Page 508 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 508

Tuhannya dan mengenal dirinya yakni     dan wujud kami, dan kami diri-Nya dan                       diciptakan, dan ia baharu, bukan qadim.   itu. Adapun kalam Allah yang dibawa
            diri, “kuntu kanzan makhfiyyan”, itu    wujud-Nya. Dan lagi pula kata mereka                        Ia diciptakan Allah dari Nur Muhamad,   Jibril kepada Nabi Muhammad SAW
            dirinya, dan semesta sekalian alam dalam   itu bahwa alam itu Allah dan Allah itu                   sebuah pandangan yang sama dengan      yang tersurat pada mashhaf itu dapat
            ilmu Allah.                             alam.” 138                                                  konsep yang diajarkan oleh Syams al-   dikatakan makhluq karena hukumnya

            Tamsil seperti biji dan pohon; pohonnya   Poin kedua yang menjadi objek                             Din.                                   sudah bercerai dengan dzat pada ibarat. 142
            dalam biji itu lengkap serta dalam biji   kritikan al-Raniri terhadap ajaran                        Al-Raniri juga menolak ajaran Hamzah   Di sini jelas bahwa bagi Hamzah kalam
            itu. Maka nyatalah dari perkataan       Hamzah adalah berkenaan dengan                              yang menegaskan bahwa al-Qur’an        Allah merupakan sifat-Nya yang qadim.
            wujudiyyah itu bahwa seru semesta       nyawa manusia, yang dikatakan oleh                          adalah makhluk. Dalam sebuah           Namun, kalam Allah SWT yang dibawa
            alam sekaliannya ada lengkap berwujud   Hamzah bukan khalik dan juga bukan                          karyanya al-Raniri menulis sebagai     Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dan
            dalam Haqq Ta‘ala. Maka keluarlah       makhluk. Ia mengklaim bahwa nyawa                           berikut:                               sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
            alam dari pada-Nya seperti pohon kayu   merupakan amr Allah, dan pandangan                                                                 manusia adalah baharu.
            keluar dari pada biji. Maka i‘tikad yang   ini, menurutnya, juga didukung oleh ahl                  Dan setengah dari pada mereka itu
            demikian itu kufur. 136                 al-suluk.  Al-Raniri menolak pandangan                      [Qadariyyah Mu‘tazilah] i‘tikadnya     Al-Raniri menegaskan bahwa wahyu
                                                           139
                                                                                                                                                       yang dibawa oleh Jibril merupakan kalam
            Pernyataan ini juga ia tulis lagi dalam   ini, dengan menegaskan bahwa nyawa                        bahwa al-Qur’an itu makhluq. Maka      nafsi, dan ia azali. Sementara bahasa,
            bentuk yang lebih jelas lagi dalam      adalah makhluk dan diciptakan oleh                          i‘tikad yang demikian itu kufur, seperti   yaitu bahasa Arab, yang digunakan
            karyanya Jawahir al- ‘Ulum fi Kasyf al-  Allah SWT dengan firman kun. Dalam                         sabda Nabi SAW: man qala inna          untuk menerjemahkan kalam Ilahi
            Ma‘lum. Ia menulis:                     karyanya Jawahir al-‘Ulum al-Raniri                         al-Qur’an makhluq fahuwa kafir.        tersebut adalah baharu. Hamzah,
                                                    menegaskan sebagai berikut:                                 Demikian lagi i‘tikad Hamzah Fansuri
            Sekali-kali tiada seperti kata                                                                      dalam kitab yang berjudul Asrar al-    menurut al-Raniri, mengajarkan “bahwa
            wujudiyyah yang mulhid, katanya         Sekali-kali tiada dikata mereka itu [ahl                    ‘Arifin, katanya bahwa al-Qur’an       kalam Allah sebagai sifat telah bercerai
            bahwasanya adalah segala makhluqat itu   al-suluk] seperti yang demikian. Hanya                     yang dibawa Jibril itu dapat dikatakan   dari zat, juga ia tidak mengakui kalam
            berwujud di dalam kandungan dzat Haqq   saja adalah sekalian ulama dari pada                        makhluk. 141                           nafsi yang dibawa oleh Jibril kepada
                                                                                                                                                                        143
            Ta‘ala. Maka tatkala dilahirkannya akan   mutakallimin dan ahl al-suluk ittifaq                                                            Nabi Muhammad.”  Berangkat dari
            dia, maka jadilah Ia di dalamnya dan    sekalian mereka itu pada mengatakan                         Berikut adalah ungkapan yang diberikan   pemahaman inilah akhirnya Hamzah
            bersatulah Ia dengannya, dan sekarang   bahwa nyawa itu makhluk, dijadikan                          oleh Hamzah dalam karyanya Asrar al-   menyatakan bahwa al-Qur’an adalah
            Ia di dalam kandungan wujud segala      Haqq Ta‘ala akan dia dengan firman-Nya                      ‘Arifin:                               makhluk, sebuah pandangan yang
            makhluqat. 137                          kun, dari pada tiada kepada ada. 140                        Adapun kepada mazhab Mu‘tazilah dan    ditolak keras oleh al-Raniri.
            Selanjutnya, al-Raniri juga mendengar   Singkatnya, Hamzah menegaskan                               Rafidhah dan Zindiq, kalam Allah itu   Poin terakhir yang ditolak keras oleh
            penegasan dari murid-murid Hamzah       bahwa nyawa itu adalah amr Allah,                           makhluq. Pada hukum syari‘at, barang   al-Raniri adalah pandangan Hamzah
            mengenai hal ini ketika berlangsung     keberadaannya bukan dari firman                             siapa mengatakan kalam Allah makhluq   bahwa nyawa manusia akan kembali
            perdebatan, di mana mereka              ciptaan kun; dan oleh karena itu ia qadim                   ia itu kafir; na‘uzu billah minhu.     bersatu dengan Tuhan, yang ia ibaratkan
            menegaskan bahwa “i‘tikad kami          dan berbeda dengan alam ini. Di pihak                       Kalam adalah peri zat, qadim sama-     bagaikan ombak yang berasal dari laut,
            bahwasanya Allah Ta‘ala itu diri kami   lain, al-Raniri menegaskan bahwa nyawa                      sama dengan sekalian yang sedia ketujuh   juga akan kembali ke laut. Pandangan



         496    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   497
   503   504   505   506   507   508   509   510   511   512   513