Page 479 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 479

dengan Tuhan (manunggaling kawulo-  jelmaan dari Zat Tuhan, sementara raga   meskipun manusia terdiri dari unsur   hanya dapat muncul berasamaan dengan
 Gusti). Bagi Jenar, Tuhan (Hyang Widi)   merupakan wujud luar dari jiwa yang   ketuhanan (jiwa yang merupakan   munculnya kesadaran subjek terhadap
 merupakan Wujud yang tidak dapat   dilengkapi dengan pancaindera dan   jelmaan Tuhan) namun ia harus berjuang   objek itu sendiri. Oleh karena itu, Jenar
 dilihat dengan kasat mata. Ia memiliki   unsur fisik lainnya. Sebagai jelmaan   dalam melakukan perlawanan terhadap   percaya bahwa pengetahuan tentang
 dua puluh sifat, termasuk di antaranya   Tuhan, jiwa merupakan suara hati yang   nafsu rendah badani yang bersemayam   kebenaran ketuhanan akan muncul
 sifat wujud (ada), tidak bermula dan tidak   harus diikuti dan dituruti perintahnya.   dalam dirinya. Upaya sungguh-  secara bersamaan dengan munculnya
 berakhir, tidak serupa dengan hal-hal   Ia merupakan ungkapan dari kehendak   sungguh inilah yang ia sebut dengan   kesadaran tersebut pada diri manusia.
                                                                                      20
 yang baharu. Kedua puluh sifat tersebut   Tuhan itu sendiri. Di sinilah, menurut   jihad akbar. Dalam hal ini peran akal   Kebenaran sejati bukan berada di
 terhimpun menjadi satu wujud mutlak   Jenar, terletak perbedaan jiwa dengan   sangat penting, meskipun menurutnya   alam ini, akan tetapi ia berada sangat
 yang disebut dengan Zat (Allah).    akal. Bila kebenaran jiwa dapat dipercaya   akal ini tidak dapat dipercaya penuh   dekat, yaitu lebih dekat dari urat leher
 16
 Jenar menegaskan bahwa di samping   sehingga harus ditaati, maka kehendak   karena karakternya yang senantiasa   manusia. Untuk itu ia menganjurkan
 tidak dapat dilihat, Wujud Zat (Allah)   akal tidak sepenuhnya dapat diakui   berubah. Akal, menurut Jenar, dapat   manusia untuk mencari kebenaran
 merupakan sebuah nama yang asing dan   kebenarannya, karena ia merupakan   bermakna budi eling, namun di pihak lain   sejati di tengah-tengah kehidupan; dan
 sulit untuk dipahami. Hanya tanda-  kehendak, angan-angan dan ingatan   ia bermakna kehendak, angan-angan   hanya melalui ilmu hikmah dan ‘irfan
 tanda dari Wujud-Nya yang dapat dilihat   yang sifatnya senantiasa berubah. Jiwa,   dan ingatan. Akal dalam makna yang   kebenaran sejati dapat diraih. 21
 di alam nyata, yang dimanifestasikan   yang berasal dari Tuhan ini, bersifat   pertama dapat dipercaya; sementara
 dalam wujud alam dan manusia. Dalam   kekal (abadi). Tidak demikian halnya   akal dalam makna yang kedua perlu   Dalam memahami peran sebagai khalifah
 hal ini kelihatannya pemikiran Jenar   dengan akal, yang hancur setelah   dicurigai, karena ia selalu berubah dan   Allah fi al-ardh (wakil Allah di muka
 memiliki kemiripan dengan konsep   kematian. Dengan kematian, jiwa   cenderung mendorong manusia untuk   bumi), manusia memiliki kebebasan
 tajalli, di mana segala mawjud di alam ini   melepaskan diri dari kehidupan duniawi   melakukan tindakan kejahatan.  Makna   dalam berkehendak (iradah); dan dengan
                                        19
 merupakan penampakan dari Zat Allah;   dan belenggu badan manusia.  Pada saat   akal dari perspektif yang pertamalah   demikian ia bertanggungjawab terhadap
 18
 dan manusia merupakan jelmaan dan   itulah jiwa kembali bersatu dengan Zat   yang senantiasa dapat diperankan.  segala tindakan dan perilakunya.
 perwujudan dari Hyang Widi (Tuhan)   Tuhan (manunggaling) dalam keabadian.  Namun, ketika Allah telah bersama
 yang Maha Sempurna. 17  Ketika berbicara mengenai peran akal,   manusia, maka segala tindakan
 Dalam melihat manusia sebagai makhluk   Jenar juga memberikan tekanan pada   manusia senantiasa berada di bawah
 Manusia, dalam pandangan Jenar,   yang sempurna (kamil), Jenar cenderung   “kesadaran” diri manusia itu sendiri   kendali Tuhan, dan juga cenderung
 merupakan makhluk Allah yang   realistis, di mana ia menekankan peran   untuk memperoleh pengetahuan.   berbuat baik dan mensucikan diri dari
 sempurna, yang merupakan jelmaan   manusia sebagai wakil Allah di muka   Menurutnya, penyadaran diri berakibat   kehidupan hawa nafsu duniawi yang
 Tuhan dan memiliki ruh Ilahiyah. Dengan   bumi (khalifah Allah fi al-ardh) dengan   pada munculnya pengetahuan. Ia   kotor.  Di sini terlihat peran manusia
                                                         22
 demikian, manusia juga memiliki   tugas untuk memakmurkannya. Dalam   menegaskan bahwa kebenaran yang   sebagai khalifah Allah yang diberi akal
 sifat-sifat ketuhanan. Inilah kehebatan   hal ini, manusia harus menyadari betul   diperoleh melalui pancaindera, akal   dalam berperilaku yang baik menurut
 manusia. Jenar percaya bahwa manusia   akan kewajibannya untuk berpegang   dan intuisi adalah sama dengan proses   dirinya dan sikap bertanggungjawab.
 memiliki dua unsur utama, yaitu   kepada syari‘at Ilahiyah melalui Sabda   mengetahui wahyu yang berbentuk   Artinya, manusia diberi qudrah
 “jiwa” dan “tubuh” (raga). Jiwa adalah   Nabi Muhammad SAW. Untuk itu,   intuitif; dan pengetahuan intuitif ini   (kemampuan untuk bertindak) dan



 466  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   467
   474   475   476   477   478   479   480   481   482   483   484