Page 507 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 507

sebuah misi menyelamatkan akidah   muka, Hamzah adalah penganut ajaran   diberikan adalah Huwa (Dia), tidak ada   dunia gejala ini, sehingga keduanya
 ummat Islam di sana, khususnya dan   wahdat al-wujud yang dikembangkan   lain dari pada itu. Yang kedua adalah   merupakan suatu hakikat yang tidak
 Nusantara, umumnya, dari ajaran   oleh Ibn ‘Arabi. Konsep wujud dalam   martabat Wahdah, atau yang disebut   dapat dipisahkan.”  Dengat kata lain,
                                                                     135
 sesat Wujudiyyah yang dibawa dan   pandangan Ibn ‘Arabi, dan juga Hamzah,   juga dengan tajalli dalam zat, di mana   alam merupakan bayangan (zhill) dan
 dikembangkan oleh Hamzah Fansuri   adalah hakikat wujud sesungguhnya   zat yang mutlak ini ber-tajalli pada   Allah ada dalam bayangan itu (imanen).
 dan Syams al-Din al-Sumatrani.   adalah satu (esa) pada esensinya,   sifat dan asma-Nya. Martabat yang   Ajaran inilah yang ditolak oleh al-
 Untuk tujuan itu, tidak hanya jalan   namun banyak pada sifat dan namanya.   ketiga disebut dengan tajalli di luar zat.   Raniri, yang berpendapat bahwa alam
 kekerasan yang ia tempuh, yaitu dengan   Dari segi esensi, hakikat yang esa   Dengan tajalli ini, hakikat alam (a‘yan   sebagai bayangan Allah tidak bermakna
 membunuh para pemukanya dan   adalah Tuhan, dan aspek sifat (realitas   tsabitah) memperoleh limpahan wujud   Allah imanen dalam alam. Baginya
 membakar kitab-kitab mereka di depan   empiris) ia (yang esa) itu adalah alam.   melalui firman Kun, dan akhirnya ia   ini adalah sesat dan kufur. Jadi, dalam
 mesjid Baiturrahman,  akan tetapi   Oleh karena itu, “hakikat yang esa   beralih menjadi realitas empiris. Ajaran   masalah ketuhanan perbedaan yang
 129
 juga dalam bentuk perdebatan dengan   mengandung dalam dirinya hal-hal   panteisme inilah yang dianut oleh   menonjol antara kedua tokoh ini berkisar
 para pemuka dan penganut aliran   yang berlawanan: Tuhan dan alam,   Hamzah, yang berpandangan bahwa   mengenai Tuhan imanen dalam alam;
 Wujudiyyah ini dan sanggahan melalui   esa dan banyak, kadim dan baharu,   Tuhan dan alam adalah suatu hakikat   dan topik ini mendominasi bahasan al-
 karya-karyanya.  Terdapat empat   awal dan akhir, lahir dan bathin.”    yang tidak dapat dipisahkan, baik   Raniri dalam banyak karyanya.
 132
 130
 masalah utama dari ajaran Hamzah   Berangkat dari pemikiran ini, maka   dalam martabat Ilahi maupun dalam
 yang mendapat kritikan tajam dari   Tuhan dilihat memiliki dua wujud, yaitu   dunia empiris. Dengan kata lain, “Tuhan   Dalam membahas imanensi Tuhan
 al-Raniri. Yang pertama adalah ajaran   wujud hakiki (wujud zat) dan wujud   berada dalam kandungan (imanen) alam   dalam alam ini, Hamzah sering
 Hamzah bahwa Tuhan imanen di alam   idhafi, yaitu wujud sifat atau realitas   ini. 134  menggunakan perumpamaan mengenai
 ini. Dengan kata lain, Tuhan merupakan   empiris. Wujud yang kedua inilah   hal ini dengan biji dan pohon. Respon
 hakikat fenomena alam empiris. Poin   yang disebut “bayangan bagi Tuhan   Terdapat beberapa persamaan antara   al-Raniri terhadap hal ini dapat dilihat
 kedua adalah ajarannya bahwa nyawa   dan ia menjangkau segala fenomena,   pemikiran Hamzah dengan al-Raniri.   dalam pernyataan beikut:
 bukan Khaliq dan juga bukan makhluk.   dan dengan nama Allah, Zhahir, ia   Di antara persamaannya adalah   Maka sekarang kunyatakan pula
 Yang ketiga ialah ajaran Hamzah   memperoleh wujud dari-Nya.” 133  keduanya sependapat bahwa alam   kepadamu setengah dari pada i‘tikad
 bahwa al-Qur’an adalah makhluk; dan   ini tidak memiliki wujud, yang ada   kaum wujudiyyah yang di bawah angin,
 yang keempat adalah ajarannya yang   Hamzah melukiskan wujud Tuhan   hanya wujud Allah. Artinya, wujud   yaitu Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
 menegaskan bahwa nyawa berasal dari   dalam tiga martabat. Yang pertama   yang hakiki adalah wujud Allah   Sumatrani dan segala yang mengikut
 Tuhan, dan kelak kembali kepada-Nya,   adalah martabat Ahadiyyah, atau yang   semata, sementara wujud alam hanya   keduanya. Kata Hamzah Fansuri dalam
 bagaikan ombak kembali ke laut. 131  disebut juga dengan martabat zat.   bayangan (zhill). Namun, keduanya
 Tuhan digambarkan sebagai zat yang   berbeda dalam memahami hakikat   kitabnya yang bernama Muntahi pada
 Poin pertama merupakan bahasan   mutlak, mujarrad dari nama dan sifat.   ketidak-adaan wujud alam itu sendiri.   merencanakan sabda Nabi “man ‘arafa
 yang terpenting untuk dikaji karena   Ia tidak dapat dijangkau oleh akal   Hamzah menafikan wujud alam, karena,   nafasahu ‘arafa rabbahu”, barang
 ia merupakan persoalan pokok.   dan ma‘rifat; dan tidak diketahui oleh   menurutnya, “wujud Allah yang hakiki   siapa mengenal dirinya bahwasanya
 Sebagaimana yang telah disebut di   siapa pun. Nama satu-satunya yang   ada dalam kandungan dan meliputi   ia mengenal Tuhannya; arti mengenal



 494  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   495
   502   503   504   505   506   507   508   509   510   511   512