Page 485 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 485

Syekh Nuruddin ar-Raniry.”  Untuk   ia merupakan hakikat alam empiris (al-  Dalam sebuah ungkapannya Ibn   dan mujarrad dari asma dan sifat-sifat.
 36
 memahami konsep wujudiyyah yang   a‘yan al-tsabitah). Proses ini juga disebut   ‘Arabi mengatakan: “Maha suci Allah   Pada tataran ini nama satu-satunya
 dikembangkan oleh Hamzah Fansuri,   dengan ta‘ayyun awwal (kenyataan   yang telah menjadikan segala sesuatu,   yang diberikan adalah Huwa (Dia); akan
 patut di sini dipaparkan secara   pertama), di mana Zat yang mujarrad   sedangkan Dia adalah Hakikatnya.”    tetapi zat tersebut lebih tinggi dari pada
                                            40
 singkat konsep wahdat al-wujud yang   tersebut ber-tajalli untuk pertama kali   Dari perspektif ini, hakikat semesta   namanya ini (Huwa). Mengenai hal ini,
 dikembangkan oleh Ibn ‘Arabi.  dalam bentuk (shuwar) “sifat” dan   (al-haqiqah al-kulliyyah) memiliki dua sisi,   Hamzah menegaskan sebagai berikut:
 “asma”. Namun, ia belum memiliki   yaitu “Tuhan (al-Haqq) dan makhluq (al-
 Ibn ‘Arabi mengembangkan ajaran   wujud, karena yang ada hanya wujud   khalq); Yang Esa dan yang banyak; Yang   Tatkala bumi dan langit belum ada, ‘Arsy
 bahwa wujud pada hakikatnya “satu”,   Tuhan. Martabat ketiga adalah martabat   Qadim dan yang baharu; Yang Bathin   dan Kursi belum ada, syurga dan neraka
 yaitu wujud Allah SWT yang mutlak,   tajalli syuhud. Martabat ini juga dikenal   dan yang Zhahir; Yang Awal (Pertama)   belum ada, semesta sekalian alam pun
 yang kemudian melakukan tajalli   dengan faydh muqaddas (limpahan kudus)   dan yang akhir.”  Perbedaan antara   belum ada, apa yang pertama? Yakni
                           41
 (menampakkan diri) dalam tiga   dan ta‘ayyun tsani (kenyataan kedua).   kedua hal ini sesungguhnya terletak   yang pertama Zat semata, sendiri-Nya,
 martabat. Yang pertama adalah martabat   Adalah melalui sifat-sifat dan asma-  pada tanggapan akal, sementara dari   tiada dengan sifat, dan tiada dengan
 ahadiyyah, atau yang juga dikenal dengan   Nya Allah ber-tajalli dalam kenyataan   segi hakikat semua kenyataan adalah   asma-Nya, itulah yang pertama. Ada pun
 martabat zatiyyah. Dalam martabat ini   empiris. Melalui firman Kun terjadi   satu (haqiqah wahidah). Dengan kata lain,   nama Zat itu Huwa. Makna Huwa itu
 wujud Allah adalah Zat yang mutlak   transformasi al-a‘yan al-tsabitah, yang   akar tasawuf falsafi Ibn ‘Arabi adalah   ismu isyaratin kepada Zat, tiada dengan
 dan abstrak. Ia tidak bernama dan juga   sebelumnya hanya berupa wujud   “bahwa hakikat wujud ini adalah satu   sifat. Ada pun nama “Allah” rendahnya
 tidak bersifat. Oleh karena itu, Ia tidak   potensial dalam sifat-siaf, asma, dan zat   pada esensinya dan banyak pada sifat   sepangkat dari pada nama Huwa. Tetapi
 dapat dipahami dan dikhayalkan. Dalam   Ilahi menjadi kenyataan aktual dalam   dan maknanya.”  Konsep ini merupakan   nama “Allah” itu perhimpunan segala
                           42
 pandangan Ibn ‘Arabi, Zat yang mutlak   berbagai bentuk (shuwar) empiris. Oleh   landasan pemikirannya tentang Tuhan,   nama…. Ada pun Zat tinggi pula dari
 ini tidak dapat dinamai dengan Tuhan.    karena itu, alam ini merupakan wadah   alam, manusia, dan hubungan antara   ada nama Huwa itu. 43
 37
 Martabat kedua adalah wahidiyyah, yang   (mazhhar) tajalli Ilahi. Ia merupakan   ketiganya.  Ungkapan ini bermakna bahwa Zat yang
 juga dikenal dengan martabat tajalli atau   “kumpulan dari [pada] fenomena sifat-  mutlak ini berada di luar jangkauan
 faydh al-aqdas (limpahan yang terkudus).   sifat Allah dan eksistensi zat-Nya pada   Konsep yang dianut oleh Ibn ‘Arabi,   akal dan ma‘rifat; dan tidak seorang pun
 Pada martabat ini, Zat yang abstrak dan   alam ini… Dengan demikian semua   tidak diragukan lagi, telah memberikan   mengetahui-Nya, termasuk wali dan
 mujarrad ber-tajalli melalui sifat-sifat   kenyataan empiris adalah fenomena   pengaruh fundamental terhadap   Nabi sekali pun, sebuah pandangan
 dan asma. Dengan tajalli ini, Zat yang   sifat-sifat Allah…” 38  ajaran wujudiyyah yang dianut dan   yang senada dengan ajaran Ibn ‘Arabi.
 abstrak dan mujarrad tersebut dinamakan   dikembangkan oleh Hamzah Fansuri.
 “Allah.” Ia dipercayai sebagai   Berangkat dari pandangan ini, Tuhan   Sebagaimana halnya dengan Ibn ‘Arabi,   Martabat yang kedua adalah apa yang
 pengumpul dan pengikat sifat-sifat   dan alam dilihat sebagai “dua sisi atau   Hamzah juga mengembangkan teori   disebut dengan martabat wahdah atau
 dan nama-nama yang maha sempurna   dua wajah dari satu hakikat”,  di mana   wujud dalam tiga martabat. Yang pertama   martabat tajalli dalam zat. Pada martabat
 39
 (al-asma’ al-husna). Sifat-sifat dan asma   yang pertama, dari segi lahir, disebut   adalah martabat ahadiyyah. Martabat   ini zat mutlak ber-tajalli pada sifat-sifat
 tersebut, di satu sisi, indentik dengan   dengan alam dan yang kedua, dari   ini juga dikenal dengan martabat zat.   dan asma-Nya; dan sifat-sifat tersebut
 Zat Allah (‘ayn zat), namun di sisi lain   segi hakikat, disebut dengan Tuhan.   Tuhan merupakan zat yang mutlak   identik dengan zat.  Dalam konteks
                                                                     44


 472  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   473
   480   481   482   483   484   485   486   487   488   489   490