Page 517 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 517
yang terpisah (berdiri sendiri). Ia adalah Maka, pahamilah ketetapan ini, dan Sebagaimana halnya dengan syari‘at. Hal ini dapat dilihat dari karya-
bayangan dan bahkan bayangan dari janganlah mencampuradukkan sesuatu, pandangan para tokoh sufi yang lain, karyanya yang juga mencakup syari‘at
bayangan-Nya. Al-Singkili mengambil karena pencampuradukkan persoalan termasuk Hamzah Fansuri, al-Singkili dan ilmu hakikat (tasawuf). Gurunya,
sikap yang sangat hati-hati dalam itu termasuk kebiasaan orang-orang berpendapat bahwa alam ini bukan al-Kurani, menekankan pentingnya
memahami konsep wahdat al-wujud. yang tidak mengenal Allah. Katakan diciptakan dari tiada, akan tetapi syari‘at bagi para sufi. Ia menegaskan
Ia melakukan reinterpretasi terhadap dan yakinkan bahwa hamba tetap hamba ia diciptakan dari “rahmat” Allah. bahwa “tidak ada kontradiksi antara
makna dan konsep wahdat al-wujud meskipun ia naik pada tingkat yang Dari rahmat ini Allah menciptakan kesatuan wujud (tawhid al-wujud) dengan
itu sendiri, yang disesuaikan dengan tinggi (taraqqi), dan Tuhan tetap Tuhan alam “berdasarkan pengetahuan- syari‘at dan tuntutan untuk mematuhi
164
pemahaman sunni. Bila Hamzah Fansuri meskipun Ia turun (tanazzul). Dan Nya di zaman azali secara tertib”, perintah (berbuat baik) dan larangan
167
menekankan pada imanensi Allah dalam hakikat itu tidak akan berubah, artinya dan yang pertama kali diciptakan (berbuat buruk).” Oleh karena itu,
alam secara mutlak, maka al-Singkili hakikat hamba tidak akan berubah adalah Nur Muhammad. Pandangan ia menegaskan bahwa tasawuf tidak
membantahnya. Menurutnya, kesatuan menjadi hakikat Tuhan, demikian pula ini didasarkan pada hadits Nabi SAW membuat kewajiban syari‘at menjadi
Allah dan alam tidak mutlak, melainkan sebaliknya, walau pada zaman azali yang terkenal yang merupakan jawaban gugur; dan mengingatkan bahwa banyak
sebagai kesatuan dalam konsep sekalipun. 162 atas pertanyaan seorang sahabat, yaitu dari kalangan sufi yang berpendapat
165
pancaran (al-faydh) dan bayangan (al- Selanjutnya al-Singkili mengakui bahwa Jabir. Nabi Muhammad SAW diyakini bahwa bagi mereka yang telah
zhill). Hamzah mengajarkan persamaan ada sekelompok orang yang memahami sebagai makhluk yang paling mulia memperoleh kasyf kewajiban syari‘at
gugur. Ini, tegas al-Kurani, merupakan
dan penyatuan antara bayangan hadits Nabi SAW: “man ‘arafa nafsahu dan pemimpin jagad ini. Oleh karena sebuah “kesesatan” dan “keluar dari
dengan aslinya, sementara al-Singkili ‘arafa rabbahu” dengan makna bersatunya itu, al-Singkili senantiasa menekankan ketentuan Islam.” 168
membantahnya dengan menekankan hamba dengan Tuhannya secara mutlak, pada murid-muridnya untuk mengikuti
bahwa alam adalah bayangan Tuhan dan ini merupakan seubuah kesalahan syari‘at Nabi Muhammad SAW. Ia Pentingnya peran syari‘at bagi sufi
semata, bukan zat-Nya. 161 besar. Ia menegaskan sebagai berikut: menegaskan: tidak dapat dikesampingkan. Untuk
Persoalan Transendensi Tuhan inilah Dan janganlah engkau terperdaya oleh Wahai murid! Tidak ada pilihan lain dapat meraih hakikat, yang bermakna
kebenaran Ilahi (al-haqiqah al-ilahiyah),
yang selalu ditekankan oleh al- orang yang berdalih atas penyatuan bagimu selain harus mengikuti ajaran maka syari‘at harus ada di sana
Singkili, meskipun ia juga mengajarkan wujud hamba dari secara mutlak melalui Nabi. Maka, berpegang teguhlah pada menyertainya. Dengan kata lain, terdapat
imanensi Tuhan dalam alam dalam hadits “barang siapa mengenal dirinya, perkataan dan perbuatannya lahir keterkaitan yang erat antara syari‘at
bentuk bayangan. Oleh karena itu, niscaya ia mengenal Tuhannya.” Lalu, dan batin niscaya engkau selamat dan (zahir) dan hakikat (bathin). Bahkan,
manusia yang mampu meraih martabat dalam kebodohannya kepada Allah, ia termasuk ke dalam golongan orang-orang Nabi SAW pernah mengungkapkan
mendekati Tuhan (taraqqi) ia tetap menafsirkan hadits tersebut dengan saleh. 166 bagaimana eratnya keterkaitan antara
manusia; demikian juga Tuhan dapat mengatakan bahwa diri manusia itu Poin ini membawa kita pada aspek tiga elemen, yaitu syari‘at, tarekat
turun ke alam penampakan (tanazzul), adalah zat Tuhannya secara mutlak, tidak syari‘at dari ajaran tasawuf al-Singkili. dan hakikat dalam sebuah sabdanya:
mamun Ia tetap Tuhan, Sang Khaliq. lain dari itu. Kami berlindung kepada Ia sangat peduli terhadap rekonsiliasi “Syari‘at adalah perkataanku, tarekat
Mengenai hal ini al-Singkili menulis: Allah dari keyakinan demikian. 163 dan perpaduan antara tasawuf dan adalah perbuatanku dan hakikat
504 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 505

