Page 480 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 480

iradah (kemampuan untuk berkehendak).   (3) kehidupan akhirat yang kekal dan                        segala kewajiban agama lainnya. Hal    seseorang kepada empat tingkatan, yaitu
            Kemampuan inilah yang ia gunakan        tak berakhir; dan (4) mengenai kematian                     ini tidak hanya didasarkan atas konsep   (1) para Nabi Allah, yang menempati
            untuk memilih apa yang diinginkan,      yang tengah dialami di dunia ini. 25                        kesatuan manusia dengan Tuhan          tingkat yang tertinggi sebagai penerima
            termasuk dalam memilih bersama                                                                      (manunggaling kaulo-Gusti atau wahdatul   menerima wahyu; (2) para wali, yakni
            Tuhan. Bila kebersamaan dengan Tuhan    Kehidupan di dunia ini, bagi Jenar,                         wujud), akan tetapi juga dilandasi atas   para ahli sufi yang telah mencapai
            yang ia pilih, maka secara otomatis     merupakan sebuah “kematian.” Artinya,                       konsep bahwa segala aturan syari‘at    tingkat ma‘rifat dan berada satu tingkat
            ia berperilaku sebagaimana yang         dunia ini sesungguhnya merupakan                            dalam Islam dibebankan kepada          di bawah kelas Nabi; (3) para ulama,
            dikehendaki oleh Tuhan, yaitu berbuat   alam kematian; dan ini bermakna bahwa                       manusia yang hidup, bukan kepada       yang mendapatkan ilmu dengan cara
            baik dan membersihkan diri dari         manusia yang hidup di dunia ini adalah                      mereka yang telah mati. Tentu, konsep   belajar; dan (4) orang-orang awam,
            kehidupan hawa nafsu duniawi yang       “mayit”. Karena kehidupan di dunia                          yang kedua ini kelihatannya tidak      yang memperoleh ilmu hanya dengan
            kotor. 23                               ini merupakan “kematian”, maka ia                           berbeda dengan ajaran dasar Islam      mengikuti pendapat para imam atau
                                                    bukan sebuah kehidupan yang sejati.                         bahwa aturan syari‘at dibebankan hanya   ulama (taqlid). Klasifikasi ini sejalan
            Terkait dengan kehidupan di dunia       Kematian merupakan awal dari sebuah                         kepada orang-orang yang masih hidup,   dengan tingkatan dalam ibadah dari
            ini, konsep yang ditawarkan sangat      kehidupan yang abadi.  Makna hidup                          bukan kepada mereka yang telah mati.   perspektif tasawuf, yaitu dari syari‘at
                                                                        26
            rumit dan tidak mudah untuk             di dunia sebagai “kematian” adalah                          Namun, ia sangat berbeda dengan        pada tingkat yang terendah, dan
            dipahami. Persoalan ini sesungguhnya    kematian yang singgah sebentar dalam                        kepercayaan yang dianut oleh Siti Jenar.   meningkat kepada tingkatan-tingkatan
            terkait dengan kebenaran “intuitif”     jasad manusia. Manusia cenderung                            Perbedaan terletak pada “makna” yang   berikutnya, yaitu dengan tarikat, hakikat
            yang merupakan dasar dari setiap        tidak menyadari bahwa kehidupan                             diberikan terhadap “hidup” dan “mati”   dan ma‘rifat. Bila syari‘at dibutuhkan
            perilaku manusia, yang diraih hanya     ini merupakan sebuah kematian,                              itu sendiri. Karena, menurut Siti Jenar,   oleh orang awam, tarikat diperlukan oleh
            ketika manusia mampu mewujudkan         sehingga ia cenderung terperangkap                          kehidupan di dunia ini merupakan       kalangan ulama; sementara hakikat dan
            “kesadaran” diri. Bagaimana pandangan   dalam godaan duniawi. Oleh karena                           kematian, maka tidak ada kewajiban     ma‘rifat merupakan capaian kelas para
            ini dijelaskan kelihatannya perlu       itu yang diharapkan, menurut Jenar,                         dalam melaksanakan aturan syari‘at     wali dan Nabi. Dari perspektif inilah
            pengkajian filosofis yang mendalam.     adalah mengkahiri kematian yang                             di dunia yang mati ini. Kewajiban      Siti Jenar menegaskan bahwa kalangan
            Ajaran Jenar yang sarat dengan          dialami di dunia ini dan menempuh                           menjalankan aturan syari‘at berlaku    awam hanya berada pada tataran syari‘at,
            pengalaman kerohanian yang subjektif    jalan kehidupan yang abadi;  dan hal                        setelah manusia menemui ajal.  Poin    yaitu dengan menjalankan semua ajaran
                                                                             27
                                                                                                                                           28
            menyisakan banyak pertanyaan,           ini terjadi ketika roh telah berpisah dari                  ini perlu mendapat perhatian untuk     Islam; sementara dirinya telah mencapai
            karena tergolong ke dalam pengalaman    jasad.                                                      dikaji lebih lanjut dan mendalam, karena   tingkat wali, nabi dan bahkan bersatu
            ketuhanan yang abstrak, non-empiris                                                                 terlihat adanya paradoks dengan konsep   dengan Tuhan (manunggaling kawulo-
            dan bahkan non-akali.  Memang, ajaran   Konsep ini juga memiliki dampak                             kewajiban syari‘at bagi masyarakat     Gusti), yang menjadi alasan baginya
                                24
            Jenar lebih fokus pada dimensi “bathini,”   terhadap kewajiban dalam                                awam.                                  untuk tidak perlu menjalankan syari‘at. 29
            bukan lahiri. Kepada para sahabatnya    melaksanakan aturan syari‘at. Siti
            Jenar memberikan beberapa petuah,       Jenar menegaskan bahwa ia tidak                             Syekh Siti Jenar kelihatannya          Syekh Siti Jenar juga mengajarkan
            termasuk (1) penguasaan hidup; (2)      berkewajiban melaksanakan ajaran                            mengadopsi pemikiran Imam al-Ghazali   ajaran rahasia yang digunakan sebagai
            pengetahuan mengenai pintu kehidupan;   syari‘at, termasuk shalat, puasa dan                        dalam melihat peringkat keimanan       cara menuju Allah SWT secara cepat



         468    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   469
   475   476   477   478   479   480   481   482   483   484   485