Page 512 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 512

selama tujuh tahun, dan akhirnya harus   Aceh. Namun, keberlanjutan dominasi                        tahun 1661, al-Singikili mendapat      sebanyak 22 karya dalam berbagai
            meninggalkan Aceh dengan tergesa-gesa   Islam ahl al-sunnah terus berlanjut, yang                   simpati Ratu dan akhirnya diberikan    bidang keislaman, dari kitab fiqh, tafsir,
            pada tahun 1644. Tidak ada informasi    diwakili oleh ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili.                    kepercayaan sebagai pemegang otoritas   hadits, ilmu kalam, hingga tasawuf.
                                                                                                                                                                                        154
            yang akurat yang dapat membantu                                                                     keagamaan tertinggi di kerajaan        Meskipun ia tidak sependapat dengan
            kita merekonstruksi peristiwa ini.      Nama lengkapnya adalah ‘Abd al-Ra’uf                        sebagai syaikh al-Islam, mufti, dan Qadhi   ajaran wujudiyyah yang dikembangkan
                                                    b. ‘Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili. Ia
            Berdasarkan pengakuan al-Raniri         dilahirkan di Singkil (Aceh) pada tahun                     Malik al-‘Adil, posisi yang dipegang   oleh Hamzah Fansuri dan Syams al-
            sendiri, yang dikuatkan oleh sebuah     1615.  Kita tidak dapat memastikan                          sebelumnya oleh al-Raniri. Perjalanan   Din, namun al-Singkili tidak setuju
                                                        152
            sumber Belanda, sebuah perdebatan       sejauh mana ia mengetahui berbagai                          panjang al-Singkili (19 tahun) dalam   dengan tindakan mengkafirkan para
            keagamaan yang sengit terjadi di istana   peristiwa yang terjadi di Aceh sebelum                    menuntut ilmu tidak hanya telah        penganutnya dan bahkan membunuh
            antara al-Raniri dan Sayf al-Rijal,     ia meninggalkan kerajaan ini untuk                          menjadikannya ahli dalam berbagai      mereka seperti yang dilakukan oleh
            seorang tokoh wujudiyyah berdarah       belajar di tanah Arab pada tahun 1642.                      ilmu keislaman, termasuk fiqh, syari‘at,   pendahulunya, al-Raniri. Tindakan
            Minangkabau yang baru tiba dari         Dua pertistiwa besar dan penting                            hadits, tafsir, teologi dan tasawwuf,   moderat yang diambil dalam bidang
            Surat, India. Setelah perdebatan inilah   terjadi di Aceh ketika itu, yaitu polemik                 akan tetapi ia berhasil membangun      politik-keagamaan, yaitu memberikan
            akhirnya al-Raniri meninggalkan istana   menentang ajaran wujudiyyah oleh al-                       jaringan intelektual dengan para ulama   justifikasi terhadap kepemimpinan
            dan pulang ke kampung halamannya        Raniri, dengan segala kebijakan radikal                     di Haramayn yang “melampaui al-        perempuan di Aceh ketika itu, telah
                                                                                                                       153
            di India. Ratu Shafiyyat al-Din akhirnya   yang ia lakukan, dan kontroversi politik                 Raniri;”  dan hal ini secara intelektual   memberikannya kesempatan untuk
            mengangkat Syaf al-Rijal sebagai        naiknya perempuan (Shafiyyat al-                            dan kecenderungan telah memberikan     menjadi pemegang otoritas keagamaan
            pemegang otoritas agama tertinggi di    Din) ke singgasana kerajaan. Namun,                         pengaruh kepadanya.                    tertinggi di kerajaan Aceh sampai akhir
            Aceh, menggantikan al-Raniri.  Kasus    tidak keliru untuk ditegaskan di sini                       Poin yang juga penting untuk           hayatnya. Dalam perdebatan mengenai
                                        151
            ini menunjukkan dua poin penting.       bahwa ia mengetahui dua peristiwa                           digarisbawahi di sini adalah al-Singkili   tasawuf, al-Singkili mengambil jalan
            Pertama adalah ajaran wujudiyyah        penting ini. Hal ini dapat dicermati                        merupakan “satu-satunya ulama yang     tengah dan kompromi, yaitu membawa
            ketika itu masih memiliki penganut      dari peran pentingnya dalam meminta                         mendominasi kehidupan keagamaan        pemahaman wahdat al-wujud kepada
            dan bahkan tokoh penting di Aceh        pendapat gurunya di Madinah, yaitu                          di kerajaan Aceh sepanjang paruhan     pemahaman ahl al-sunnah (ortodoks),
            yang mampu melakukan perawalanan        Syekh Ibrahim al-Kurani (wafat, 1690),                      kedua abad ke-17.” Hal ini ia lakukan   bukan yang menyimpang (heterodoks).
            terhadap serangan sengit al-Raniri. Yang   mengenai kontroversi ajaran wujudiyyah                   dengan pendekatan yang moderat         Ia juga mampu mengawinkan tasawuf
            kedua adalah simpati pusat kekuasaan    di Aceh ketika itu, dan pendekatan                          terhadap kehidupan keagamaan           dengan syari‘at.
            (penguasa) sangat menentukan siapa      moderat yang ia lakukan ketika kembali                      di kerajaan. Karakter inilah yang      Dalam kajian tasawuf, al-Singkili
            yang memegang tampuk hirarki            ke Aceh dalam menghadapi kontroversi                        kelihatannya telah mendapat simpati, di   menekankan untuk merujuk kepada
            keagamaan di kerajaan. Dukungan         ini, dukungan keagamaan yang ia                             samping keluasan ilmunya, dari pusat   al-Qur’an dan hadits Nabi SAW sebagai
            politik inilah yang telah hilang dari   berikan kepada Ratu, dan berbagai                           kekuasaan, yang akhirnya memberikan    sumber utama. Landasan naqli inilah
            Shafiyyat al-Din ketika itu sebagai     karya yang ia tulis untuk memenuhi                          ruang yang luas baginya untuk mampu    yang dijadikan sebagai sumber utama
            penguasa (ratu) terhadap al-Raniri,     kebutuhan keagamaan masyarakat.                             memenuhi kebutuhan keagamaan           dari bahasannya mengenai tasawuf
            sehingga ia harus angkat kaki dari      Segera setelah kembali ke Aceh pada                         umat. Untuk itu ia telah menulis       dan ilmu hakikat. Akal sesungguhnya



         500    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   501
   507   508   509   510   511   512   513   514   515   516   517