Page 501 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 501

ortodoksi (ahl al-sunnah wa al-jama‘ah).    bersemangat melakukan penafsiran   budaya, agama, dan politik di kawasan   cermin raja-raja, termasuk beberapa
 99
 Oleh karena itu, neo-sufisme merupakan   ulang doktrin tasawuf yang keluar   itu, khususnya Aceh.  Ini dibuktikan   karya penting yang berkenaan dengan
                               107
 sintesis dari bentuk tasawuf fasafi   dari ajaran panteisme di Nusantara.    dengan kehadirannya yang sangat   polemik mengenai Wujudiyyah. 111
 105
 dengan ajaran-ajaran moral syari‘ah.    Nama lengkapnya adalah Nur al-Din   cepat (segera setelah Iskandar Muda
 100
 Meskipun upaya intelektual untuk   Muhammad b. ‘Ali b. Hasanji al-Hamid   wafat), keaktifannya yang langsung   Al-Raniri sebenarnya terkesan dengan
 kembali kepada ortodoksi sunni telah   al-Raniri, yang lahir di Ranir (Rander),   dalam panggung politik dan dalam   konsep tajalli yang dikembangkan oleh
 lama dilakukan, terutama setelah abad   Gujarat, sekitar akhir abad ke-16. Oleh   kontroversi keagamaan di Aceh,   Ibn ‘Arabi tentang Tuhan, alam dan
 ke-12, namun kelihatannya ia mencapai   karena itu, ia bukan seorang Aceh asli,   masa singkatnya di Aceh yang   manusia; namun, ia tidak cenderung
 puncaknya pada abad ke-17.  Ahmad   dan juga bukan seorang penduduk tetap   sangat produktif, dan kemahirannya   mengadopsi ajaran panteismenya.
 101
 Sirhindi (wafat 1625) mewakili puncak   di kerajaan ini. Namun, keberadaannya   berbahasa Melayu. Bahkan, ia juga   Apa yang ia lakukan adalah
 gerakan pengkritik ajaran wahdat al-  yang singkat di Aceh, yaitu sekitar tujuh   diklaim pernah datang ke Aceh di akhir   mengkompromikan dua kutub yang
 wujud Ibn ‘Arabi. Ia merupakan “seorang   tahun (1637-1644/45), ditandai sebagai   masa pemerintahan Iskandar Muda,   berbeda ini, yaitu ajaran mutakallimun
 ahli teori pembaharuan tasawuf”   periode yangt paling kontroversial   namun tidak mendapat sambutan dan   dan Ibn ‘Arabi, sehingga ia masih
 yang berasal dari India.”  Sirhindi   dalam sejarah kerajaan ini sepanjang   akhirnya ia berhasil mendapatkan   mempertahankan akidah ahl al-
 102
                                                                      112
 menegaskan bahwa realitas sufi (haqiqah),   abad ke-17. Ia berhasil mendapat   simpati dan dukungan kerajaan pada   sunnah wa al-jama’ah.  Dalam masalah
 yang sangat sering bertentangan dengan   dukungan kerajaan dan memperoleh   masa Iskandar Tsani (wafat 1641).    ketuhanan ia mempertahankan doktrin
                                           108
 syari‘ah, sesungguhnya merupakan   posisi strategis sebagai Syaikh al-Islam,   Poin yang penting disebut di sini   bahwa wujud Allah dan wujud alam
 landasan kehidupan bagi syari‘ah itu   sebuah jabatan hirarkhi keagamaan   adalah bahwa kedatangan al-Raniri ke   berbeda, dan tidak boleh disamakan,
 sendiri.”  Azyumardi Azra mensinyalir   tertinggi di kerajaan.  Aceh kelihatannya didorong oleh misi   sebagaimana kepercayaan yang dianut
 103
 bahwa saling pendekatan (rapprochement)   untuk menghancurkan ajaran mistik   oleh para mutakallimun. Namun, ia
 antara ulama yang berorientasi pada   Al-Raniri dikenal sebagai seorang   yang heterodoks di Aceh, yang ia sebut   kelihatannya lebih cenderung kepada
 syari‘at dengan para ahli sufi mencapai   penganut ahl al-sunnah wa al-jama‘ah   sebagai “wujudiyyah yang zindiq dan   pandangan ahli sufi yang menegaskan
 puncaknya pada abad ke-17; dan ini   yang ketat dan ulama yang sangat   mulhid.”  Ia secara terang-terangan   bahwa didasarkan pada dalil wahyu dan
                   109
 merupakan ciri yang menonjol dari   produktif, meskipun kehadirannya di   menegaskan niatnya untuk membawa   kasyf “wujud Allah adalah yang esa lagi
 jaringan ulama ketika itu.  Penyebaran   kerajaan ini tergolong singkat, yaitu   saudara-saudaranya seiman ke dalam   hakiki, sedangkan alam ini merupakan
 104
 neo-sufisme ini mencapai kawasan   tujuh tahun. Ia dikenal sebagai seorang   Islam yang “benar.”  Di antara upaya   wujud bayangan atau mazhar (tempat
                              110
                                                                         113
 Nusantara.  sufi, ahli ilmu kalam (mutakallim), ahli   kenyataan) bagi Allah.”  Di sini al-
 hukum Islam, sastrawan, dan politikus.   yang ia lakukan untuk merealisasikan   Raniri berupaya untuk menghindarkan
 Pemikiran tokoh neo-sufisme yang   Namun, ia juga dikenal sebagai seorang   misinya ini adalah menuangkan   diri dari syirk bila dipahami adanya
 patut disinggung pertama di sini   menulis yang produktif. Al-Raniri   pemikirannya dalam banyak karya.   dua wujud (Tuhan dan alam). Dengan
 adalah seorang ulama asal India   datang ke Aceh pada tahun 1637, segera   Ahmad Daudy menemukan 29 karya   demikian ia menekankan bahwa hanya
 yang berkarir di Aceh, yaitu Nur al-  setelah wafatnya Sultan Iskandar   al-Raniri, yang terdiri dari bahasan   ada satu wujud (esa), yaitu wujud Tuhan;
 Din al-Raniri. Ia, menurut Rahman,   Muda.  Sebelum kedatangannya ke   umum mengenai Islam, termasuk karya   sementara alam adalah “bayangan”
 106
 merupakan seorang ulama yang sangat   kerajaan ini, al-Raniri telah menguasai   fiqh, hadits, tasawuf, sejarah, dan karya   (mazhhar), yang bermakna tidak memiliki



 488  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   489
   496   497   498   499   500   501   502   503   504   505   506