Page 515 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 515

tidak mampu menyelami ilmu hakikat.   terutama al-Qusyasyi dan al-Kurani.   merupakan “bayangan al-Haqq” (zhill   Maha Esa, maka alam bukan wujud yang
 Oleh karena itu, al-Qur’an sebagai   Dalam karyanya yang berjudul Ithaf al-  al-Haqq) atau “bayangan dari bayangan-  menyertaiNya, dan ia tidak memiliki
 wahyu Allah SWT merupakan sumber   Dzaki bi Syarh al-Tuhfat al-Mursalah ila al-  Nya” (zhill zhillih).  Bayangan itu sendiri   wujud sendiri. Dengan kata lain,
                            157
 kebenaran dan mampu menghindari   Nabi Shall Allah ‘alayhi wa sallam, sebuah   terdiri dari dua bentuk; yang pertama   “meskipun alam bukan zat Allah secara
 para pengkaji ilmu hakikat dari kesesatan.   kitab yang ditulis khusus untuk umat   adalah potensi yang tetap (al-a‘yan   mutlak, namun ia juga tidak berbeda
 Al-Singkili menulis mengenai hal ini   Islam Nusantara (jama‘ah al-Jawiyin),   al-tsabitah), yang dimaknai sebagai   dengan-Nya secara mutlak pula, karena
 sebagai berikut:  al-Kurani menekankan keharusan   bayangan yang langsung dari zat-Nya   alam bukan wujud kedua yang benar-
 menggunakan al-Qur’an dan al-sunnah   dan bersifat azali dan muncul dari ilmu-  benar terpisah dari-Nya.”  Mengutip
                                                                           159
 Pahami dan berpegang teguhlah kepada   sebagai landasan utama dalam mengkaji   Nya; dan yang kedua adalah potensi luar
 al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang mulia,   ilmu hakikat. Kebenaran mutlak wahyu   (al-a‘yan kharijiyyah), yang merupakan   gurunya, al-Singkili menegaskan sebagai
 niscaya engkau mendapat petunjuk   tidak perlu diragukan. Ia menegaskan   bayangan dari potensi yang tetap dan   berikut:
 dan tetap berada pada jalan yang lurus.   bahwa wahyu tidak pernah keliru,   berupa alam empiris.  Ini memperkuat   Alhasil, wujud alam ini tidak benar-
                               158
 Nabi SAW –yang tidak pernah berkata   karena kebenaran yang ia kandung   argumentasi al-Singkili bahwa tidak   benar berdiri sendiri, melainkan terjadi
 berdasarkan hawa nafsunya—bersabda:   adalah mutlak. Sementara orang yang   ada wujud di luar wujud Allah yang   melalui pancaran. Dan yang dimaksud
 “aku tinggalkan dua perkara bagimu,   berijtihad (dengan menggunakan akal)   hakiki dan mutlak, karena semua berasal   dengan memancar di sini adalah bagaikan
 yaitu kitab Allah dan sunnahku, maka   bisa benar dan juga bisa salah. Demikian   dari-Nya. Namun, ini juga tidak berarti   memancarnya pengetahuan dari Allah
 jelaskanlah al-Qur’an dengan sunnahku,   juga halnya dengan orang-orang yang   bahwa alam (termasuk manusia di   Ta‘ala. Seperti halnya alam ini bukan
 karena matamu tidak akan buta, kakimu   telah memperoleh kasyf. Bila perkataan   dalamnya) tidak identik dengan wujud   benar-benar dari zat al-Haq, karena ia
 tidak akan terpeleset, dan tanganmu tidak   mereka tidak benar, maka tidak perlu   al-Haqq (Allah). Dalam hal ini muncul   merupakan wujud yang baru, alam juga
 akan putus selama kamu berpegang teguh   diikuti, karena kasyf yang benar tidak   pertanyaan yang mendasar tentang   tidak benar-benar lain dari-Nya. Ia [alam]
 pada keduanya.” 155  bertentangan dengan al-Qur’an dan al-  bagaimana alam ini tidak terpisah dari   bukan wujud kedua yang berdiri sendiri
 Berangkat dari poin inilah, al-Singkili   sunnah. 156  wujud-Nya, namun juga tidak identik   di samping Allah. 160
 banyak mengutip ayat-ayat al-Qur’an   dengan-Nya?  Penciptaan alam melalui pancaran tidak
 dan hadits Nabi SAW dalam bahasannya.  Bagi al-Singkili, mengkaji tasawuf harus
 dimulai dari tauhid (mengesakan Tuhan)   Persoalan penciptaan alam dan   merubah wujud Allah yang esa, qadim
 Kehati-hatian al-Singkili dalam   sebagai landasan yang utama. Mengkaji   hubungan antara Tuhan dan alam   dan azali. Karena merupakan bayangan
 melakukan kajian mengenai tasawuf   ontologis dan hubungan Tuhan dengan   merupakan isu sentral dalam tasawuf   zat al-Haqq, alam tidak memiliki wujud
 ini sangat beralasan. Banyak para   alam dan manusia harus berangkat dari   falsafi. Dalam penjelasannya mengenai   sendiri; ia berubah dan baharu. Dari
 pendahulunya yang telah mendalami   perspektif tauhid. Hanya ada satu wujud   masalah ini, al-Singkili menggunakan   perspektif ini Transendensi Tuhan atas
 ilmu hakikat dengan menggunakan akal   yang hakiki, yaitu wujud Allah (al-Haqq),   konsep pancaran (al-faydh). Ia   ciptaan-Nya tetap terjaga. Inilah yang
 (rasional) semata, sehingga ajaran-ajaran   tidak yang lain. Alam (khalq) bukan   menegaskan bahwa alam tercipta   dipahami oleh al-Singkili dengan wahdat
 mereka keluar dari akidah yang benar.   entitas yang memiliki wujud sendiri,   dari pancaran zat Allah, sebagaimana   al-wujud (kesatuan wujud), di mana
 Dalam hal ini Al-Singkili kelihatannya   selain Allah. Ia bagaikan bayangan (ka   pengetahuan keluar dari-Nya. Karena   alam, yang merupakan pancaran dari
 juga dipengaruhi oleh guru-gurunyanya,   al-zhill) dari wujud al-Haqq; dan manusia   merupakan pancaran dari zat Yang   zat al-Haqq, bukan merupakan wujud



 502  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   503
   510   511   512   513   514   515   516   517   518   519   520