Page 484 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 484
Syekh Nuruddin ar-Raniry.” Untuk ia merupakan hakikat alam empiris (al- Dalam sebuah ungkapannya Ibn dan mujarrad dari asma dan sifat-sifat.
36
memahami konsep wujudiyyah yang a‘yan al-tsabitah). Proses ini juga disebut ‘Arabi mengatakan: “Maha suci Allah Pada tataran ini nama satu-satunya
dikembangkan oleh Hamzah Fansuri, dengan ta‘ayyun awwal (kenyataan yang telah menjadikan segala sesuatu, yang diberikan adalah Huwa (Dia); akan
patut di sini dipaparkan secara pertama), di mana Zat yang mujarrad sedangkan Dia adalah Hakikatnya.” tetapi zat tersebut lebih tinggi dari pada
40
singkat konsep wahdat al-wujud yang tersebut ber-tajalli untuk pertama kali Dari perspektif ini, hakikat semesta namanya ini (Huwa). Mengenai hal ini,
dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi. dalam bentuk (shuwar) “sifat” dan (al-haqiqah al-kulliyyah) memiliki dua sisi, Hamzah menegaskan sebagai berikut:
“asma”. Namun, ia belum memiliki yaitu “Tuhan (al-Haqq) dan makhluq (al-
Ibn ‘Arabi mengembangkan ajaran wujud, karena yang ada hanya wujud khalq); Yang Esa dan yang banyak; Yang Tatkala bumi dan langit belum ada, ‘Arsy
bahwa wujud pada hakikatnya “satu”, Tuhan. Martabat ketiga adalah martabat Qadim dan yang baharu; Yang Bathin dan Kursi belum ada, syurga dan neraka
yaitu wujud Allah SWT yang mutlak, tajalli syuhud. Martabat ini juga dikenal dan yang Zhahir; Yang Awal (Pertama) belum ada, semesta sekalian alam pun
yang kemudian melakukan tajalli dengan faydh muqaddas (limpahan kudus) dan yang akhir.” Perbedaan antara belum ada, apa yang pertama? Yakni
41
(menampakkan diri) dalam tiga dan ta‘ayyun tsani (kenyataan kedua). kedua hal ini sesungguhnya terletak yang pertama Zat semata, sendiri-Nya,
martabat. Yang pertama adalah martabat Adalah melalui sifat-sifat dan asma- pada tanggapan akal, sementara dari tiada dengan sifat, dan tiada dengan
ahadiyyah, atau yang juga dikenal dengan Nya Allah ber-tajalli dalam kenyataan segi hakikat semua kenyataan adalah asma-Nya, itulah yang pertama. Ada pun
martabat zatiyyah. Dalam martabat ini empiris. Melalui firman Kun terjadi satu (haqiqah wahidah). Dengan kata lain, nama Zat itu Huwa. Makna Huwa itu
wujud Allah adalah Zat yang mutlak transformasi al-a‘yan al-tsabitah, yang akar tasawuf falsafi Ibn ‘Arabi adalah ismu isyaratin kepada Zat, tiada dengan
dan abstrak. Ia tidak bernama dan juga sebelumnya hanya berupa wujud “bahwa hakikat wujud ini adalah satu sifat. Ada pun nama “Allah” rendahnya
tidak bersifat. Oleh karena itu, Ia tidak potensial dalam sifat-siaf, asma, dan zat pada esensinya dan banyak pada sifat sepangkat dari pada nama Huwa. Tetapi
dapat dipahami dan dikhayalkan. Dalam Ilahi menjadi kenyataan aktual dalam dan maknanya.” Konsep ini merupakan nama “Allah” itu perhimpunan segala
42
pandangan Ibn ‘Arabi, Zat yang mutlak berbagai bentuk (shuwar) empiris. Oleh landasan pemikirannya tentang Tuhan, nama…. Ada pun Zat tinggi pula dari
ini tidak dapat dinamai dengan Tuhan. karena itu, alam ini merupakan wadah alam, manusia, dan hubungan antara ada nama Huwa itu. 43
37
Martabat kedua adalah wahidiyyah, yang (mazhhar) tajalli Ilahi. Ia merupakan ketiganya. Ungkapan ini bermakna bahwa Zat yang
juga dikenal dengan martabat tajalli atau “kumpulan dari [pada] fenomena sifat- mutlak ini berada di luar jangkauan
faydh al-aqdas (limpahan yang terkudus). sifat Allah dan eksistensi zat-Nya pada Konsep yang dianut oleh Ibn ‘Arabi, akal dan ma‘rifat; dan tidak seorang pun
Pada martabat ini, Zat yang abstrak dan alam ini… Dengan demikian semua tidak diragukan lagi, telah memberikan mengetahui-Nya, termasuk wali dan
mujarrad ber-tajalli melalui sifat-sifat kenyataan empiris adalah fenomena pengaruh fundamental terhadap Nabi sekali pun, sebuah pandangan
dan asma. Dengan tajalli ini, Zat yang sifat-sifat Allah…” 38 ajaran wujudiyyah yang dianut dan yang senada dengan ajaran Ibn ‘Arabi.
abstrak dan mujarrad tersebut dinamakan dikembangkan oleh Hamzah Fansuri.
“Allah.” Ia dipercayai sebagai Berangkat dari pandangan ini, Tuhan Sebagaimana halnya dengan Ibn ‘Arabi, Martabat yang kedua adalah apa yang
pengumpul dan pengikat sifat-sifat dan alam dilihat sebagai “dua sisi atau Hamzah juga mengembangkan teori disebut dengan martabat wahdah atau
dan nama-nama yang maha sempurna dua wajah dari satu hakikat”, di mana wujud dalam tiga martabat. Yang pertama martabat tajalli dalam zat. Pada martabat
39
(al-asma’ al-husna). Sifat-sifat dan asma yang pertama, dari segi lahir, disebut adalah martabat ahadiyyah. Martabat ini zat mutlak ber-tajalli pada sifat-sifat
tersebut, di satu sisi, indentik dengan dengan alam dan yang kedua, dari ini juga dikenal dengan martabat zat. dan asma-Nya; dan sifat-sifat tersebut
Zat Allah (‘ayn zat), namun di sisi lain segi hakikat, disebut dengan Tuhan. Tuhan merupakan zat yang mutlak identik dengan zat. Dalam konteks
44
472 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 473

