Page 499 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 499
terlihat [oleh] mata kepala dan terdengar manusia dalam mencapai ma‘rifah Allah, martabat alam insan ini dibandingkan yaitu Nur al-Din al-Raniri (wafat 1658),
[oleh] telinga dan terasa [oleh] perasa sebagai tujuan tertinggi yang diraih dengan martabat-martabat lainnya. Oleh yang berhasil menarik simpati Sultan
tubuh; maka itulah yang bernama alam oleh seorang sufi; dan pencapaian ini karena itu, martabat ketujuh disebut Aceh yang berkuasa saat itu, yaitu Sultan
mulk.” Di sini terlihat jelas bahwa tidak akan terwujud tanpa manusia juga dengan syai’un jami‘, yakni sesuatu Iskandar Thani (berkuasa 1636-1641).
91
yang dimaksud dengan mulk di sini itu mengenal dirinya. Syams al-Din yang menghimpun semua martabat Adalah di bawah patron penguasa ini al-
adalah realitas “empiris”. Penggunaan menegaskan sebagai berikut: tajalli sebelumnya, dan nama Tuhan yang Raniri mampu melakukan perlawanan
alam ajsam dengan alam syahadah ber-tajalli melalui alam insan ini adalah intelektual, bahkan politik, terhadap
diungkapkan oleh Syams al-Din sebagai Maka segala ‘arif rabbani berkata, al-Jami‘ (Yang Maha Menghimpun). 96 aliran wujudiyyah di Aceh ketika itu.
berikut: jikalau tiada ia mengenal ruh al-insan Gerakan ortodoksi ini terus berlanjut
dan tiada ia mengenal ruh al-qudus, Anjuran agar manusia mengenal dirinya pada masa ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili
Fasal kelima tentang alam syahadah… artinya nyawa-nyawanya, niscaya tiada (ruh) didasari atas ajaran bahwa Tuhan, (wafat 1693), namun dalam bentuk yang
bahwa Allah SWT tatkala menghendaki [ia] mengenal Allah Ta‘ala karena yang dengan segala sifat-Nya, tersembunyi lebih lembut dan bersahabat. Tokoh lain
ber-tajalli pada bukan diri-Nya dengan tempat tajalli Allah Ta‘ala itu tiada di dalam sifat-sifat manusia (ruh). di Nusantara ketika itu yang terkenal
tajalli yang nyata, maka Ia menciptakan dikenalnya, maka betapa [dirinya] dapat Sementara ruh manusia menjalankan dengan pemikiran ortodoksi menentang
tubuh yang bersifat gelap; ia merupakan mengenal Allah Ta‘ala. 93 fungsi sebagai “cermin” di mana bayang- ajaran wujudiyyah adalah Muhammad
sesuatu yang tersusun, tebal, dapat Manusia, menurut Syams al-Din, bayang segala sifat Tuhan dapat terlihat. Yusuf al-Maqassari (wafat 1699), seorang
dibagi, dapat dipisah-pisah, dan dapat merupakan realisasi dari kehendak Syams al-Din menegaskan bahwa ulama yang berpetualang dari Sulawesi,
dipadukan; maka ia dinamakan tubuh (iradah) Tuhan untuk ber-tajalli pada “karena diri kita umpama cermin yang Banten, Timur Tengah, Turki, hingga
materi dan alam syahadah. Wujud bukan dirinya dengan bentuk tajalli terang, maka apabila kita menilik [ke] Afrika Selatan. Era ini dikenal dengan
yang mutlak menampakkan diri dengan yang paling jelas. Dengan kata lain, dalamnya, niscaya [kita] melihat segala periode muncul dan maraknya format
94
semua nama dan sifat melalui Tubuh tajalli Tuhan melalui setiap bagian dari sifat Tuhan itu, yakni nyata Tuhan itu intelektual keagamaan yang baru, yang
97
materi yang bersifat gelap itu merupakan alam tidak sama tingkat kejelasannya. dalam diri kita juga.” Argumentasi ini dikenal dengan neo-sufisme.
selubung Allah SWT dalam alam Dalam hal ini, tajalli melalui “manusia” ia perkuat dengan ajaran dari, apa yang
syahadah. Wujud mutlak dengan nama merupakan bentuk yang paling jelas, ia percayai, hadits yang menegaskan
al-Zhahir muncul dalam tajalli ini; maka karena “alam manusia berpotensi untuk bahwa “hati mukmin itu umpama Neo-Sufisme
jadilah tubuh sebagai bentuk dan hamba dapat membayangkan lebih terang cermin, apabila ditilik, di dalamnya Neo-sufisme, yang diperkenalkan oleh
nama itu, sedang nama al-Zhahir tersebut atau lebih banyak sifat-sifat ketuhanan nyatalah Tuhanmu.” 98 Fazlur Rahman, mengacu kepada trend
sebagai Tuhan. 92 melalui dirinya.” Syams al-Din dalam Pandangan tasawuf falsafi yang pemikiran yang berupaya mendekatkan
95
Martabat yang ketujuh adalah alam hal ini mengutip sebuah hadits yang ia berkembang di Nusantara, khususnya di antara dua kutub, tasawuf dan syari’at.
manusia (insan). Martabat ini merupakan katakan sebagai qudsi yang berbunyi: Aceh ini, akhirnya memicu kontroversi Ini merupakan pembaharuan (reform)
topik bahasan yang paling penting “Aku tidak menampakkan diri pada di kalangan ulama ortodoks (ahl al- dalam bidang tasawuf, di mana elemen
dalam diskursus mengenai alam. Ini sesuatu seperti penampakan-Ku melalui sunnah wa al-jama‘ah). Reaksi yang keras ekstatik dan metafisiknya dihilangkan
dapat dipahami karena peran penting manusia.” Ini menunjukan keistimewaan diberikan oleh seorang ulama asal India, dan diganti dengan kandungan ajaran
486 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 487

