Page 494 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 494
Pada tempat lain, Syams al-Din tahap awal ini merupakan “akibat Ketiga, martabat wujud itu bernama Kutipan di atas memberikan tekanan
menegaskan sebagai berikut: dari adanya kehendak (iradah) Tuhan wahidiyyah, pada konsep bahwa martabat ketiga
untuk menampakkan diri-Nya dalam (wahidiyyah) sesungguhnya masih
Maka ketahuilah bahwa Tuhan (al-Haqq) diri-Nya sendiri dengan pengetahuan itulah racana wahdah, hakikat berbentuk penampakan (tajalli) dalam
Subhanahu wa Ta‘ala tatkala ingin yang mutlak (umum/ijmali) atau insaniyyah, diri Tuhan. Bila martabat kedua
melahirkan kehendak “Aku adalah harta sebagai akibat adanya kehendak- di sanalah nyata ma‘lum di dalam merupakan hasil tajalli dengan satu
terpendam, maka Aku ingin agar dikenal, ‘ilmiyyah, nama, yaitu Allah, maka martabat yang
maka Aku ciptakan makhluk, melalui Nya untuk merealisasikan kecintaan ketiga (wahidiyyah) ini merupakan hasil
mana mereka mengenal-Ku,” maka (kerinduannya)-Nya untuk dikenal atas jalan bernama tafshiliyyah. 81 tajalli wujud Tuhan dengan dua nama,
muncullah kecantikan-Nya pada cermin oleh alam atau manusia melalui Pada tempat lain Syams al-Din yaitu al-Raman dan al-Rahim. Dari tajalli
78
nama-nama dan sifat-sifat. 76 alam.” Shams al-Din selanjutnya menegaskan: Tuhan dengan nama al-Rahman, muncul
menegaskan bahwa “penampakan
Syams al-Din juga menegaskan bahwa: wujud mutlak Tuhan dalam tajalli ini Bahwa Tuhan Subhanahu wa Ta‘ala pengetahuan yang detail dalam diri
adalah dengan nama Allah. Maka tatkala berkehendak untuk ber-tajalli pada Tuhan mengenai sifat-sifat dan asma-
Tuhan (al-Haqq) Subhanahu wa Ta‘ala diri-Nya sendiri dengan pengetahuan Nya sendiri. Selanjutnya, tajalli wujud-
tatkala ingin ber-tajalli dalam diri- ta‘ayyun awal menjadi bentuk (shurah) Nya denga nama al-Rahim memunculkan
Nya sendiri dengan pengetahuan yang dan hamba (ma’luhah); dan Ia [subjek yang terperinci, maka muncullah dalam pengetahuan-Nya yang terperinci
79
mutlak, maka muncullah wujud-Nya yang ber-tajalli) disebut Tuhan (Ilah).” pengetahuan yang terperinci itu wujud- mengenai hakikat-hakikat alam (a‘yan
Nya yang mutlak dengan semua nama-
yang mutlak dalamnya dengan semua Pada martabat kedua ini juga disebut tsabitah).
syu’un ketuhanan dan kemakhlukan nama atau sebutan hakikat Muhammad. nama dan sifat-sifat ketuhanan dan
kealaman dengan perbedaan nyata antara
tanpa pembedaan bagian dengan bagian, Dalam hal ini, hakikat Muhammad, bagian dengan bagian. Maka dinamakan Dalam pandangan Syams al-Din, al-
maka dinamakan wahdah dan hakikat dalam pandangan Syams al-Din, ia dengan wahidiyyah hakikat a‘yan al-tsabitah tidak memiliki wujud
Muhammadiyyah dan ahadiyyah mengacu kepada wujud ‘ilmu dalam insaniyyah, dan keesaan kemajemukan, aktual, dan bahkan ia tidak mencium
83
himpunan. 77 diri Tuhan yang bersifat umum, bukan aroma wujud. Namun, sebagai ide-ide
wujud aktual. Singkatnya, martabat dan ia adalah semua yang bersifat ia selamanya berada dalam ilmu Tuhan.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa kedua ini mengandung sifat-sifat rahmaniyyah. Dengan munculnya Al-a‘yan al-tsabitah masih dalam bentuk
pada martabat wahdah ini zat yang Tuhan, di mana realitas adalah hakikat wujud mutlak dengan nama al-Rahman, bayang-bayang yang dimulai dari nama-
mutlak (Tuhan) ber-tajalli melalui sifat- Muhammad dengan karakteristik yang menghasilkan kemunculan nama- nama (asma) Tuhan. Berikutnya, nama-
sifat dan asma, yang menampakkan belum ada ciptaan dan keberagaman nama dan sifat-sifat, dan dengan nama-Nya adalah bayang-bayangan
diri di dalam zat-Nya, yakni wujud- yang eternal (kekal) dalam kesatuan nama al-Rahim, yang menghasilkan dari sifat-sifat-Nya; sementara sifat-
wujud ‘ilmi dan kecantikan-Nya yang (unity). 80 kemunculan a‘yan tsabitah, maka jadilah sifat-Nya sesungguhnya merupakan
berbentuk ijmali (umum). Dengan kata penampakan tahap kedua sebagai bentuk bayang-bayangan dari dzat-Nya yang
lain, penampakan (tajalli/ta‘ayyun) Berikutnya adalah martabat (shurah) dan hamba bagi kedua nama esa. Dari siklus ini dapat dipahami
yang muncul dalam diri Tuhan atau wahidiyyah. Mengenai martabat ini itu dan kedua nama itu sebagai rabb bahwa al-a‘yan al-tsabitah merupakan
ilmu-Nya bersifat umum (ijmali). Tajalli Syams al-Din menulis sebagai berikut: (Tuhan). 82 “pola-pola rancangan tetap dan lengkap
482 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 483

