Page 502 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 502

wujud. Dengan demikian, keesaan         mazhar tajalli Allah, namun dengan                          Sifat itu yaitu lain zat pada suatu wajah   al-Qadir (Yang Maha Berkuasa), al-Murid
            Tuhan dalam wujud terpelihara. Di       tafsiran tersebut ia terlepas dari jerat                    dan lain dari pada zat pada suatu wajah,   (Yang Maha Berkehendak), al-Sami‘u
            sinilah terlihat upaya kompromis        panteisme Ibn ‘Arabi seperti yang kita                      dari karena bahwasanya segala sifat    (Yang Maha Mendengar), al-Bashir
            yang dilakukan oleh al-Raniri, yaitu    jumpai dalam mistik Hamzah Fansuri. 115                     itu yaitu beberapa makna dan iktibar   (Yang Maha Melihat), dan al-Mutakallim
            dengan “mengalihkan makna syirk dari    Terkait dengan bentuk hubungan                              dan nisbah dan idhafah. Maka dari      (Yang Maha Berbicara). Dari sifat-sifat
            pengertian teologis, seperti yang umum   antara sifat Allah dan zat-Nya, al-                        wajah ini, sifat itu lain zat, dari karena   ma‘nawiyyah ini lahir sifat-sifat fi‘il, yaitu
            dianut oleh dalam kalangan mutakallimin,   Raniri juga cenderung melakukan                          bahwasanya tiada ada di sana mawjud    sifat-sifat yang berhubugan langsung
            kepada pengertian ontologis seperti     kompromi antara dua kutub yang                              melainkan zat Haqq. Apa pun wajah yang   dengan alam makhluk. Sifat-sifat fi‘il ini
            yang umum dianut dalam kalangan para    berbeda, yaitu pandangan Mu‘tazilah                         sifat itu lain dari pada zat, dari karena   termasuk al-Khaliq (Yang Maha Pencipta),
            sufi.” 114                              (termasuk Ibn ‘Arabi) dan Asy‘ariyyah.                      bahwasanya segala mafhumnya tertentu   al-Raziq (Yang Maha Pemberi Rezeki),

            Mengenai kemungkinan kerancuan          Kelompok pertama meyakini bahwa                             berlain-lainan. 116                    al-Hadi (Yang Maha Pemberi Petunjuk),
                                                                                                                                                       al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan),
            pemikiran mengenai wujud Allah dan      sifat identik dengan zat; sementara                         Akan tetapi, al-Raniri juga memberikan   dan al-Mumit (Yang Maha Mematikan). 118
            alam adalah esa sehingga dapat terseret   Asy‘ariyyah berpandangan bahwa                            penekanan bahwa perbedaan makna
            ke dalam pandangan Ibn ‘Arabi yang      sifat sesungguhnya bukan zat,                               antara keduanya tidak hakiki, karena   Tidak diragukan lagi bahwa konsep
            panteistik, Daudy menulis sebagai       namun ia tidak dapat dipisahkan                             “pada hakikatnya yang ada hanyalah zat   tajalli merupakan dimensi tasawwuf
            berikut:                                dari zat itu sendiri. Dalam upaya                           Allah semata.” 117                     falsafi yang menonjol di Aceh ketika
                                                    mengkompromikan pandangan                                                                          itu. Dalam hal ini, al-Raniri secara jelas
            Akan tetapi apa yang dikatakan oleh     yang bertolak belakang ini, al-Raniri                       `Al-Raniri memberikan kategorisasi     mengikuti ajaran Ibn ‘Arabi, termasuk
            Syekh Nuruddin bahwa wujud Allah        berpendapat bahwa harus dilihat                             sifat-sifat Allah ke dalam dua jenis,   dalam menjadikan sebuah hadits Qudsi
            dan alam esa tidaklah dimaksudkan       dari dua dimensi, yaitu (1) dimensi                         yaitu sifat “zat” dan sifat “ma‘ani”. Sifat   sebagai sebuah pembenaran. Hadits
            bahwa alam ini suatu sisi lahiriah dari   wujud dan (2) makna (pengertian).                         zat terbagi ke dalam enam, yaitu Qidam   dimaksd berbunyi: “Aku (Allah) adalah
            hakikatnya yang batin, yakni Allah,     Dilihat dari dimensi wujud, sifat tidak                     (dahulu), Baqa (kekal), Mukhalafatuhu li   perbendaharaan yang terpendam (kanzan
            seperti yang dikatakan oleh Ibn ‘Arabi.   berbeda dengan zat (‘ayn dzat), karena                    al-Hawadits (berbeda dengan makhluk),   makhfiyyan). Aku ingin supaya dikenal,
            Yang dimaksud dari pernyataan tersebut,   zat Allah itu sendiri merupakan wujud                     Qiyamuhu bi nafsih (berdiri sendiri), dan   maka aku ciptakan alam ini sehingga
            bahwa alam ini pada hakikatnya tidak    hakiki. Oleh karena itu, sifat tidak                        Wahdaniyyah (keesaan). Sifat-sifat ma‘ani,   dengan itu mereka mengenalku.” Tajalli,
            ada; yang ada hanyalah wujud Allah      dapat dipisahkan dari dzat. Perbedaan                       menurut al-Raniri, terdiri dari tujuh,   menurut al-Raniri, terjadi dalam tiga
            yang esa. Kenyataan bahwa alam ini ada   keduanya terletak pada dimensi                             yaitu al-Hayah (hidup), al-‘Ilmu (ilmu),   martabat. Mengenai hal ini, cukup kita
            hanyalah sebagai sebutan waham saja.    makna, karena makna (pengertian)                            al-Qudrah (kuasa), al-Iradah (kehendak),   kutip penjelasannya sebagai berikut:
            Karena pada hakikatnya ia tidak ada,    sifat dan zat berbeda. Untuk                                al-Sam‘u (mendengar), al-Bashar (melihat),
            maka tidak dapat dikatakan ia berbeda   memperkuat pandangannya ini, al-                            dan al-Kalam (berbicara). Sifat-sifat   Bahwasanya adalah ta‘ayyun itu tiga
            atau bersatu dengan Allah. Oleh karena   Raniri mengutip Sa‘d al-Din Hamawi                         ma‘ani ini akhirnya melahirkan sifat-  perkara. Pertama, ta‘ayyun awwal, yaitu
            itu, walaupun Syekh Nuruddin dan juga   (wafat 1253) yang menegaskan sebagai                        sifat ma‘nawiyyah, yaitu al-Hayy (Yang   martabat wahidah; kedua ta‘ayyun
            Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa alam ini    berikut:                                                    Hidup), al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui,   tsani, yaitu martabat wahidiyyah.



         490    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   491
   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506   507