Page 506 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 506

sebuah misi menyelamatkan akidah        muka, Hamzah adalah penganut ajaran                         diberikan adalah Huwa (Dia), tidak ada   dunia gejala ini, sehingga keduanya
            ummat Islam di sana, khususnya dan      wahdat al-wujud yang dikembangkan                           lain dari pada itu. Yang kedua adalah   merupakan suatu hakikat yang tidak
            Nusantara, umumnya, dari ajaran         oleh Ibn ‘Arabi. Konsep wujud dalam                         martabat Wahdah, atau yang disebut     dapat dipisahkan.”  Dengat kata lain,
                                                                                                                                                                        135
            sesat Wujudiyyah yang dibawa dan        pandangan Ibn ‘Arabi, dan juga Hamzah,                      juga dengan tajalli dalam zat, di mana   alam merupakan bayangan (zhill) dan
            dikembangkan oleh Hamzah Fansuri        adalah hakikat wujud sesungguhnya                           zat yang mutlak ini ber-tajalli pada   Allah ada dalam bayangan itu (imanen).
            dan Syams al-Din al-Sumatrani.          adalah satu (esa) pada esensinya,                           sifat dan asma-Nya. Martabat yang      Ajaran inilah yang ditolak oleh al-
            Untuk tujuan itu, tidak hanya jalan     namun banyak pada sifat dan namanya.                        ketiga disebut dengan tajalli di luar zat.   Raniri, yang berpendapat bahwa alam
            kekerasan yang ia tempuh, yaitu dengan   Dari segi esensi, hakikat yang esa                         Dengan tajalli ini, hakikat alam (a‘yan   sebagai bayangan Allah tidak bermakna
            membunuh para pemukanya dan             adalah Tuhan, dan aspek sifat (realitas                     tsabitah) memperoleh limpahan wujud    Allah imanen dalam alam. Baginya
            membakar kitab-kitab mereka di depan    empiris) ia (yang esa) itu adalah alam.                     melalui firman Kun, dan akhirnya ia    ini adalah sesat dan kufur. Jadi, dalam
            mesjid Baiturrahman,  akan tetapi       Oleh karena itu, “hakikat yang esa                          beralih menjadi realitas empiris. Ajaran   masalah ketuhanan perbedaan yang
                                129
            juga dalam bentuk perdebatan dengan     mengandung dalam dirinya hal-hal                            panteisme inilah yang dianut oleh      menonjol antara kedua tokoh ini berkisar
            para pemuka dan penganut aliran         yang berlawanan: Tuhan dan alam,                            Hamzah, yang berpandangan bahwa        mengenai Tuhan imanen dalam alam;
            Wujudiyyah ini dan sanggahan melalui    esa dan banyak, kadim dan baharu,                           Tuhan dan alam adalah suatu hakikat    dan topik ini mendominasi bahasan al-
            karya-karyanya.  Terdapat empat         awal dan akhir, lahir dan bathin.”                          yang tidak dapat dipisahkan, baik      Raniri dalam banyak karyanya.
                                                                                  132
                           130
            masalah utama dari ajaran Hamzah        Berangkat dari pemikiran ini, maka                          dalam martabat Ilahi maupun dalam
            yang mendapat kritikan tajam dari       Tuhan dilihat memiliki dua wujud, yaitu                     dunia empiris. Dengan kata lain, “Tuhan   Dalam membahas imanensi Tuhan
            al-Raniri. Yang pertama adalah ajaran   wujud hakiki (wujud zat) dan wujud                          berada dalam kandungan (imanen) alam   dalam alam ini, Hamzah sering
            Hamzah bahwa Tuhan imanen di alam       idhafi, yaitu wujud sifat atau realitas                     ini. 134                               menggunakan perumpamaan mengenai
            ini. Dengan kata lain, Tuhan merupakan   empiris. Wujud yang kedua inilah                                                                  hal ini dengan biji dan pohon. Respon
            hakikat fenomena alam empiris. Poin     yang disebut “bayangan bagi Tuhan                           Terdapat beberapa persamaan antara     al-Raniri terhadap hal ini dapat dilihat
            kedua adalah ajarannya bahwa nyawa      dan ia menjangkau segala fenomena,                          pemikiran Hamzah dengan al-Raniri.     dalam pernyataan beikut:
            bukan Khaliq dan juga bukan makhluk.    dan dengan nama Allah, Zhahir, ia                           Di antara persamaannya adalah          Maka sekarang kunyatakan pula
            Yang ketiga ialah ajaran Hamzah         memperoleh wujud dari-Nya.” 133                             keduanya sependapat bahwa alam         kepadamu setengah dari pada i‘tikad
            bahwa al-Qur’an adalah makhluk; dan                                                                 ini tidak memiliki wujud, yang ada     kaum wujudiyyah yang di bawah angin,
            yang keempat adalah ajarannya yang      Hamzah melukiskan wujud Tuhan                               hanya wujud Allah. Artinya, wujud      yaitu Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
            menegaskan bahwa nyawa berasal dari     dalam tiga martabat. Yang pertama                           yang hakiki adalah wujud Allah         Sumatrani dan segala yang mengikut
            Tuhan, dan kelak kembali kepada-Nya,    adalah martabat Ahadiyyah, atau yang                        semata, sementara wujud alam hanya     keduanya. Kata Hamzah Fansuri dalam
            bagaikan ombak kembali ke laut. 131     disebut juga dengan martabat zat.                           bayangan (zhill). Namun, keduanya
                                                    Tuhan digambarkan sebagai zat yang                          berbeda dalam memahami hakikat         kitabnya yang bernama Muntahi pada
            Poin pertama merupakan bahasan          mutlak, mujarrad dari nama dan sifat.                       ketidak-adaan wujud alam itu sendiri.   merencanakan sabda Nabi “man ‘arafa
            yang terpenting untuk dikaji karena     Ia tidak dapat dijangkau oleh akal                          Hamzah menafikan wujud alam, karena,   nafasahu ‘arafa rabbahu”, barang
            ia merupakan persoalan pokok.           dan ma‘rifat; dan tidak diketahui oleh                      menurutnya, “wujud Allah yang hakiki   siapa mengenal dirinya bahwasanya
            Sebagaimana yang telah disebut di       siapa pun. Nama satu-satunya yang                           ada dalam kandungan dan meliputi       ia mengenal Tuhannya; arti mengenal



         494    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   495
   501   502   503   504   505   506   507   508   509   510   511