Page 475 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 475

Meskipun penguasa di Melaka, Aceh,   ditafsirkan isinya oleh seorang ulama   juga terlibat dalam perdebatan hangat   dalam diskursus keislaman. Barangkali,
 dan Mataram sama-sama menggunakan   Pasai, yang bernama Makhdum Patakan.   mengenai topik teologis ini.  Paman   yang lebih menonjol dalam hal ini adalah
                                     10
 gelar khalifah Allah, namun makna dan   Sultan Melaka berikutnya, Mahmud   al-Raniri, Syaikh Muhammad Jilani   diskursus hubungan antara tasawuf dan
 peran masing-masing mereka bervariasi   Syah (wafat 1528), juga mengirim sebuah   b. Hasan b. Muhammad, yang bukan   syari‘ah. Meskipun ia merupakan ajaran
 antara satu dengan yang lainnya.  misi ke Pasai di bawah pimpinan Tun   ahli ilmu tasawuf, harus bertolak ke   mendasar dalam Islam, kelihatannya,
 Muhammad untuk mencari jawaban   Mekah untuk mendalami ilmu tasawuf   diskursus fiqh dan ushul al-fiqh dimaksud
 Diskursus pemikiran Islam di kawasan   beberapa pertanyaan ilmu kalam   karena adanya tuntutan yang besar   hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar
 ini lebih didominasi oleh isu tasawuf   (teologi). 9  di Aceh agar ia juga mengajar ilmu   peribadatan dan mu‘amalah umat Islam.
 falsafi, baik itu heterodoks maupun   tasawuf. Setelah beberapa tahun berada   Kita juga belum menemukan diskursus
 ortodoks (ahl al-sunnah wa al-jama‘ah),   Diskursus ilmu kalam terus   di Mekah, ulama ini kembali ke Aceh   mengenai “adat” versus “hukum Islam”
 ilmu kalam (teologi), dan politik Islam.   menggelinding memasuki kawasan   pada masa pemerintahan Sultan ‘Ala’   ketika itu, meskipun praktik keterkaitan,
 Hal ini ditunjukkan oleh realitas   kerajaan Aceh Dar al-Salam pada   al-Din Ri‘ayat Syah (berkuasa 1586-1589)   dan bahkan komporomi, antara “adat”
 historis masyarakat Islam di kawasan   abad ke-16. Nur al-Din al-Raniri   untuk mengajar ilmu tasawuf. Menurut   dan “hukum Islam” dapat dicermati di
 ini. Ketertarikan penguasa terhadap   menginformasikan di dalam karyanya,   al-Raniri, pamannya inilah yang berhasil   berbagai kerajaan ketika itu, namun ia
 diskursus keislaman telah disaksikan   Bustan al-Salathin, bahwa di antara para   menyelesaikan perdebatan mengenai al-  belum muncul sebagai sebuah diskursus
 oleh Ibn Battutah di kerajaan Pasai   ulama dari Timur Tengah, dan termasuk   a‘yan al-tsabitah, sebuah topik perdebatan   pemikiran yang utuh dan sistematis.
 pada tahun 746 H (1345 M) dan 747   dari India, yang berkarir di Aceh pada   teologis yang kontroversial yang tidak   Karya fiqh al-Raniri, yang berjudul
 H (1346 M) di mana ia menemukan   abad ke-16 adalah seorang ulama dari   dapat diselesaikan sebelumnya. 11  al-Shirat al-Mustaqim, merupakan
 bahwa penguasanya, al-Malik al-Zhahir,   Mekah yang bernama Syaikh Abu al-  sebuah karya yang sederhana sebagai
 adalah seorang muslim yang taat dan   Khayr b. Syaikh b. Hajr. Ia datang ke   Apa yang dapat dipahami dari realitas   tuntunan (manual) bagi umat Islam
 rutin melakukan kajian keislaman   kerajaan ini pada masa pemerintahan   sejarah ini adalah bahwa topik ilmu   dalam peribadatan; sementara karya fiqh
 di istana dan masjid. Bahkan, pada   Sultan ‘Ala’ al-Din (berkuasa 1579-1586)   tasawuf dan ilmu kalam lebih populer   ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili, yang berjudul
 masanya kerajaan ini didatangi dua   di mana ia mengajar materi-materi   di kawasan ini, baik di Pasai, Melaka,   Mir’at al-Thullab fi Tashil Ma‘rifat al-
 ulama ahli ilmu kalam dari Persia, yaitu   keislaman, terutama hukum Islam   Aceh, dan terlebih lagi di kalangan   Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahhab,
 Qadhi Syarif Amir Sayyid dari Syiraz   (fiqh). Namun, ia juga merupakan   masyarakat Islam di Jawa. Dengan   merupakan karya yang berorientasi pada
 dan Taj al-Din dari Isfahan. Sultan   penulis sebuah karya ilmu kalam yang   kata lain, diskursus dan kontroversi   bidang mu‘amalah dan menjadi panduan
 ini juga dikatakan oleh Ibn Battutah   berjudul Sayf al-Qathi‘. Dalam karyanya   mengenai topik tasawuf falsafi dan   bagi para parktisi hukum Islam ketika itu.
 berpartisipasi dalam kajian keislaman.    ini ia mengangkat perdebatan teologis   ilmu kalam sangat terlihat di Asia
 8
 Sejarah juga menunjukkan bahwa   mengenai al-a‘yan al-tsabitah, yang   Tenggara. Meskipun fiqh dan ushul al-fiqh   Aspek pemikiran keagamaan (Islam)
 Melaka, pada masa pemerintahan Sultan   nantinya menjadi topik perdebatan   merupakan materi keislaman yang juga   lain yang patut diangkat di sini adalah
 Mansur Syah (wafat 1477), pernah   hangat di kalangan ulama di kawasan   diajarkan oleh para ulama, termasuk   dimensi politik. Meskipun “pemikiran
 mengirim sebuah kitab ilmu kalam   ini. Pada waktu yang sama, kerajaan ini   mereka yang datang dari Timur Tengah   politik” dibahas dalam bagian
 yang berbahasa Arab yang berjudul   juga dikunjungi oleh seorang ulama dari   dan India, namun kelihatannya tidak ada   tersendiri dalam buku ini, namun
 al-Durr al-Manzum ke Pasai agar dapat   Yaman, yaitu Muhammad Yamani, yang   pemikiran hukum Islam yang muncul   pemikiran politik yang dikaitkan



 462  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   463
   470   471   472   473   474   475   476   477   478   479   480