Page 142 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 142
“Waalaikumusalam, silakan masuk,” jawab seseorang
yang sedang tidak melakukan aktivitas apa pun.
Aku dan Nayla langsung masuk dan duduk di lantai
kamar.
“Ada urusan apa ya?” tanyanya kepadaku.
“Aku mau tanya, kenapa teman Kakak melihat sinis
kepada Nayla. Dia ‘kan jadi takut, Kak?” tanyaku kepada Kak
Lili.
“O, Rissa sama Nesya seperti itu karena Nayla mirip
dengan orang yang tidak mereka sukai,” jawab Kak Lili sambil
tersenyum ke arah kami.
“Kupikir apa kesalahan Nayla, Kak. Kak Rissa sama Kak
Nesya sekarang di mana?” tanyaku dengan heran.
“Mereka lagi ke kantin. Maafkan teman‐teman Kakak ya,”
pintanya dengan ikhlas.
“Ya, Kak, aku maafkan,” jawab Nayla.
Kami pun pamit untuk kembali ke kamar.
***
Tak terasa tiga tahun telah kami lewati. Seperti biasa aku
duduk berdua dengan Nayla di balkon depan kamar di temani
semilir angin bulan April dan gemerlap cahaya bintang.
Malam ini adalah malam terahir aku berada di sini. Besok aku
akan pulang ke rumah dan melanjutkan pendidikan,
sedangkan Nayla memutuskan untuk tetap berada di sini,
mengabdi di asrama.
“Nay, apakah masih ingat kalau dulu kamu tidak mau
tinggal di sini?” tanyaku pada Nayla.
“Ya, aku masih ingat. Tak terasa waktu terasa cepat
berlalu,” jawabnya.
130 | 80 Cerpenis MediaGuru

