusia dapat meraih tingkat yang                          wujud al-Bathin, bathin itu wujud yang   barang-barang yang saya lihat itu pada
            Allah ada di mana-mana (al-ma‘iyyah)    tinggi (taraqqi) mendekati Tuhan, dan                       tidak diketahui kecuali oleh Allah… Sirr   hakikatnya bayangan Haqq Ta‘ala dan
            dan meliputi segalanya (al-‘ahathah). Ia   Tuhan dapat turun (tanazzul), namun                      itu bayangan wujud, ruh itu bayangan   manifestasi dari wujud mutlak. Barang-
            dalam hal ini mengutip firman Allah     hal ini tidak mengandung makna                              zat, hati itu bayangan sifat badan dan   barang itu manifestasi tajalli-Nya.” 188
            SWT: “Allah meliputi segala sesuatu”;   “kesatuan” manusia (makhluk) dengan                         bayangan asma, gerak dan diam itu      Kutipan di atas memperlihatkan ajaran
            dan “Ia bersamamu di mana [pun]         Tuhannya. Ia menegaskan: “percayalah,                       bayangan af‘al. Seperti firman Tuhan:   manifestasi (tajalli) dan bayangan
            kamu berada.” Selanjutnya ia mengutip   bahwa ‘abd tetap ‘abd, meskipun ia naik,                    “Apakah engkau tidak melihat, bagaimana   (mazhhar atau zhill) Tuhan, sebagaimana
            hadits Nabi SAW yang menegaskan         dan Rabb tetap Rabb meskipun Ia turun.                      luasnya bayangan.” 187                 yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi
            bahwa “kalau engkau bertiga maka        Alam itu mawjud, tetapi tidak berdiri                                                              tentang Tuhan, alam dan manusia.
            dengan Tuhan menjadi berempat, kalau    sendiri. Alam itu tidak merdeka dalam                       Dalam menjelaskan konsep ini lebih     Namun, sebagaimana al-Raniri dan
            berlima, jadi berenam dengan-Nya.”      wujudnya. Adapun Esa itu jauh dari                          rinci, al-Maqassari menulis sebagai
                                             182
            Ini, tegasnya, juga diperkuat oleh firman-  dua. Maha Tinggi Allah dari itu. Allah                  berikut:                               al-Singkili, al-Maqassari juga tidak
                                                                                                                                                       mengadopsi ajaran panteismenya, akan
            Nya: kana bi kulli syai’in muhith dan wa   Ta‘ala itu merdeka zat, sifat Asma dan                   Berkata Syekh Muhammad Fadl Allah      tetapi mempertahankan akidah ahl al-
            ahatha bi kulli syai’in ‘ilman.”  Namun,   Af‘alnya.”  Dalam menjelaskan konsep                     al-Burhanpuri…: “barang itu dari sudut   sunnah wa al-jama’ah, yaitu wujud Allah
                                    183
                                                             185
            kehatian-hatian ulama ini terhadap      ini al-Maqassari senantiasa mengutip                        wujudnya ‘Ayn al-Haqq.” Mereka         adalah Esa lagi hakiki, sedangkan alam
            kesalahpahaman dalam mencerna ajaran    al-Qur’an, terutama surah al-Ikhlas dan                     berkata: “Dari mana didapatnya yang    ini adalah “bayangan” Allah. Hanya
            ini sangat terlihat, agar umat tidak    surah al-Syura, ayat 11, yang berbunyi:                     lain.” Karena orang-orang arif berkata:
            terjerumus ke dalam kesesatan syirik    Laysa kamitslihi syai’un, wa huwa al-sami‘                  “La ilaha illallah,” dengan arti, tidak ada   ada satu wujud (esa), yaitu wujud Tuhan
            dalam bentuk menyatukan manusia         al-bashir, dan ayat-ayat sejenisnya. 186                    yang mawjud kecuali Allah, dengan arti   (al-Haqq). Alam adalah “bayangan”,
            dengan Tuhan secara mutlak dan hakiki.                                                              karena yang ada itu hanya satu, tidak   yang tidak memiliki wujud. Ia membagi
                                                    Dalam membahas tentang Tuhan, alam                                                                 bayangan kedalam dua jenis, yaitu (1)
            Dalam karyanya Mathalib al-Salikin, al-  dan manusia, al-Maqassari kelihatannya                     ada yang lain. Maka tidak tepat kata   potensi tetap (al-a‘yan al-tsabitah), yaitu
            Maqassari menggunakan istilah Wahdat    sejalan dengan konsep yang diajarkan                        al-ghayr, kecuali jika di luar ada wujud   bayangan langsung dari zat-Nya dan
            al-Wujud yang wajib disembah (ibadah)   oleh al-Raniri dan al-Singkili bahwa                        fi al-kharij. Padahal, di luar yang    azali dan muncul dari ilmu-Nya, dan
            oleh manusia.  Terma Wahdat al-Wujud    wujud yang hakiki adalah wujud Allah                        mawjud hanya Allah, yang dinamakan     (2) potensi luar (al-a‘yan kharijiyyah),
                         184
            bermakna Allah adalah satu-satunya      (al-Haqq) yang mutlak, sementara alam                       al-mawjud fi al-kharij, pada istilah   yaitu bayangan dari potensi yang tetap
            Wujud Mutlak dan Hakiki, semua ciptaan-  merupakan “bayangan” dan “tajalli-                         orang arif itu yang berdiri sendiri. Jika   yang berwujud alam nyata (empiris). Ini
            Nya merupakan mahadhir dan bayangan.    Nya.” Mengenai hal ini, ia menulis                          engkau berkata: “Jika yang ada itu hanya   memperkuat argumentasi al-Singkili
            Oleh karena itu Tuhan dan citptaan-Nya   sebagai berikut:                                           satu, yaitu yang berdiri sendiri, yaitu   bahwa tidak ada wujud di luar wujud
            (alam) bukan entitas yang sama dan                                                                  Haqq Ta‘ala, maka barang-barang yang   Allah yang hakiki dan mutlak, karena
            setingkat. Meskipun dapat melebur (fana)   …wujud-Nya itu wujud al-Zat dan                          kita lihat dan macam-macam bentuknya   semua berasal dari-Nya. Alam, termasuk
            dalam Tuhannya, namun manusia tidak     zat itu wujud al-Sifat, sifat itu wujud                     itu apakah?” Kujawab: “Yang ada pada   manusia, tidak identik dengan wujud
            bersatu dengan-Nya. Dengan kata lain,   al-Asma dan asma itu wujud al-Af‘al,                        hakikatnya itu yang wujud, yang berdiri   al-Haqq (Allah).



         508    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   509
   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524   525