Page 519 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 519

adalah bathinku.” Bila dirunut dari   produktif, aktifis politik dan pergerakan   Tidak berbeda dengan al-Singkili,   Sebagaimana halnya pemikiran tokoh-
 perannya masing-masing, maka syari‘at   (perang) melawan kolonialis, sufi yang   al-Maqassari menekankan “akidah”   tokoh neo-sufisme, al-Maqassari sangat
 berada pada tempat paling dasar,   pembaharu (neo-sufisme), dan memiliki   (tawhid) sebagai landasan utama dalam   menekankan tawhid dan transendensi
 sebagai landasan bagi pelaksanaan   mobilitas yang tinggi. Pengembaraan   melaksanakan ajaran Islam, termasuk   Tuhan atas ciptaan-Nya. Ia menegaskan
 tarekat; dan tarekat yang benar dan   dan perjuangan telah membawanya   dalam tasawuf. Ia menegaskan bahwa   bahwa satu-satunya wujud yang ada
 sungguh-sungguh dapat menghantar   ke banyak penjuru dunia, yaitu dari   tawhid merupakan awal dari segalanya   adalah wujud Allah; dan “jika engkau
 pelakunya ke dalam kesempurnaan   Sulawesi Selatan, Banten, Jazirah Arabia,   dalam Islam. Dalam karyanya yang   menganggap ada wujud selain wujud
 bathin (hakikat).  Bila ketiga fase   Yaman, Damaskus, India, Istanbul,   berjudul Mathalib al-Salikin (Yang   Allah maka engkau syirik dan syirik itu
 169
 ini dapat dilakukan dengan sangat   hingga Srilanka dan berakhir di Afrika   Dicari oleh Para Salik), al-Maqassari   zalim yang besar.”  Ia juga mengutip
                                                                    177
 baik, maka seorang sufi (salik) akan   Selatan. Ia juga telah menunjukkan   menggarisbawahi bahwa seorang   ajaran ahl al-sunnah wa al-jama‘ah yang
 mampu meraih tingkat tertinggi dari   bahwa status sebagai seorang sufi bukan   Muslim harus melakukan tiga hal, yaitu   menegaskan bahwa bahwa Tuhan adalah
 pengalaman bathini (kejiwaan) dalam   penghalang baginya untuk berperan   tawhid, ma‘rifat dan ibadah. Menurutnya,   mawjud yang mutlak, “qadim, azali,
 menuju Tuhan, yaitu ma‘rifat. Pada   aktif dalam urusan duniawi.  Azra   tawhid bagaikan pohon, ma‘rifat bagaikan   abadi, berdiri sendiri,...”  Ia dengan
                                                                         178
 172
 tingkat ini, seorang salik mendapat   mencermati bahwa al-Maqassari telah   dahan dan daunnya, sementara ibadah   demikian menolak ajaran imanensi
 anugerah berupa pengetahuan yang   melalangbuana dalam mempelajari   adalah buah. Ia kemudian melanjutkan   Tuhan dalam alam.
 hakiki tentang Allah dan mengenal-Nya   Islam yang telah lakukan sekitar 20-  sebagai berikut:
 melalui penyingkapan (kasyf). Seorang   an (antara 20-28 tahun),  waktu yang   Setelah menegaskan Allah sebagai
 173
 sufi (salik) yang telah mencapai tingkat   cukup memberikannya kesempatan   Jika engkau menemukan sebatang   mawjud mutlak dan hakiki, al-Maqassari
 ma‘rifat ini dikenal dengan ‘arif. Inilah   mendalami ilmu ke-islaman. Namun,   pohon, tentu engkau akan mendapatkan   mengajarkan bahwa alam ini, termasuk
 yang didambakan oleh seorang sufi yang   al-Maqassari lebih dikenal sebagai   juga dahan dan daunnya; dan jika   di dalamnya manusia sebagai “hamba
 akhirnya mampu meraih pengalaman   seorang sufi; dan hal ini ditunjukkan oleh   menemui dahan dan daunnya,   Allah”, merupakan “bayangan” Allah.
 ruhani tertinggi dalam bentuk melebur   karya-karyanya yang didominasi oleh   tentu engkau akan mengharap   Bayangan, menurutnya, “tidak ada
 (fana) dalam Allah. 170  menemukan buahnya. Jika engkau tidak   wujudnya. Seperti bayangan orang itu
 topik tentang tasawuf. Dalam kajiannya             tidak mawjud dengan sendirinya, tetapi
 Dalam mengkaji pemikiran neo-sufime   mengenai tokoh ini, Tudjimah merekam   mendapatkan dahan dan daunnya,   pada hakikat lainnya, wujudnya orang;
 174
 di Nusantara abad ke-17, peran tokoh   21 karya al-Maqassari.  Al-Maqassari   tentu tidak ada buahnya. Jika engkau   yang ada sebenarnya orang itu.”
                                                                                 179
 pemikir, ulama dan sufi asal Makasar   dikaitkan dengan tarekat Khalwatiyah,   sampai kepada tawhid, tentu engkau   Selanjutnya, ia menyatakan bahwa
 (Sulawesi) tidak dapat dikesampingkan.   dan ia diberikan gelar oleh gurunya di   akan sampai pada tempat ma‘arifat.   semua makhluk merupakan “mahadhir
 Ia adalah Muhammad Yusuf al-Maqassari   Damaskus, Ayyub al-Khalwati, al-Taj   Jika engkau sampai ke tempat ma‘rifat,   nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya”
                                                                                      180
 175
 (1627-1699). Azra menyebutnya sebagai   al-Khalwati (Mahkota Khalwati).  Ini   engkau akan sampai ke tempat ibadah.   Oleh karena itu, “Allah mawjud dalam
 seorang “ulama yang luar biasa.”    menunjukkan kepercayaan tinggi yang   Siapa yang tidak tawhid ia kafir.   setiap benda, maka kalau tidak ada Allah
 171
 Ungkapan penghargaan ini tidak   diberikan kepadanya oleh gurunya ini.   Siapa yang tidak tahu akan ma‘rifat   dalam benda-benda, tidak ada benda.”
                                                                                      181
 berlebihan dan juga bukan tanpa alasan.   Namun, ia juga dikaitkan dengan tarekat   ia jahil. Siapa yang tidak beribadat, ia   Ia mengutip pernyataan Sayyiduna
 Ia adalah sosok ulama yang cerdas,   Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.  fasiq. 176  ‘Ali b. Abi Thalib: “saya tidak melihat



 506  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   507
   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523   524