Page 141 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 141
depan. Di sanalah aku duduk. Bel pun berbunyi, pelajaran
demi pelajaran kami lalui. Bel pulang pun terdengar.
“Nay, ayo pulang,” ajakanku kepada Nayla yang duduk
diam di bangkunya.
“Kamu pulang duluan,” jawabnya sambil menatap ke
arahku.
“Ya, kamu nanti pulangnya hati hati. Jangan sampai
terlambat.” Saranku sambil membereskan buku‐buku yang
ada di meja.
“Eh, aku pulang bareng kamu saja, Ta,” pinta Nayla.
“Ayo,” jawabku.
Kami pun segera pulang menuju asrama. Sesampainya di
kamar kami segera salat Zuhur berjamaah dan istirahat.
“Ta, aku tadi dilihat kakak di kamar sebelah. Aku tambah
nggak betah,” ucapnya dangan nada memelas sambil duduk
di lantai.
“Biar saja, Nay, nanti juga capek sendiri. Aku juga nggak
tau apa kesalahanmu,” jawabku sambil menatap Nayla.
“Tapi tetap saja aku ingin pindah,” ucapnya lagi.
“Bagaimana kalau kita tanya kepada kakak apa
kesalahanmu?” tanyaku pada Nayla.
“Nggak usah dibahas lagi,” jawabnya lagi.
Selasa malam biasanya aktivitas kami tidak begitu padat
seperti hari‐hari biasanya. Aku dan Nayla duduk di balkon
kamar sambil melihat langit gelap yang ditaburi bintang.
“Nay, ayo ikut aku ke kamar sebelah,” ajakku kepada
Nayla yang masih menatap langit malam.
“Assalamualaikum,” salamku kepada para penghuni
kamar.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 129

