Page 138 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 138
yang sangat dekat denganku. Dalam beberapa hari ini kami
selalu besama, berpegangan tangan, bahkan tekadang saling
berpelukan. Andai mereka positif, aku pun pasti ikut terbawa.
Uji swab ini yang sangat aku takutkan. Apalagi kalau hasilnya
positif. Tak terbayangkan bagaimana rentetan masalah
berikutnya.
“Mama ini kenapa?” Lamunanku buyar karena teguran
lembut dari suami. Aku duduk sendirian di taman samping
rumah. Aku berpikir untuk mulai mengisolasi diri. Seandainya
aku positif aku tak ingin suami dan anak‐anak ikut tertular.
“Papa, jangan mendekat.” Spontan aku berteriak ketika
suamiku mendekat. Kulihat ekspresi tercengang di wajahnya,
lalu tertawa.
“Ini serius lho, Pa, Mama nggak ingin Papa ikut terpapar,”
jelasku penuh kesungguhan.
“Memangnya Mama positif covid‐19?” tanya suamiku
sambil tertawa. Dia seperti tidak percaya padaku.
“Mungkin saja, Pa,” jawabku singkat dengan perasan
pilu. Suamiku hanya melongo mendengarnya. Aku tertunduk
dengan pikiran‐pikiran kalut yang menghantui.
***
Malam makin larut, tapi mataku masih enggan terpicing.
Di kamar ini, aku sendiri dengan pikiran dan perasaan yang
kian tersiksa. Akankah aku bernasib seperti yang diberitakan
selama ini? Mengakhiri hidup karena tertular virus korona.
Meninggalkan orang‐orang tercinta tanpa bisa berbuat apa‐
apa? Berbagai bayangan kelam menghantui hingga ujung
malam. Aku menjadi pusing. Panas tubuhku makin
126 | 80 Cerpenis MediaGuru

