Page 505 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 505

Maka kedua ta‘ayyun itu qadim. Ketiga,   Sesuai dengan ajaran mistik yang ia   yang dipahami dari al-Raniri ketika   Sebagaimana yang telah mentradisi
 ta‘ayyun jami‘, yaitu a‘yan kharijiyyah   anut, al-Raniri melihat manusia sebagai   ia menegaskan “bahwa insan itu yaitu   dalam pemikiran tasawuf pada
 yaitu hadits [baharu]. Dan demikian lagi   makhluk Allah yang paling sempurna.   ruh dan jasad jua, dari karena Allah   umumnya, al-Raniri juga melihat
 tajalli pun tiga bagian, jikalau ia banyak   Manusia bukan saja merupakan khalifat   Ta‘ala menyerahkan badan kepada ruh   insan kamil sebagai suatu capaian
 sekali pun, seperti yang ter-madzkur di   Allah di bumi, akan tetapi ia juga   dan diserahkannya ruh pada badan.”    yang sempurna yang dapat diraih. Ini
                                              123
 dalam kitab mereka itu. Pertama tajalli   merupakan mazhar (fenomena) asma   Meskipun ruh merupakan hakikat dari   mengacu kepada manusia yang memiliki
 awwal, yaitu tajalli dzat Haqq Ta‘ala   dan sifat Allah yang paling sempurna.   manusia dan ia kekal, sementara jasad   dalam dirinya hakikat Muhammad, atau
 bagi dzat-Nya pada martabat wahidah,   Pandangan ini sejalan dengan ajaran   bersifat fana, namun ruh membutuhkan   yang juga dikenal dengan nur Muhammad
 yaitu segala sifat dinamai akan tajalli itu   Ibn ‘Arabi. Manusia, menurut al-Raniri,   jasad agar ia dapat mengalami   atau ruh Muhammad. Nur Muhammad ini
 syu’un dzat. Kedua tajalli tsani, yaitu   terdiri dari dua unsur utama, yaitu   kenyataan hidup di dunia yang empiris.   adalah makhluk yang pertama yang
 tajalli dzat-Nya bagi dzat-Nya pada   “jasad” dan “ruh”. Namun, sebagaimana   Dengan kata lain, tanpa jasad ruh tidak   diciptakan, bahkan ia mendahului
 martabat yang kedua, yaitu wahidiyyah,   pandangan para sufi yang lain, hakikat   dapat mengalami dan mengetahui   penciptaan alam ini. Dalam pandangan
 yaitulah segala asma dinamai akan dia   manusia itu sendiri adalah ruh, bukan   apa-apa. Ruh merasakan senang, sakit,   Ibn ‘Arabi, sebagaimana juga al-Raniri,
 tajalli itu a‘yan tsabitah. Ketiga tajalli   tubuh (jasad). Jasad berfungsi sebagai   menangis, tertawa dan lainnya karena   nur Muhammad merupakan wadah
 syuhudi, yaitu zhuhur Haqq Ta‘ala   sarana (alat) bagi ruh dalam melakukan   ia muttashil (berhubungan) dengan jasad.   tajalli Tuhan yang paling sempurna,
 121
 dengan shuwar asma-Nya pada akwan   segala aktifitasnya di dunia ini.  Oleh   Ketika “muttashil ia dengan sesuatu,   dan ia adalah “satu-satunya wadah
 [alam], yaitulah a‘yan kharijiyyah. 119  karena itu, dalam bahasannya mengenai   sama ada keadaan sesuatu itu tulang   tajalli bagi ism al-jalalah, yakni Allah,
 manusia, al-Raniri lebih banyak                    yang dipandang sebagai pengikat atau
 Kutipan di atas menunjukkan bahwa   berbicara mengenai ruh dari pada   atau daging atau tanah, maka adalah   pengumpul semua nama dan sifat.”
                                                                                    126
                                          124
 bagi al-Raniri terdapat tiga martabat   dimensi jasad; dan ia membahas topik   ia mengetahui dan berkata-kata.”    Insan kamil ini jugalah yang berperan
 tajalli, yaitu martabat wahidah, martabat   ini secara panjang lebar dan rumit, di   Demikian juga halnya dengan jasad,   sebagai “cermin” bagi Allah untuk
 wahidiyyah, dan martabat alam arwah.   mana substansi ruh, al-nafs, al-‘aql, dan al-  ia membutuhkan ruh untuk dapat   melihat kesempurnaan diri-Nya.  Bagi
                                                                                 127
 Sebagaimana halnya pandangan Ibn   qalb dan fungsinya masing-masing juga   melakukan akitifitas dengan segala   al-Raniri, insan kamil muncul dalam
 ‘Arabi, al-Raniri juga berpendapat bahwa   dibahas. 122  organnya dengan baik. Konsekuensinya   bentuk para nabi dan wali; ia tidak
 “alam ini dijadikan Allah dengan tajalli.   adalah ketika bercerai ruh dari jasad,   mengalami kefanaan dan kematian; dan
 Hakikat alam yang disebut a‘yan tsabitah   Sebagaimana pandangan para pemikir   maka ruh itu kekal dan jasad fana.   ia juga merupakan sumber ilmu rahasia,
 adalah merupakan daya potensial…   Islam, al-Raniri juga memahami   Namun, bagaimana sifat hubungan   yang setiap sufi harus mendapatkannya,
 Dengan firman ciptaan Kun, ia beralih   bahwa hubungan ruh dan jasad bersifat   antara keduanya ini, yang berasal dari   yang dikenal dengan ilmu kasyf,
 menjadi wujud aktual dalam berbagai   aksidental (ardhiyyah). Ini erat kaitannya   dua alam yang berbeda, merupakan   sebagai pertanda bahwa penghayatan
 wujud kenyataan empiris. Segala   dengan keabadian ruh, sementara   topik yang sulit diketahui. Sebelumnya,   keagamaan seorang sufi telah mencapai
 fenomena dan peristiwa yang terjadi di   jasad tidak abadi. Namun, ruh dan   al-Ghazali juga menegaskan hal yang   haqq al-yaqin. 128
 alam ini disebabkan oleh tajalli Allah   jasad saling membutuhkan, karena   sama, sehingga ia cenderung tidak
 yang senantiasa terjadi pada setiap saat   hanya dengan adanya kedua unsur ini   menjelaskan persoalan ini dalam   Sebagaimana yang telah disebut di
 dan waktu…” 120  maka terwujudlah manusia. Hal inilah   karyanya. 125  muka, al-Raniri datang ke Aceh dengan



 492  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   493
   500   501   502   503   504   505   506   507   508   509   510