Page 144 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 144
Amplas
Oleh: Kholipah
S
inar matahari menerobos jendela. Mencecah mata,
menandakan hari tak lagi pagi. Aku bangkit dari
pembaringan. Badanku terasa remuk. Aku tidak tahu
pukul berapa tertidur. Langkahku sempoyongan menuju
dapur. Perutku membunyikan irama keroncong karena lapar.
Kubuka penanak nasi, tinggal kerak yang kering. Kuangkat
tudung saji di meja makan, tampak piring kosong bekas
makanan yang sudah berapa hari tidak dicuci. Kulempar
tudung saji dengan perasaan marah.
Aku melihat di ruang belakang mama seakan tidak perduli
dengan apa pun. Mama terus saja menggosok kayu untuk
bahan mebel dengan amplas. Pekerjaan ini biasa mama
lakukan mulai pukul 04.00 tanpa mengerjakan perkerjaan
rumah. Mama akan mengamplas dan terus mengamplas.
Mama perempuan cantik dan lembut. Lelaki bejat seperti
papa yang membuat mama menjadi orang setengah tak
waras, bahkan kadang beringas. Usaha mebel yang dirintis
mama limbung karena keuangan perusahaan dikuras papa
untuk mabuk dan berjudi. Hal ini diperparah dengan menebus
papa beberapa kali di kantor polisi karena kasus narkoba.
Aku tahu mama sudah berjuang keras demi kami, tapi aku
tidak peduli. Kenapa aku harus ikut memikirkan keadaan
keluarga. Aku juga butuh hak untuk diperhatikan, diberi kasih
sayang sebagai seorang anak. Pembenaran yang sering ada
132 | 80 Cerpenis MediaGuru

