Page 513 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 513

selama tujuh tahun, dan akhirnya harus   Aceh. Namun, keberlanjutan dominasi   tahun 1661, al-Singikili mendapat   sebanyak 22 karya dalam berbagai
 meninggalkan Aceh dengan tergesa-gesa   Islam ahl al-sunnah terus berlanjut, yang   simpati Ratu dan akhirnya diberikan   bidang keislaman, dari kitab fiqh, tafsir,
 pada tahun 1644. Tidak ada informasi   diwakili oleh ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili.  kepercayaan sebagai pemegang otoritas   hadits, ilmu kalam, hingga tasawuf.
                                                                                     154
 yang akurat yang dapat membantu   keagamaan tertinggi di kerajaan   Meskipun ia tidak sependapat dengan
 kita merekonstruksi peristiwa ini.   Nama lengkapnya adalah ‘Abd al-Ra’uf   sebagai syaikh al-Islam, mufti, dan Qadhi   ajaran wujudiyyah yang dikembangkan
 b. ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili. Ia
 Berdasarkan pengakuan al-Raniri   dilahirkan di Singkil (Aceh) pada tahun   Malik al-‘Adil, posisi yang dipegang   oleh Hamzah Fansuri dan Syams al-
 sendiri, yang dikuatkan oleh sebuah   1615.  Kita tidak dapat memastikan   sebelumnya oleh al-Raniri. Perjalanan   Din, namun al-Singkili tidak setuju
 152
 sumber Belanda, sebuah perdebatan   sejauh mana ia mengetahui berbagai   panjang al-Singkili (19 tahun) dalam   dengan tindakan mengkafirkan para
 keagamaan yang sengit terjadi di istana   peristiwa yang terjadi di Aceh sebelum   menuntut ilmu tidak hanya telah   penganutnya dan bahkan membunuh
 antara al-Raniri dan Sayf al-Rijal,   ia meninggalkan kerajaan ini untuk   menjadikannya ahli dalam berbagai   mereka seperti yang dilakukan oleh
 seorang tokoh wujudiyyah berdarah   belajar di tanah Arab pada tahun 1642.   ilmu keislaman, termasuk fiqh, syari‘at,   pendahulunya, al-Raniri. Tindakan
 Minangkabau yang baru tiba dari   Dua pertistiwa besar dan penting   hadits, tafsir, teologi dan tasawwuf,   moderat yang diambil dalam bidang
 Surat, India. Setelah perdebatan inilah   terjadi di Aceh ketika itu, yaitu polemik   akan tetapi ia berhasil membangun   politik-keagamaan, yaitu memberikan
 akhirnya al-Raniri meninggalkan istana   menentang ajaran wujudiyyah oleh al-  jaringan intelektual dengan para ulama   justifikasi terhadap kepemimpinan
 dan pulang ke kampung halamannya   Raniri, dengan segala kebijakan radikal   di Haramayn yang “melampaui al-  perempuan di Aceh ketika itu, telah
                   153
 di India. Ratu Shafiyyat al-Din akhirnya   yang ia lakukan, dan kontroversi politik   Raniri;”  dan hal ini secara intelektual   memberikannya kesempatan untuk
 mengangkat Syaf al-Rijal sebagai   naiknya perempuan (Shafiyyat al-  dan kecenderungan telah memberikan   menjadi pemegang otoritas keagamaan
 pemegang otoritas agama tertinggi di   Din) ke singgasana kerajaan. Namun,   pengaruh kepadanya.  tertinggi di kerajaan Aceh sampai akhir
 Aceh, menggantikan al-Raniri.  Kasus   tidak keliru untuk ditegaskan di sini   Poin yang juga penting untuk   hayatnya. Dalam perdebatan mengenai
 151
 ini menunjukkan dua poin penting.   bahwa ia mengetahui dua peristiwa   digarisbawahi di sini adalah al-Singkili   tasawuf, al-Singkili mengambil jalan
 Pertama adalah ajaran wujudiyyah   penting ini. Hal ini dapat dicermati   merupakan “satu-satunya ulama yang   tengah dan kompromi, yaitu membawa
 ketika itu masih memiliki penganut   dari peran pentingnya dalam meminta   mendominasi kehidupan keagamaan   pemahaman wahdat al-wujud kepada
 dan bahkan tokoh penting di Aceh   pendapat gurunya di Madinah, yaitu   di kerajaan Aceh sepanjang paruhan   pemahaman ahl al-sunnah (ortodoks),
 yang mampu melakukan perawalanan   Syekh Ibrahim al-Kurani (wafat, 1690),   kedua abad ke-17.” Hal ini ia lakukan   bukan yang menyimpang (heterodoks).
 terhadap serangan sengit al-Raniri. Yang   mengenai kontroversi ajaran wujudiyyah   dengan pendekatan yang moderat   Ia juga mampu mengawinkan tasawuf
 kedua adalah simpati pusat kekuasaan   di Aceh ketika itu, dan pendekatan   terhadap kehidupan keagamaan   dengan syari‘at.
 (penguasa) sangat menentukan siapa   moderat yang ia lakukan ketika kembali   di kerajaan. Karakter inilah yang   Dalam kajian tasawuf, al-Singkili
 yang memegang tampuk hirarki   ke Aceh dalam menghadapi kontroversi   kelihatannya telah mendapat simpati, di   menekankan untuk merujuk kepada
 keagamaan di kerajaan. Dukungan   ini, dukungan keagamaan yang ia   samping keluasan ilmunya, dari pusat   al-Qur’an dan hadits Nabi SAW sebagai
 politik inilah yang telah hilang dari   berikan kepada Ratu, dan berbagai   kekuasaan, yang akhirnya memberikan   sumber utama. Landasan naqli inilah
 Shafiyyat al-Din ketika itu sebagai   karya yang ia tulis untuk memenuhi   ruang yang luas baginya untuk mampu   yang dijadikan sebagai sumber utama
 penguasa (ratu) terhadap al-Raniri,   kebutuhan keagamaan masyarakat.   memenuhi kebutuhan keagamaan   dari bahasannya mengenai tasawuf
 sehingga ia harus angkat kaki dari   Segera setelah kembali ke Aceh pada   umat. Untuk itu ia telah menulis   dan ilmu hakikat. Akal sesungguhnya



 500  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   501
   508   509   510   511   512   513   514   515   516   517   518