Page 522 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 522

Mengenai al-a‘yan tsabitah al-Maqassari   itu bentuknya seperti bentuk yang                         senantiasa diimpikan oleh seorang sufi   merupakan makhluk yang termulia,
            menulis sebagai berikut:                empunya; sedang Allah itu Laysa ka                          untuk dapat diraih setelah melewati    dan ia adalah “pengganti dan wakil
                                                    mitslihi syai’. 190                                         latihan mental dan kehidupan tarekat.   Allah.”  Oleh karena itu, adalah
                                                                                                                                                              195
            Ketahuilah Thalib, yang disebut a‘yan                                                               Seorang sufi berupaya terus menerus    sebuah kewajiban yang diberikan oleh
            thabitah bagi orang ‘arif billah itu    Al-Maqassari memberikan argumentasi                         berjalan mendekati Tuhannya (taraqqi)
            gambaran bentuk yang diketahui          mengenai hal tersebut atas beberapa                         dan mencapai taraf keadaan fana.       Allah agar seorang hamba mengikuti
            atau dikenal dari benda-benda dalam     alasan. Yang pertama adalah bayangan                        Ajaran ini dikembangkan oleh Syekh     Nabi SAW lahir dan bathin. Inilah yang
                                                                                                                                                       ia tegaskan sebagai berikut:
            pengetahuan Allah yang qadim dan        berdiri dengan yang empunya bayangan,                       Ahmad Sirhindi (wafat 1624) dan Syah
            azali. Ilmu Ilahiyyah itu qadim,        tidak berdiri sendiri. Demikian juga                        Waliyullah (wafat 1762) dari India.    Kemudian hamba itu harus percaya
                                                                                                                                               192
            karena Zat-Nya itu qadim. Ketahuilah    halnya dengan alam, yang tidak berdiri                      Kesatuan dalam wahdat al-syuhud ini    dalam hati, bahwa Rasulullah itu
            itu! Ada pun hubungannya dengan         sendiri, tetapi karena Allah Ta‘ala. Yang                   bukan berbentuk kesatuan fisik antara   makhluk yang termulia dengan mutlak
            al-thabitah dan sifatnya al-a‘yan itu   kedua adalah bayangan tidak bergerak,                       Tuhan dan manusia dalam konsep         dan akhlaknya yang paling sempurna,
            karena ia tetap di dalam ilmu Ilahi,    kecuali bila empunya bayangan tersebut                      imanen, sebagaimana halnya dengan      paling sempurna amalnya, paling
            tidak lepas dan keluar daripadanya,     bergerak. Demikian juga halnya dengan                       wahdat al-wujud, akan tetapi kesatuan   sempurna syari‘atnya, paling tinggi
            sama sekali dari azali sama abadi.      alam. Ia tidak berbuat atau bekehendak,                     kesaksian (kesadaran) dengan al-Haqq   tarekatnya, paling tinggi derajatnya,
            Arti al-a‘yan di sini: benda-benda      kecuali bila Allah berkehendak. Yang                        setelah mencapai taraf fana (melebur   paling mulia zatnya dan sifatnya dan
            yang terang ada di dalam ilmu. Ia       ketiga adalah bayangan bertambah                            dalam wujud Tuhan). Dengan demikian,   sebagainya, karena sabda Nabi: “Aku
            mempunyai nama-nama lain dari           banyak ketika banyak yang melihat;                          tawhid muthlaq Tuhan tetap terjaga,    dari Allah dan alam dari aku.” Sabdanya
            jumlah al-ma‘lumat al-‘ilmiyyah. 189    sementara pemilik bayangan tidak                            sementara manusia tetap manusia        pula: “Aku dari nur Allah dan alam ini

            Kemudian ia melanjutkan sebagai         bertambah banyak dengan banyaknya                           meskipun ia telah memperoleh taraf     dari nurku.” Sabda Nabi pula: “Yang
            berikut:                                yang melihat. 191                                           taraqqi, kasyf dan fana.  Inilah yang   pertama-tama diciptakan Tuhan itu
                                                                                                                                   193
                                                                                                                kemudian ia tekankan bahwa seorang     ruhku.” … Firman Tuhan: “Kucipta
            Seperti diketahui al-a‘yan al-          Dalam mempertegas Transendensi                              salik “harus bertawajjuh dengan bathin   benda-benda itu karena kau dan Kucipta
            thabitah itu mempunyai dua sudut:       Tuhan atas alam dan mempertahankan                          sirr-nya dengan seluruhnya kepada      engkau karena Aku.” 196
            (1) sudut wujudiyyah; (2) sudut         keesaan Tuhan, al-Maqassari menganut                        Allah tanpa berbau perasaan tertarik
            ‘adamiyyah. Dari sudut wujudiyyah       paham wahdat al-syuhud (kesatuan                            kepada batas-batas yang terlarang      Didasarkan atas keyakinan posisi
            Allah berfirman: “Kun”. Dari sudut      kesadaran/kesaksian). Ini adalah istilah                    supaya dapat fana fillah dan baqa pada-  Nabi Muhammad SAW sebagai
            ‘adamiyyahnya, maka betul untuk         mistik yang mengacu pada pengalaman                         Nya.” 194                              makhluk yang paling mulia inilah,
            dikatakan bahwa Haqq Ta‘ala membuat     atau penyaksian ruhani (al-kasyf)                                                                  al-Maqassari menekankan keharusan
            barang-barang dari ada kepada wujud     terhadap rahasia Ilahi dan hakikat wujud                    Terkait dengan penciptaan alam, al-    untuk mematuhi Rasulullah dalam
            atau dari wujud ilmu Ilahiyyah          ketika seorang telah mencapai tingkat                       Maqassari juga meyakini bahwa yang     segala aspek kehidupan, lahir maupun
            atau wujud bathin ke wujud luar.        fana, di mana hilangnya kesadaran diri                      pertama diciptakan oleh Allah Ta‘ala   batin. Lahir disini dimaknai sebagai
            Jika dikatakan, mengapa alam itu        dan larut dalam Tuhannya sehingga                           adalah Nur Muhammad. Al-Maqassari      syari‘at, dan batin sebagai hakikat (jalan
            disebut bayangan Allah, bayangan        ia meraih ma‘rifat. Ma‘rifat inilah yang                    meyakini bahwa Muhammad SAW            sufi). Ini bermakna bahwa tasawuf dan



         510    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   511
   517   518   519   520   521   522   523   524   525   526   527