Page 510 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 510

ini sesuai dengan ajaran panteisme yang   Bagi al-Raniri, penafsiran Hamzah                         memerintahkan rakyatnya dari pada      dan praktik-praktik sufi.”  Meskipun
                                                                                                                                                                              148
            dianut oleh Hamzah. Ayat yang menjadi   ini adalah sesuatu yang sesat.                              barang pekerjaan mereka itu dari       dalam banyak hal tindakannya terkesan
            rujukan Hamzah dalam hal ini adalah     Menurutnya, mustahil wujud yang                             pada baiknya dan jahatnya.” 146        reaktif dan keras selama berada di Aceh,
            surat al-Fajr (89), ayat 26-30. Ia menulis   tidak ada (alam) dapat bersatu dengan                  Al-Raniri membuktikan dirinya sebagai   namun ia telah sukses dalam misinya
            sebagai berikut:                        wujud yang ada (Tuhan). Ulama ini                           seorang tokoh pemikir ahl al-sunnah wa   menyelamatkan umat Islam di kawasan
                                                    juga berpendapat bahwa pandangan                                                                   ini dari, apa yang ia katakan, ajaran
            Ya ayyatuha al-nafs al-                 Hamzah ini bermakna pengingkaran                            al-jama‘ah (ortodoksi) yang konsisten,   menyimpang wujudiyyah.  Mengenai
                                                                                                                                                                              149
            muthma’innah; irji‘i ila rabbiki        terhadap adanya syurga dan neraka. Ia                       yang meskipun dalam banyak hal         peran yang ia mainkan di Nusantara
            radhiyatan mardhiyyah; fadkhuli fi      menegaskan sebagai berikut:                                 memiliki kesamaan dengan pemikiran     S.M.N. al-Attas menulis sebagai berikut:
            ‘ibadi; wadkhuli jannati. Hai segala                                                                mistik Ibn ‘Arabi dan Hamzah Fansuri,
            kamu yang bernyawa muthma’innah!        Maka dimaknakan oleh kaum                                   namun masih mempertahankan ajaran      Karya-karyanya [al-Raniri] dalam
            Pulanglah kamu kepada Tuan kamu         wujudiyyah yang zindiq itu seperti                          tauhid, dan menolak ajaran imanensi    bahasa Melayu tentang teologi dan
            radhi kamu akan Dia dan radhi Ia akan   makna pada ayat “inna lillahi wa inna                       Tuhan dalam alam. Yang ada hanya       ajaran-ajaran dasar Islam, hukum
            kamu. Maka masuklah surga-Ku, hai       ilayhi raji‘un”, adalah maksud mereka                       wujud Tuhan, sementara yang lain       Tuhan yang mengatur pelaksanaannya
            hamba-hamba-Ku!                         itu bahwa alam itu keluar dari pada                         adalah bayangan. Ia menekankan pada    dan prinsip-prinsip moral dan etika
                                                    wujud Allah dan kembali ia jua menjadi                      pelaksanaan agama dengan sebenarnya,   yang berasal dari hukum tersebut
            Artinya datangnya pun dari pada laut,   bersatu dengan Dia. Karena pada mereka                      yang meliputi aspek iman, Islam, ma‘rifat   merupakan jenis karya-karya pertama
            pulangnya pun kepada laut jua…; karena   itu tiada ada surga dan neraka dan tiada                   dan tauhid. Penekanan diberikan pada   yang muncul di dunia Melayu… Tidak
            pada orang berahi yang wasal, jannah    ada pada mereka itu Tuhan, hanya ia                         aspek mengimani kebenaran Islam dan    diragukan lagi bahwa tidak ada seorang
            itulah yang dikatakan dalam ayat:       bertuhankan dirinya sendiri. 145                            melaksanakan semua ajarannya sesuai    pun yang telah memberikan kontribusi
            fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati.                                                                dengan syari‘at. Namun, ini semua      yang demikian besar dalam ilmu ke-
            Pulanglah ia kepada tempat kuntu        Al-Raniri memahami ayat tersebut                            harus dilengkapi dengan pengalaman     islaman dan pengkajian Islam selain
            kanzan makhfiyyan.  144                 sebagaimana yang lazim dipahami                             keruhanian dalam bentuk tradisi sufi,   al-Raniri. Dari perspektif Islamisasi, ia
                                                    oleh kaum ahl al-sunnah bahwa                               sehingga hakikat ma‘rifat dapat diraih.
            Pandangan Hamzah ini sesuai denga       manusia itu sesungguhya adalah                              Hanya dengan ma‘rifat yang hakiki      telah memainkan peran terbesar dalam
            ajaran mistik yang ia anut, yaitu       milik Allah; dan segala amalnya                             inilah keyakinan yang sebenarnya       bidang agama di kalangan masyarakat
            Tuhan imanen dalam alam ini. Dengan     akan kembali kepada Allah. Oleh                             (haqq al-yaqin) terhadap makna tauhid   Nusantara, dan memberikan kontribusi
            kematian, manusia kembali bersatu       karena itu, setiap amal baik akan                           dapat diraih. Oleh karena itu, al-Raniri   yang berkelanjutan terhadap kehidupan
            dengan Tuhannya, bagaikan ombak yang    diberi ganjaran surga, dan sebaliknya                       sangat menentang ajaran panteisme,     spritual dan kualitas intelektual mereka.
            kembali bersatu dengan laut, tempat ia   segala perbuatan yang jahat akan                           yang merusak akidah umat.  Al-Raniri   Al-Raniri merupakan salah seorang tokoh
                                                                                                                                        147
            berasal. Dari perspektif inilah Hamzah   mendapat balasan neraka. Inilah                            adalah “orang pertama di Nusantara     Islam terbesar di Nusantara. 150
            memahami ayat ini berbeda dengan        yang diumapamakan oleh al-Raniri                            yang menjelaskan perbedaan antara      Namun, keberadaan tokoh ini di Aceh
            penafsrian yang diberikan oleh kalangan   bagaikan “pekerjaan rakyat itu                            penafsiran dan pemahaman yang salah    saat itu sarat dengan kontroversi. Ia
            ahl al-sunnah.                          kembali kepada raja jua karena ia                           maupun benar atas doktrin-doktrin      hanya mampu bertahan di kerajaan



         498    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   499
   505   506   507   508   509   510   511   512   513   514   515